Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu dalil utama tentang shalat gerhana (khusuf) dan juga berisi peringatan keras bagi kaum wanita tentang bahaya kufur terhadap suami, yaitu tidak mensyukuri kebaikan suami dan mengingkari jasa-jasanya. Hadits ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ melihat surga dan neraka secara nyata, serta mayoritas penghuni neraka adalah wanita karena kekufuran mereka terhadap suami.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Pernikahan, Bab "Kekufuran Terhadap Suami", no. 5197, dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
QS. Al-Baqarah [2]: 152
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku."
Ayat ini menunjukkan perintah untuk bersyukur kepada Allah dan larangan untuk kufur (mengingkari nikmat). Kufur nikmat kepada Allah berkaitan erat dengan kufur terhadap suami, karena suami adalah perantara rezeki dan kebaikan bagi istri.
Penjelasan Ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa makna "kufr" dalam hadits ini adalah kufur nikmat, bukan kufur dalam arti keluar dari Islam. Beliau menukil perkataan Imam Al-Khattabi bahwa yang dimaksud adalah tidak mensyukuri kebaikan suami dan mengingkari jasa-jasanya.
Penjelasan Rinci
1. Makna Kekufuran Terhadap Suami
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa "kufr" dalam hadits ini bermakna kufr an-ni'mah (mengingkari nikmat), bukan kufr al-‘aqidah (kekufuran yang mengeluarkan dari Islam). Seorang istri yang tidak mensyukuri kebaikan suaminya, bahkan mengingkari semua kebaikan yang pernah diberikan suaminya, maka ia termasuk dalam ancaman hadits ini.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan besarnya hak suami atas istri. Seorang istri yang mengingkari kebaikan suaminya, walaupun suaminya telah berbuat baik sepanjang hidupnya, maka ia telah melakukan dosa besar yang diancam dengan neraka.
2. Tafsir "Mereka Tidak Bersyukur kepada Suami"
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa ungkapan "mereka tidak bersyukur kepada suami" adalah bentuk kekufuran yang paling nyata. Ini karena suami adalah orang yang paling berjasa dalam kehidupan seorang istri, dan mengingkari jasa tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela.
3. Hikmah dari Hadits Ini
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran:
- Kewajiban seorang istri untuk bersyukur kepada suaminya
- Larangan mengingkari kebaikan suami
- Peringatan bahwa banyak wanita yang masuk neraka karena perbuatan ini
- Anjuran bagi wanita untuk memperbaiki hubungan dengan suaminya
4. Perbedaan Pendapat Ulama tentang Makna "Kufr"
Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam "Bab Kekufuran Terhadap Suami" untuk menunjukkan bahwa kekufuran yang dimaksud adalah kekufuran khusus terhadap suami, bukan kekufuran umum kepada Allah. Ini diperkuat dengan pertanyaan para sahabat, "Apakah mereka kufur kepada Allah?" dan Nabi ﷺ menjawab, "Mereka kufur terhadap suami mereka."
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menegaskan bahwa hadits ini tidak boleh dipahami sebagai penghinaan terhadap wanita secara umum, tetapi sebagai peringatan bagi mereka yang melakukan perbuatan tersebut. Banyak wanita shalihah yang masuk surga, seperti Khadijah, Aisyah, Fatimah, dan lainnya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah hak suami atas istri?" Beliau menjawab, "Hendaknya ia memenuhi panggilan suaminya walaupun ia sedang berada di atas pelana unta." (HR. An-Nasa'i, dari Hakim bin Mu'awiyah dari ayahnya).
Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda, "Jika aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya." (HR. At-Tirmidzi, dari Abu Hurairah).
Kisah ini menunjukkan betapa besarnya hak suami atas istri dalam Islam. Namun perlu diingat, ini bukan berarti suami boleh berbuat sewenang-wenang, karena suami juga memiliki kewajiban untuk memperlakukan istri dengan baik, sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa' [4]: 19.
Kesimpulan Praktis
- Bagi para istri: Bersyukurlah kepada suami atas segala kebaikannya, jangan mengingkari jasa-jasanya, dan jangan mengeluh berlebihan atas kekurangan suami.
- Bagi para suami: Perlakukan istri dengan baik, karena kebaikan suami akan melahirkan rasa syukur dari istri. Suami juga harus ingat bahwa istri yang baik adalah yang mensyukuri kebaikan suaminya.
- Bagi keduanya: Saling menghargai dan mensyukuri kebaikan pasangan adalah kunci keharmonisan rumah tangga.
- Peringatan: Hadits ini bukan untuk merendahkan wanita, tetapi untuk mengingatkan bahwa banyak wanita yang masuk neraka karena tidak mensyukuri suami. Maka jadilah wanita yang bersyukur dan shalihah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.