Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan kesederhanaan hidup Nabi ﷺ dan para sahabat: mereka tidak pernah makan tepung putih yang halus (an-naqiy) dan tidak mengenal saringan (munakhal). Mereka makan gandum/barley (sya'ir) yang digiling, ditiup kulitnya, lalu diolah menjadi adonan dan dimakan. Ini menunjukkan sifat zuhud, qana'ah, dan kerendahan hati Nabi ﷺ serta para sahabat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Makanan, Bab Apa yang Dimakan Nabi ﷺ dan Para Sahabatnya, dari jalur Abu Hazim (Salamah bin Dinar) dari Sahl bin Sa'd as-Sa'idi radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits lengkapnya:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، قَالَ سَأَلْتُ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ فَقُلْتُ هَلْ أَكَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ النَّقِيَّ فَقَالَ سَهْلٌ مَا رَأَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ النَّقِيَّ مِنْ حِينَ ابْتَعَثَهُ اللَّهُ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ. قَالَ فَقُلْتُ هَلْ كَانَتْ لَكُمْ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مَنَاخِلُ قَالَ مَا رَأَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مُنْخُلًا مِنْ حِينَ ابْتَعَثَهُ اللَّهُ حَتَّى قَبَضَهُ. قَالَ قُلْتُ كَيْفَ كُنْتُمْ تَأْكُلُونَ الشَّعِيرَ غَيْرَ مَنْخُولٍ قَالَ كُنَّا نَطْحَنُهُ وَنَنْفُخُهُ، فَيَطِيرُ مَا طَارَ وَمَا بَقِيَ ثَرَّيْنَاهُ فَأَكَلْنَاهُ.
Terjemahan: "Diriwayatkan dari Abu Hazim: Saya bertanya kepada Sahl bin Sa'd, 'Apakah Rasulullah ﷺ pernah makan tepung putih?' Sahl berkata, 'Rasulullah ﷺ tidak pernah melihat tepung putih sejak Allah mengutusnya sebagai Rasul hingga Allah mengambilnya.' Saya bertanya, 'Apakah orang-orang memiliki saringan selama masa hidup Rasulullah?' Sahl berkata, 'Rasulullah ﷺ tidak pernah melihat saringan sejak Allah mengutusnya sebagai Rasul hingga Allah mengambilnya.' Saya berkata, 'Bagaimana kalian bisa makan barley yang tidak disaring?' Dia berkata, 'Kami biasa menggilingnya dan kemudian meniupkan kulitnya, dan setelah kulitnya terbang, kami menyiapkan adonan dan memakannya.'"
Dalil Al-Qur'an tentang kesederhanaan dan tidak berlebihan:
وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
QS. Al-A'raf [7]: 31 — "Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa larangan berlebih-lebihan mencakup makan dan minum secara berlebihan, dan bahwa sikap sederhana adalah jalan para nabi dan orang-orang saleh.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama: Makna "An-Naqiy" (النَّقِيُّ)
An-Naqiy adalah tepung putih yang telah dibersihkan dan dihaluskan, yaitu tepung gandum yang disaring hingga bersih dari kulitnya. Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah tepung yang telah diayak dan dibersihkan, sehingga menjadi putih bersih. Sahl bin Sa'd menyatakan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah melihatnya sama sekali selama masa kenabiannya.
Kedua: Makna "Munakhal" (مُنْخُل)
Munakhal adalah alat saringan/ayakan. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ketiadaan saringan di rumah Nabi ﷺ menunjukkan betapa sederhananya kehidupan beliau. Ini bukan berarti saringan itu haram, tetapi menunjukkan kezuhudan beliau.
Ketiga: Cara Makan Sya'ir (Barley/Gandum Kasar)
Sahl bin Sa'd menjelaskan bahwa mereka menggiling barley, lalu meniupnya sehingga kulit-kulitnya terbang, kemudian sisa yang tinggal mereka jadikan adonan dan makan. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukkan bahwa makanan pokok mereka sangat sederhana dan kasar.
Keempat: Pelajaran Zuhud dan Qana'ah
Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa kesederhanaan Nabi ﷺ dalam makanan adalah contoh nyata zuhud yang sejati. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan merasa cukup dengan apa yang ada.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah menjelaskan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia paling mulia, namun makanannya paling sederhana. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan bukan diukur dari mewahnya makanan, tetapi dari ketakwaan dan akhlak.
Kelima: Perbedaan Pendapat Ulama
Sebagian ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa menggunakan saringan dan tepung halus bukanlah hal yang terlarang, karena Nabi ﷺ tidak melarangnya, hanya saja beliau tidak menggunakannya karena kesederhanaan. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah ketika ditanya tentang saringan, beliau tidak melarangnya. Yang paling kuat adalah bahwa menggunakan saringan adalah mubah (boleh), dan yang menjadi teladan adalah sikap zuhud Nabi ﷺ, bukan larangan menggunakan saringan.
Story Telling
Dikisahkan bahwa suatu ketika Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu melihat Nabi ﷺ berbaring di atas tikar yang kasar hingga membekas di kulit beliau. Umar menangis. Nabi ﷺ bertanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Umar berkata, "Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar hidup dalam kemewahan, sedangkan engkau adalah Rasulullah namun tidur di atas tikar kasar ini." Nabi ﷺ bersabda, "Wahai Umar, apakah engkau tidak ridha bahwa mereka mendapatkan dunia dan kita mendapatkan akhirat?" (Makna hadits ini disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim).
Kisah ini menggambarkan betapa zuhudnya Nabi ﷺ, sebagaimana hadits Sahl bin Sa'd di atas yang menunjukkan bahwa beliau tidak pernah makan tepung putih halus dan tidak pernah menggunakan saringan.
Kesimpulan Praktis
- Teladani kesederhanaan Nabi ﷺ — Makanan sederhana bukanlah kekurangan, tetapi justru menunjukkan kemuliaan jiwa.
- Jangan berlebihan dalam makanan — Sesuai QS. Al-A'raf [7]: 31, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.
- Zuhud bukan berarti haram — Menggunakan saringan atau makan makanan yang lebih halus adalah boleh, tetapi jangan sampai menjadikan kemewahan sebagai tujuan hidup.
- Syukuri apa yang ada — Para sahabat makan barley kasar dengan syukur, dan itu lebih baik daripada makan mewah namun lalai dari syukur.
- Fokus pada akhirat — Sebagaimana sabda Nabi ﷺ, dunia ini sementara, dan akhirat adalah tujuan sejati.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.