Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 557 tentang Perbandingan umat Islam dengan umat sebelumnya dan keutamaan pahala mereka

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah perumpamaan indah dari Nabi ﷺ tentang keutamaan umat Islam dibandingkan umat sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa meskipun masa hidup umat Islam lebih pendek dibandingkan umat-umat dahulu, pahala yang Allah berikan jauh lebih besar karena kemuliaan Al-Qur'an dan keimanan mereka. Hadits ini juga mengajarkan kita untuk tidak iri pada kenikmatan orang lain, karena semua adalah karunia Allah yang diberikan sesuai kehendak-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Waktu Shalat, Bab "Siapa yang Mendapatkan Satu Rakaat dari Shalat Ashar Sebelum Matahari Terbenam", nomor 557, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.

Terdapat juga riwayat lain dalam Shahih Al-Bukhari nomor 2268 dan 5021, serta dalam Shahih Muslim nomor 1966 dari jalur periwayatan yang berbeda.

Ayat yang relevan dengan makna hadits ini adalah firman Allah Ta'ala:

QS. Al-Baqarah [2]: 148

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۚ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Dan bagi setiap umat ada kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, Allah pasti akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Juga firman Allah Ta'ala tentang karunia-Nya:

QS. Al-Jumu'ah [62]: 4

ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

"Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang besar."

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

1. Perumpamaan Waktu dan Keutamaan Umat Islam

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul-Bari menjelaskan bahwa perumpamaan dalam hadits ini menunjukkan bahwa umat Islam adalah umat yang paling akhir datangnya, namun paling utama di sisi Allah. Sebagaimana waktu antara Ashar dan Maghrib adalah waktu yang singkat namun penuh berkah, demikian pula umat Islam yang masa hidupnya lebih pendek dari umat-umat sebelumnya namun diberi pahala berlipat ganda.

2. Makna Qirat

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa qirat adalah ukuran pahala yang diketahui oleh Allah, dan perumpamaan ini bukanlah pembatasan yang hakiki, melainkan untuk mendekatkan pemahaman. Satu qirat bagi umat terdahulu dan dua qirat bagi umat ini adalah karunia Allah yang tidak bisa diukur dengan ukuran duniawi.

3. Keutamaan Al-Qur'an dan Iman

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa keutamaan umat ini bukanlah karena amal mereka lebih banyak secara kuantitas, tetapi karena kemuliaan kitab yang mereka bawa (Al-Qur'an) dan keikhlasan serta kesempurnaan iman mereka. Al-Qur'an adalah kitab yang paling agung dan paling sempurna, maka pahala pengamalnya pun dilipatgandakan.

4. Pelajaran tentang Qadar dan Karunia Allah

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa ketika ahli kitab protes kepada Allah, jawaban Allah "Itu adalah karunia-Ku, Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki" menunjukkan bahwa pahala adalah hak prerogatif Allah. Tidak ada seorang pun yang bisa menuntut Allah, karena semua adalah karunia-Nya semata.

5. Hikmah dari Sisi Fiqih Waktu

Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam bab tentang keutamaan mendapatkan satu rakaat Ashar sebelum matahari terbenam. Ini menunjukkan bahwa waktu Ashar adalah waktu yang sangat berharga, dan siapa yang mendapatkan satu rakaat saja di dalamnya sebelum terbenam matahari, maka ia telah mendapatkan shalat Ashar secara utuh. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadits lain: "Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari shalat Ashar sebelum matahari terbenam, maka ia telah mendapatkan shalat Ashar." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

6. Pelajaran tentang Keikhlasan dan Keteguhan

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa umat-umat terdahulu "kehabisan tenaga" (عجزوا) di tengah perjalanan mereka, artinya mereka tidak mampu bertahan dalam ketaatan karena kitab mereka telah diubah dan hati mereka mengeras. Adapun umat Islam, mereka diberikan keteguhan hingga akhir waktu karena kemuliaan Al-Qur'an yang terjaga.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma mendengar hadits ini dari ayahnya, Umar bin Khathab, beliau sangat terkesan dengan keutamaan umat Islam. Dalam riwayat lain, ketika para sahabat mendengar perumpamaan ini, mereka bersyukur kepada Allah atas karunia yang begitu besar.

Ada kisah tentang seorang ulama salaf yang ketika membaca hadits ini, beliau menangis dan berkata: "Betapa mulianya umat ini di sisi Allah. Masa mereka singkat, namun pahala mereka berlipat. Ini semua karena kemuliaan Nabi mereka Muhammad ﷺ dan kemuliaan kitab mereka Al-Qur'an."

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata tentang umat ini: "Kami adalah umat yang paling akhir di dunia dan paling awal di hari kiamat." Ini menunjukkan bahwa meskipun umat Islam datang terakhir, mereka akan dipersaksikan lebih dahulu di hadapan Allah sebagai saksi atas umat-umat sebelumnya.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersyukurlah menjadi bagian dari umat Islam - Kita diberi karunia yang lebih besar dibanding umat sebelumnya meskipun amal kita mungkin lebih sedikit secara kuantitas. Ini adalah karunia Allah yang tidak bisa dituntut oleh siapa pun.
  2. Jangan iri pada kenikmatan orang lain - Sebagaimana ahli kitab protes kepada Allah, kita diajarkan untuk menerima ketentuan Allah dengan ridha. Semua adalah karunia-Nya.
  3. Manfaatkan waktu yang singkat dengan amal terbaik - Sebagaimana waktu Ashar yang singkat namun berharga, hidup kita di dunia ini singkat. Maka perbanyaklah amal shalih dan jangan menunda-nunda kebaikan.
  4. Jaga kemuliaan Al-Qur'an - Karena kemuliaan umat ini berasal dari Al-Qur'an, maka perbanyaklah membaca, memahami, dan mengamalkannya.
  5. Raih keutamaan shalat Ashar - Jangan sampai kita melewatkan shalat Ashar, karena waktu ini sangat istimewa dan menjadi saksi bagi amal kita di siang hari.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.