Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 554 tentang Menjaga shalat Fajr dan Ashar untuk melihat Allah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu dalil utama tentang keutamaan shalat Subuh dan shalat Ashar. Nabi ﷺ mengaitkan penjagaan dua shalat ini dengan kemuliaan melihat Allah ﷻ di akhirat kelak. Beliau mengumpamakan melihat Allah nanti seperti kita melihat bulan purnama dengan jelas, tanpa keraguan dan tanpa berdesak-desakan. Ini adalah dorongan yang sangat kuat agar kita tidak pernah meninggalkan atau mengakhirkan shalat Subuh dan Ashar dari waktunya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Waktu-Waktu Shalat, Bab Keutamaan Shalat Ashar, no. 554, dari sahabat Jarir bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu.

Ayat Al-Qur'an yang dibaca Nabi ﷺ:

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Qaf [50]: 39:

فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ

"Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam."

Penjelasan Ulama tentang Maksud Ayat:

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "bertasbih sebelum matahari terbit" adalah shalat Subuh, dan "sebelum matahari terbenam" adalah shalat Ashar. Ini adalah pendapat yang masyhur dari para ulama salaf, di antaranya Qatadah dan lainnya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan hadits ini dari beberapa sisi:

1. Makna "Melihat Allah seperti melihat bulan purnama"

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini adalah kabar gembira bagi kaum mukminin bahwa mereka akan melihat Allah ﷻ di akhirat dengan penglihatan yang jelas dan nyata, tidak samar dan tidak diragukan. Penglihatan ini adalah kenikmatan terbesar di surga. Beliau menukil bahwa para ulama Ahlus Sunnah menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa melihat Allah di akhirat itu benar dan pasti terjadi.

2. Makna "لا تُضَامُّونَ" (tidak akan kesulitan/berdesak-desakan)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa maknanya: kalian tidak akan saling berdesakan dan tidak akan ada keraguan dalam melihat-Nya. Berbeda dengan melihat bulan di dunia yang kadang terhalang awan atau membuat mata lelah, maka melihat Allah di akhirat kelak sangat jelas dan sempurna.

3. Kaitan antara menjaga shalat Subuh dan Ashar dengan melihat Allah

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan hikmah pengaitan ini: bahwa orang yang menjaga dua shalat ini, yaitu shalat yang dilakukan di dua waktu yang sering dilalaikan manusia (waktu tidur di pagi hari dan waktu sibuk di sore hari), maka ia akan mendapatkan kemuliaan melihat Allah ﷻ. Ini menunjukkan tingginya kedudukan dua shalat ini.

4. Mengapa dua shalat ini yang ditekankan?

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa shalat Subuh dan Ashar adalah dua shalat yang dihadiri para malaikat malam dan malaikat siang. Menjaga keduanya berarti menjaga waktu-waktu yang penuh keutamaan. Beliau juga menjelaskan bahwa shalat di dua waktu ini berat bagi orang-orang munafik, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain bahwa shalat Isya dan Subuh adalah shalat yang paling berat bagi orang munafik.

5. Perhatian para ulama terhadap hadits ini

Imam Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah dalam Al-Wabilush Shayyib menyebutkan bahwa menjaga shalat Subuh dan Ashar adalah sebab seseorang mendapatkan cahaya di wajahnya di dunia dan keselamatan dari kegelapan di akhirat. Beliau juga menjelaskan bahwa waktu Subuh dan Ashar adalah waktu di mana amalan diangkat kepada Allah ﷻ.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sahabat Jarir bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu — yang meriwayatkan hadits ini — adalah seorang sahabat yang sangat memperhatikan shalat berjamaah. Beliau tinggal di Kufah dan dikenal sebagai orang yang selalu hadir di masjid untuk shalat Subuh dan Ashar.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah — seorang ulama besar tabi'in — pernah berkata tentang orang-orang yang menjaga shalat Subuh dan Ashar: "Wajah mereka berseri-seri di dunia karena mereka menjaga shalat di dua waktu yang sering dilalaikan manusia. Dan di akhirat, mereka akan mendapatkan kenikmatan melihat Allah ﷻ."

Beliau juga sering menangis ketika membayangkan keindahan melihat Allah ﷻ, seraya berkata: "Seandainya seseorang mengetahui apa yang akan ia dapatkan berupa kenikmatan melihat Allah di surga, niscaya ia tidak akan pernah merasa cukup beribadah kepada-Nya di dunia."

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga shalat Subuh berjamaah — bangunlah sebelum waktu Subuh, jangan sampai terlewat karena tidur. Ini adalah shalat yang berat bagi orang munafik, maka menjaganya adalah tanda keimanan.
  2. Jaga shalat Ashar berjamaah — jangan sampai kita sibuk dengan pekerjaan atau aktivitas dunia sehingga melalaikan shalat Ashar. Banyak orang yang kehilangan shalat Ashar karena masih di perjalanan atau sibuk bekerja.
  3. Niatkan karena ingin melihat Allah ﷻ — setiap kali kita berjuang melawan rasa malas untuk shalat Subuh atau meninggalkan kesibukan untuk shalat Ashar, ingatlah bahwa ini adalah jalan menuju kenikmatan terbesar di akhirat: melihat Allah ﷻ.
  4. Perbanyak istighfar dan doa — mohonlah kepada Allah agar dimudahkan menjaga shalat-shalat tepat waktu, terutama Subuh dan Ashar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.