Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan pertemuan Nabi ﷺ dengan Zaid bin 'Amr bin Nufail sebelum beliau diangkat menjadi Nabi. Zaid menolak memakan daging sembelihan kaum musyrikin karena daging itu disembelih di atas batu altar (an-shab) untuk berhala, tanpa menyebut nama Allah. Pelajaran utamanya: seorang yang bertauhid harus menjaga makanannya, tidak memakan sembelihan yang dipersembahkan untuk selain Allah, dan hanya memakan makanan yang disembelih dengan menyebut nama Allah. Ini menunjukkan bahwa syariat tentang keharaman sembelihan untuk berhala sudah tertanam dalam fitrah orang-orang yang mencari kebenaran sebelum Islam datang.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Ma'idah [5]: 3
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ
Artinya: "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala."
2. Hadits terkait:
Hadits yang sedang kita bahas diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Penyembelihan dan Perburuan, Bab "Apa yang Disembelih di Atas Batu dan Patung", no. 5499, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.
3. Kaitan dengan ulama:
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat QS. Al-Ma'idah [5]: 3 ini mencakup larangan memakan sembelihan yang dipersembahkan kepada berhala dan batu altar (nushub), sebagaimana yang dipraktikkan oleh orang-orang jahiliyah.
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk biografi Zaid bin 'Amr dan kedudukannya sebagai seorang hanif (pencari agama yang lurus) sebelum Islam.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Biografi Zaid bin 'Amr bin Nufail
Zaid bin 'Amr adalah ayah dari Sa'id bin Zaid, salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Zaid sendiri adalah seorang hanif — yaitu orang yang meninggalkan agama kaumnya (penyembahan berhala) dan mencari agama yang benar, yaitu agama Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Beliau tidak pernah menyembah berhala dan tidak pernah memakan sembelihan untuk berhala.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa Zaid bin 'Amr berkata kepada kaumnya: "Aku tidak akan menyembah berhala dan tidak akan memakan apa yang disembelih untuk berhala." Beliau juga dikenal sering menegur kaum Quraisy yang menyembelih hewan di atas batu altar untuk berhala mereka.
2. Makna "An-shab" (batu altar)
Para ulama menjelaskan bahwa nushub (jamak dari nashabah atau anshab) adalah batu-batu yang diletakkan di sekitar Ka'bah, yang di atasnya orang-orang musyrik menyembelih hewan kurban untuk berhala-berhala mereka. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ini adalah kebiasaan orang-orang jahiliyah yang menyembelih hewan di hadapan patung-patung mereka, lalu darah hewan itu dipercikkan ke patung tersebut.
3. Sikap Zaid bin 'Amr sebagai bukti fitrah yang lurus
Yang menarik dari hadits ini adalah bahwa Zaid bin 'Amr menolak daging tersebut sebelum turunnya wahyu kepada Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa penolakan terhadap sembelihan untuk berhala adalah perkara yang sudah tertanam dalam fitrah manusia yang lurus. Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Zaid bin 'Amr telah meninggalkan agama kaumnya dan mencari agama Ibrahim, sehingga ia tidak mau memakan sesuatu yang bertentangan dengan fitrah tersebut.
4. Pelajaran tentang keharaman sembelihan untuk selain Allah
Para ulama sepakat bahwa sembelihan yang dipersembahkan untuk berhala, patung, atau selain Allah adalah haram, baik disebut nama Allah atau tidak. Ini berdasarkan firman Allah dalam QS. Al-Ma'idah [5]: 3 dan juga hadits ini. Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa sembelihan untuk selain Allah termasuk syirik kecil atau bahkan bisa menjadi syirik besar jika pelakunya bermaksud mengagungkan makhluk tersebut sebagai sesembahan.
5. Keutamaan menyebut nama Allah saat menyembelih
Zaid bin 'Amr berkata: "Aku tidak makan kecuali dari apa yang disebut nama Allah atasnya." Ini menunjukkan bahwa menyebut nama Allah saat menyembelih adalah syarat kehalalan daging. Para ulama fiqih dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah sepakat bahwa menyebut nama Allah saat menyembelih adalah syarat atau kewajiban, berdasarkan dalil-dalil yang ada.
6. Adab Nabi ﷺ dalam bergaul
Meskipun Zaid bin 'Amr menolak hidangan Nabi ﷺ, beliau tetap menghormatinya dan tidak marah. Ini menunjukkan akhlak mulia Nabi ﷺ dalam menerima perbedaan dan tidak memaksakan kehendak.
Story Telling
Dikisahkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa suatu hari Nabi ﷺ bertemu dengan Zaid bin 'Amr bin Nufail di lembah Baldah (dekat Makkah) sebelum wahyu turun kepada beliau. Saat itu Nabi ﷺ menghidangkan daging kepadanya, namun Zaid menolak dengan sopan sambil berkata: "Sesungguhnya aku tidak makan dari apa yang kalian sembelih di atas batu altar kalian, dan aku tidak makan kecuali dari apa yang disebut nama Allah atasnya."
Zaid bin 'Amr adalah sosok yang unik di tengah masyarakat jahiliyah. Beliau meninggalkan agama kaumnya yang menyembah berhala, lalu berkeliling mencari agama yang benar. Beliau pernah berkata kepada kaum Quraisy: "Wahai kaumku, demi Allah, kalian berada di atas agama yang batil. Kalian menyembah berhala yang tidak mendengar, tidak melihat, tidak memberi manfaat, dan tidak memberi mudarat."
Zaid kemudian pergi ke Syam dan bertanya kepada para pendeta Yahudi dan Nasrani tentang agama mereka. Namun beliau tidak puas dengan keduanya. Hingga akhirnya beliau bertemu dengan seorang pendeta yang jujur yang berkata: "Aku tidak mengetahui agama yang engkau cari kecuali agama Ibrahim, dan Ibrahim adalah seorang hanif (lurus) lagi muslim, tidak menyembah kecuali Allah semata."
Maka Zaid pun keluar dan mengumumkan: "Ya Allah, sesungguhnya aku bersaksi bahwa aku berada di atas agama Ibrahim." Beliau tidak mau menyembah berhala, tidak mau memakan bangkai, tidak mau memakan sembelihan untuk berhala, dan tidak mau membunuh bayi perempuan. Beliau juga berkata: "Aku menyembah Tuhan Ibrahim."
Kemudian ketika Nabi ﷺ diutus, Zaid sebenarnya sudah wafat. Ada riwayat bahwa beliau berdoa: "Ya Allah, sekiranya aku mengetahui cara beribadah kepada-Mu, niscaya aku akan beribadah kepada-Mu." Maka para ulama berbeda pendapat tentang statusnya, namun yang masyhur — sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar — bahwa Zaid bin 'Amr termasuk orang yang selamat dan diharapkan masuk surga karena kejujuran dan ketulusannya mencari kebenaran, meskipun ia tidak sempat bertemu dengan Nabi ﷺ dalam keadaan beriman secara syariat yang sempurna.
Hikmah dari kisah ini: fitrah yang lurus akan selalu menolak kemusyrikan dan kebatilan, meskipun belum datang syariat yang jelas. Dan Allah tidak menyia-nyiakan orang yang jujur mencari kebenaran.
Kesimpulan Praktis
- Menjaga makanan adalah bagian dari menjaga tauhid. Seorang muslim harus memperhatikan dari mana makanan itu berasal dan bagaimana cara penyembelihannya.
- Sembelihan untuk berhala, patung, atau selain Allah adalah haram, baik disebut nama Allah atau tidak, karena itu termasuk perbuatan syirik.
- Menyebut nama Allah saat menyembelih adalah kewajiban bagi yang mampu, dan ini adalah syarat kehalalan daging.
- Meneladani sikap Zaid bin 'Amr yang tegas meninggalkan kebatilan meskipun seluruh masyarakatnya berada di atas kebatilan tersebut.
- Meneladani akhlak Nabi ﷺ yang tetap menghormati orang yang berbeda keyakinan dan tidak memaksakan kehendak, namun tetap teguh pada prinsip.
- Fitrah yang lurus akan menolak kemusyrikan, dan Allah akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang jujur mencari kebenaran.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.