Penjelasan Hadits Bukhari No. 5219 tentang Larangan mengaku-ngaku pemberian suami yang tidak ada

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang larangan keras untuk berpura-pura atau mengklaim sesuatu yang sebenarnya tidak kita miliki, baik itu harta, pemberian, maupun keutamaan. Rasulullah ﷺ mengumpamakan orang yang berbuat demikian seperti orang yang memakai dua pakaian palsu (pakaian kebohongan). Dalam konteks rumah tangga, seorang istri yang mengaku mendapat perlakuan lebih dari suaminya padahal tidak, demi menyakiti madunya, termasuk perbuatan yang sangat tercela. Ini adalah bentuk kebohongan yang nyata dan dosa besar.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks hadits yang Anda sertakan adalah riwayat dari Asma' binti Abu Bakar radhiyallahu 'anha. Hadits ini shahih dan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab an-Nikah, Bab "Larangan Menyombongkan Diri dengan yang Tidak Dimiliki dan Larangan Berbangga dengan Istri yang Kedua" (no. 5219).

Dalil Al-Qur'an yang Relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

"Supaya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan Dia mengazab orang-orang munafik jika Dia menghendaki, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Ahzab [33]: 24)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah membalas kejujuran dan kebenaran, serta mengecam kebohongan, termasuk sifat orang munafik.

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan salaf sangat memperhatikan masalah ini. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini termasuk salah satu prinsip besar dalam menjaga lisan dan kejujuran. Beliau menukil bahwa Al-Hasan al-Bashri sangat membenci perbuatan berpura-pura memiliki sesuatu yang tidak dimiliki, karena itu adalah bagian dari kebohongan yang diharamkan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:

1. Konteks Hadits

Seorang wanita datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya tentang hukumnya jika ia berpura-pura mendapat perlakuan baik dari suaminya (padahal tidak), dengan tujuan untuk menyakiti hati madunya (istri lain dari suaminya). Wanita ini jujur dan bertanya sebelum berbuat, dan Rasulullah ﷺ memberikan jawaban yang tegas.

2. Makna "Al-Mutasyabbi'u Bima Lam Yu'tho"

Secara bahasa, al-mutasyabbi' artinya orang yang menampakkan diri seolah-olah kenyang padahal tidak. Ini adalah kiasan bagi orang yang menampakkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan. Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa maknanya adalah orang yang mengaku-ngaku mendapat pemberian atau kebaikan padahal tidak mendapatkannya.

3. Makna "Kalabis Tsaubai Zuur"

Rasulullah ﷺ mengumpamakan orang tersebut seperti orang yang memakai dua pakaian palsu. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa "dua pakaian" di sini adalah kiasan untuk kebohongan yang tampak dari luar dan dalam. Orang yang memakai pakaian palsu akan diketahui orang lain bahwa pakaiannya itu bukan miliknya atau palsu, demikian pula orang yang berbohong akan terbongkar kebohongannya.

4. Hukum dalam Konteks Rumah Tangga

Dalam masalah madu (istri-istri dari suami yang sama), Islam sangat memperhatikan keadilan dan kejujuran. Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal menjelaskan bahwa seorang istri tidak boleh mengaku-ngaku mendapat perlakuan yang tidak ia terima, karena ini termasuk kebohongan yang bisa menimbulkan permusuhan dan kerusakan dalam rumah tangga.

5. Pelajaran Umum

Hadits ini tidak hanya terbatas pada masalah rumah tangga, tetapi mencakup semua aspek kehidupan. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa larangan ini mencakup:

  • Mengaku punya ilmu padahal tidak
  • Mengaku punya harta padahal tidak
  • Mengaku punya kedudukan padahal tidak
  • Berpura-pura kaya padahal miskin
  • Berpura-pura bahagia padahal menderita

Semua ini termasuk perbuatan tercela yang dilarang dalam Islam.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang suka menceritakan kebaikan dirinya yang sebenarnya tidak ia lakukan. Beliau menjawab dengan tegas, "Orang itu seperti orang yang memakai pakaian pinjaman yang bagus, padahal di dalamnya tubuhnya kotor dan penuh penyakit. Ketika pakaian itu dibuka, semua orang akan melihat keburukannya."

Kisah ini mengajarkan kita bahwa kebohongan, sekecil apa pun, akan terbongkar pada akhirnya. Seorang mukmin sejati adalah orang yang jujur dalam perkataan dan perbuatannya, karena kejujuran adalah ciri keimanan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jujurlah dalam segala keadaan, baik dalam rumah tangga, pekerjaan, maupun pergaulan sehari-hari.
  2. Jangan pernah mengaku-ngaku memiliki sesuatu yang tidak kita miliki, baik harta, ilmu, maupun keutamaan.
  3. Hindari menyakiti orang lain dengan kebohongan, termasuk menyakiti madu atau saudara sesama muslim.
  4. Jika memiliki masalah dalam rumah tangga, selesaikan dengan cara yang baik dan jujur, bukan dengan kebohongan.
  5. Ingatlah bahwa Allah Maha Melihat segala sesuatu, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?