Penjelasan Hadits Bukhari No. 5393 tentang Mukmin makan sedikit, kafir makan banyak

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa salah satu tanda keimanan yang kuat adalah sikap sederhana dalam makan dan tidak rakus. Seorang mukmin makan secukupnya dalam "satu usus," sementara orang kafir makan berlebihan seolah-olah "tujuh usus." Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma memahami hadits ini secara praktis: beliau tidak mau makan sendirian dan mengajak orang miskin, namun beliau juga tidak ridha terhadap sikap rakus yang berlebihan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — Shahih Al-Bukhari, Kitab Makanan, Bab "Seorang Mukmin Makan dalam Satu Usus," dari Nafi' (maula Ibnu Umar), dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi ﷺ:

الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

"Seorang mukmin makan dalam satu usus, dan orang kafir makan dalam tujuh usus."

Ayat terkait — QS. Al-A'raf [7]: 31:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

"Dan makanlah serta minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan."

Ayat terkait lain — QS. Al-Mu'minun [23]: 51:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

"Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan kerjakanlah amal saleh. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Keterkaitan ulama: Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan hadits ini sebagai anjuran zuhud dan menjauhi rakus. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas makna "tujuh usus" secara panjang, termasuk pendapat bahwa itu isyarat sifat rakus dan tamak. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam mengaitkannya dengan hadits-hadits lain tentang sedikit makan. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan adab makan Nabi ﷺ sebagai teladan kesederhanaan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab shahihnya, dan juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, At-Tirmidzi, dan lainnya. Redaksi "satu usus" dan "tujuh usus" dipahami oleh para ulama dengan beberapa penjelasan:

Pertama, makna hakiki: bahwa secara fisik, orang mukmin biasanya makan sedikit sehingga cukup satu lambung/usus, sedangkan orang kafir makan banyak hingga memenuhi banyak usus. Ini pendapat sebagian ulama, dan tidak perlu ditolak.

Kedua, makna majazi (kiasan): bahwa "tujuh usus" adalah isyarat sifat rakus, tamak, dan tidak pernah merasa cukup — sifat yang biasanya melekat pada orang yang jauh dari iman. Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa angka "tujuh" dalam bahasa Arab sering dipakai untuk menunjukkan banyak/berlebihan, bukan harus tepat tujuh.

Ketiga, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini mengandung anjuran zuhud dan qana'ah (merasa cukup), serta celaan terhadap rakus. Beliau juga menegaskan bahwa yang dimaksud bukan larangan makan sampai kenyang secara mutlak, tetapi larangan berlebihan dan menjadikan makan sebagai tujuan utama.

Keempat, Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa sedikit makan membantu hati tetap jernih, sedangkan banyak makan membuat hati keras dan malas beribadah. Beliau mengaitkan dengan perkataan Al-Hasan al-Bashri yang menyatakan bahwa banyak makan melemahkan hati.

Kelima, Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ adalah teladan dalam kesederhanaan makan: beliau tidak pernah makan sampai kenyang penuh, dan sering menahan lapar. Beliau membagi kebiasaan makan menjadi tiga bagian: sepertiga makanan, sepertiga minuman, dan sepertiga udara (ruang untuk bernafas) — sebagaimana disebutkan dalam hadits lain.

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama memahami "tujuh usus" secara hakiki, sebagian secara majazi. Yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi — adalah bahwa maknanya mencakup keduanya: secara fisik orang kafir cenderung makan lebih banyak, dan secara maknawi menunjukkan sifat rakus yang tercela. Yang penting adalah pesan utamanya: mukmin itu sederhana dan tidak rakus.

Catatan tentang Ibnu Umar: Nafi' menyebutkan bahwa Ibnu Umar biasa mengajak orang miskin makan bersamanya. Ketika seorang miskin makan terlalu banyak, Ibnu Umar mengingatkan dengan hadits ini. Ini menunjukkan bahwa Ibnu Umar tidak melarang orang miskin makan, tetapi beliau tidak menyukai sikap rakus — bahkan pada orang yang membutuhkan sekalipun, karena rakus adalah sifat tercela.

Story Telling

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim bahwa suatu ketika seorang sahabat yang bukan muslim (sebelum masuk Islam) makan dengan sangat banyak. Nabi ﷺ memperhatikan dan bersabda, "Orang kafir makan dalam tujuh usus." Ketika orang itu masuk Islam, ia makan dengan porsi yang jauh lebih sedikit. Nabi ﷺ pun bersabda, "Sekarang orang mukmin makan dalam satu usus." (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu).

Kisah ini menunjukkan bahwa iman benar-benar mengubah kebiasaan seseorang — termasuk dalam hal makan. Al-Hasan al-Bashri pernah berkata bahwa salah satu tanda iman yang lemah adalah banyak makan dan banyak tidur. Fudail bin 'Iyadh juga mengingatkan bahwa hati yang penuh dengan makanan tidak akan bisa merenungi Al-Qur'an dengan baik.

Kesimpulan Praktis

  1. Makan secukupnya, jangan berlebihan. Isi sepertiga perut dengan makanan, sepertiga dengan air, dan sisakan sepertiga untuk udara — sesuai petunjuk Nabi ﷺ.
  2. Jangan jadikan makan sebagai tujuan utama. Makan adalah sarana untuk beribadah, bukan hiburan.
  3. Latih qana'ah (merasa cukup). Mukmin yang kuat imannya tidak akan rakus meskipun makanan tersedia banyak.
  4. Berbagi makanan dengan orang miskin, seperti yang dilakukan Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, tetapi tetap saling mengingatkan dalam kebaikan.
  5. Jangan menghakimi orang yang makan banyak dengan kasar; nasihatilah dengan lembut dan hikmah, sebagaimana Ibnu Umar mengingatkan dengan sabda Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?