Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan keadaan hidup Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu di masa awal Islam: beliau sangat miskin, sering menahan lapar hingga mengikat batu ke perutnya, dan sengaja menemani Nabi ﷺ serta meminta orang membacakan ayat agar bisa ikut makan. Hadits ini juga memuji kedermawanan Ja'far bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu yang selalu memberi makan orang-orang miskin, sampai-sampai mengeluarkan wadah kulit (mentega/madu) kosong lalu menjilatinya bersama mereka. Pelajarannya: kesabaran dalam kefakiran, keutamaan memberi makan, dan kemuliaan akhlak Ja'far.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Ath'imah (Makanan), Bab Al-Hais wa Al-Wadik (no. 5432), dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan memberi makan dan keadaan orang miskin:
QS. Al-Insan [76]: 8–9
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
"Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan wajah Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih."
QS. Al-Baqarah [2]: 273 (tentang orang fakir yang menahan diri):
لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا
"(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak."
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan orang-orang fakir yang menjaga kehormatan diri, tidak meminta dengan mendesak, dan keadaan mereka hanya diketahui oleh orang yang memperhatikan tanda-tandanya. Inilah yang sejalan dengan keadaan Abu Hurairah dalam hadits ini.
Penjelasan Rinci
Konteks hadits: Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menuturkan keadaan dirinya di masa awal hijrah ke Madinah. Beliau datang dalam keadaan miskin, tidak memiliki pekerjaan tetap, dan menjadikan masjid serta majelis Nabi ﷺ sebagai tempat tinggalnya (dikenal sebagai Ahlush Shuffah).
Beberapa poin penting:
- "Aku biasa menemani Nabi ﷺ untuk mengisi perutku" — Ini menunjukkan bahwa salah satu sebab beliau rajin menemani Nabi ﷺ adalah kebutuhan makan. Namun ini bukan celaan, karena beliau tetap ikhlas menuntut ilmu dan berkhidmat kepada Nabi ﷺ. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Abu Hurairah menggabungkan antara menuntut ilmu dan mencari makan, dan hal ini tidak mengurangi keutamaan beliau.
- "Aku tidak makan roti yang dipanggang (khamir), tidak mengenakan sutra" — Gambaran kesederhanaan ekstrem. Beliau tidak menikmati makanan mewah maupun pakaian mewah.
- "Aku mengikat batu ke perutku" — Ini adalah cara menahan rasa lapar yang sangat berat. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini menunjukkan betapa kerasnya kehidupan para Ahlush Shuffah, namun mereka tetap sabar dan tidak mengeluh.
- "Aku meminta seseorang membacakan ayat meskipun aku sudah mengetahuinya" — Ini adalah cara halus beliau agar bisa ikut serta dalam majelis dan mendapatkan makanan. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa ini bukanlah meminta-minta yang tercela, melainkan upaya mencari sebab (tawassul) yang dibolehkan selama tidak mendesak dan tidak merendahkan diri.
- Pujian kepada Ja'far bin Abi Thalib — "Sebaik-baik manusia bagi orang miskin adalah Ja'far bin Abi Thalib." Beliau selalu membawa orang-orang miskin ke rumahnya dan memberi mereka makan. Bahkan ketika tidak ada makanan, beliau mengeluarkan 'ukkah (wadah kulit tempat mentega atau madu) yang kosong, lalu mereka sobek dan jilati sisa-sisanya. Ini menunjukkan kedermawanan luar biasa dan kasih sayang kepada fakir miskin.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Ja'far bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, dan bahwa beliau dikenal sebagai orang yang sangat dermawan kepada orang miskin. Nabi ﷺ sendiri pernah memuji Ja'far dan menyebut beliau mirip dengan akhlak dan penampilan beliau.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menekankan bahwa memberi makan orang miskin adalah salah satu amal yang paling utama, dan bahwa orang yang memberi makan akan mendapatkan pahala besar di sisi Allah.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Ja'far bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu — yang dikenal sebagai "Abul Masakin" (bapak orang-orang miskin) — suatu hari tidak memiliki apa pun di rumahnya untuk diberikan kepada orang-orang miskin yang datang kepadanya. Beliau lalu mengeluarkan sebuah wadah kulit ('ukkah) yang biasa digunakan untuk menyimpan mentega atau madu. Wadah itu sudah kosong, tidak ada isinya. Namun beliau tetap memberikannya kepada mereka, dan mereka pun menyobek wadah itu dan menjilati sisa-sisa yang masih menempel di dalamnya.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan kisah ini sebagai bukti betapa besar perhatian Ja'far kepada orang miskin, sampai-sampai beliau tidak tega mengembalikan mereka dengan tangan kosong. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini adalah bentuk muru'ah (kehormatan diri) dan ihsan (kebaikan) yang tinggi: beliau tidak ingin orang miskin pulang tanpa mendapatkan sesuatu, meskipun hanya sisa yang menempel di wadah.
Hikmahnya: kedermawanan sejati bukan hanya ketika kita punya banyak, tetapi ketika kita tetap berusaha memberi meskipun hanya sedikit yang tersisa.
Kesimpulan Praktis
- Sabar dalam kesempitan — Keadaan miskin bukanlah cela, selama kita tetap taat dan menjaga kehormatan diri.
- Keutamaan memberi makan — Memberi makan orang miskin adalah amal yang sangat mulia, sebagaimana dicontohkan Ja'far bin Abi Thalib.
- Menuntut ilmu dan mencari rezeki bisa digabung — Abu Hurairah mencontohkan bahwa keduanya bisa berjalan bersama.
- Jangan merendahkan pemberian kecil — Ja'far tetap memberi meskipun hanya wadah kosong; yang penting adalah niat dan usaha.
- Menjaga kehormatan orang miskin — Berikan bantuan dengan cara yang tidak menyakiti perasaan mereka.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.