Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5055 tentang Nabi menangis saat mendengar bacaan Al-Qur

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengisahkan permintaan Nabi ﷺ kepada Abdullah bin Mas'ūd radhiyallāhu ‘anhu untuk membacakan Al-Qur’an di hadapan beliau. Ketika sampai pada ayat yang menerangkan tentang kedatangan saksi pada hari kiamat, Nabi ﷺ menahan bacaan dan menangis. Peristiwa ini menunjukkan betapa dalamnya penghayatan Nabi ﷺ terhadap ayat-ayat Allah, serta menjadi teladan bagi kita untuk merenungkan makna Al-Qur’an hingga hati tersentuh dan menangis karena takut serta cinta kepada Allah.

---

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

Shahih al-Bukhari, Kitab Keutamaan Al-Qur’an, Bab Menangis Saat Membaca Al-Qur’an, no. 5055. Dari Abdullah bin Mas’ūd radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:

> قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «اقْرَأْ عَلَىَّ». قُلْتُ: أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ: «إِنِّي أَشْتَهِي أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي». قَالَ: فَقَرَأْتُ النِّسَاءَ حَتَّى إِذَا بَلَغْتُ {فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا} قَالَ لِي: «كُفَّ – أَوْ أَمْسِكْ –» فَرَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَذْرِفَانِ.

Ayat Al-Qur’an yang dibaca oleh Ibnu Mas’ūd:

QS. An-Nisā’ [4]: 41

﴿فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا﴾

Terjemahan ringkas: “Maka bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Kami mendatangkan dari setiap umat seorang saksi (nabi mereka) dan Kami mendatangkan engkau (wahai Muhammad) sebagai saksi atas mereka?”

Penjelasan Ulama:

  • Ibnu Hajar al-‘Asqalāni dalam Fatḥ al-Bārī (8/586-587) menjelaskan bahwa tangisan Nabi ﷺ di sini adalah tangisan karena takut kepada Allah dan merenungkan kedahsyatan hari kiamat, serta keagungan amanah yang beliau emban sebagai saksi atas umatnya.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarḥ Shahīh Muslim (6/211) menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya meminta orang lain membacakan Al-Qur’an kepada kita, meskipun kita sudah hafal, karena mendengarkan dari orang lain dapat menambah penghayatan dan khusyuk.
  • Ibnu Katsīr dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (2/249) menafsirkan ayat tersebut bahwa Nabi ﷺ menangis ketika membayangkan bagaimana beliau akan menjadi saksi atas umatnya di hadapan Allah, dan bagaimana kondisi mereka yang mendustakan risalah. Tangisan ini adalah wujud rasa takut dan cinta yang mendalam.

---

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan melalui beberapa jalur, semuanya dari sahabat mulia Abdullah bin Mas’ūd radhiyallāhu ‘anhu. Inti peristiwa adalah:

  • Nabi ﷺ meminta dibacakan Al-Qur’an padahal beliau sendiri yang menerima wahyu. Hal ini menunjukkan sifat tawadhu’ dan keinginan beliau untuk menghayati Kalamullah dari suara orang lain. Sebagaimana dikatakan Imam Ibn Rajab dalam Jāmi’ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam (hlm. 145), mendengarkan Al-Qur’an dari orang lain dapat membangkitkan perasaan yang lebih kuat karena perbedaan irama, suara, dan penghayatan.
  • Bacaan Ibnu Mas’ūd sampai pada ayat “Fakayfa…” Ayat ini menerangkan tentang hari kiamat ketika Allah mendatangkan para nabi sebagai saksi atas umat mereka, dan Nabi Muhammad ﷺ menjadi saksi atas umatnya. Betapa beratnya tanggung jawab itu dan betapa dahsyatnya hisab.
  • Nabi ﷺ berkata “Cukup” dan menangis. Para ulama menjelaskan bahwa tangisan beliau bukan karena sedih biasa, melainkan karena takut kepada Allah (khasyyah) dan perasaan cemas terhadap keadaan umatnya. Imam al-Bukhāri sendiri meletakkan hadits ini dalam bab “Menangis Saat Membaca Al-Qur’an” untuk menunjukkan bahwa menangis ketika membaca atau mendengar Al-Qur’an adalah amalan para nabi dan orang-orang saleh.

Pandangan ulama dari kalangan tabi’in:

  • Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Tangisan yang paling utama adalah tangisan karena takut kepada Allah, dan sebaik-baik tangisan ketika membaca Al-Qur’an adalah tangisan yang muncul dari pemahaman akan ancaman dan janji-Nya.” (Diriwayatkan oleh Imam ad-Dārimi dalam Sunan-nya no. 3425)
  • Sa’īd bin al-Musayyib rahimahullah jika membaca Al-Qur’an, beliau menangis hingga air matanya membasahi pipi. (Lihat Hilyatul Awliyā’ oleh Abū Nu’aim, 2/165)

Pelajaran dari hadits ini:

  1. Disunnahkan untuk meminta orang lain membacakan Al-Qur’an kepada kita, meskipun kita sendiri hafal, demi menambah tadabbur dan khusyuk.
  2. Menangis saat membaca atau mendengar Al-Qur’an adalah tanda keimanan dan penghayatan yang dalam. Sebagaimana firman Allah: “Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan iman mereka bertambah.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 109)
  3. Ayat tentang hari kiamat, saksi-saksi, dan tanggung jawab seorang nabi sangat layak untuk direnungkan agar hati kita tersentuh.

---

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas’ūd radhiyallāhu ‘anhu adalah salah satu sahabat yang paling fasih dan merdu suaranya dalam membaca Al-Qur’an. Suatu hari, ia datang kepada Nabi ﷺ dan membaca surat An-Nisā’ dengan suara yang indah dan penuh penghayatan. Ketika sampai pada ayat tentang saksi di hari kiamat, Nabi ﷺ yang mulia menahan tangisnya. Air mata beliau mengalir, karena ingat akan beban besar yang akan beliau emban di hadapan Allah.

Setelah itu, Ibnu Mas’ūd berkata kepada para sahabat: “Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Barangsiapa yang ingin mendengar Al-Qur’an sebagaimana diturunkan, hendaklah ia mendengarkan bacaan Ibnu Ummi ‘Abd (Ibnu Mas’ūd).’” (HR. Ahmad, no. 3944, sanad shahih)

Kisah ini mengajarkan bahwa orang yang paling dekat dengan Al-Qur’an pun masih merasakan getaran dahsyat saat merenungkan ayat-ayat Allah. Maka, bagaimana dengan kita? Adakah air mata yang mengalir saat kita membaca atau mendengar firman-Nya? Semoga Allah melunakkan hati kita.

---

Kesimpulan Praktis

  • 📖 Rutinkan tadabbur Al-Qur’an: Jangan hanya membaca cepat, tetapi renungkan maknanya, terutama ayat-ayat tentang janji dan ancaman.
  • 🎧 Saling mendengarkan bacaan: Ajak keluarga atau teman untuk saling membaca dan mendengarkan Al-Qur’an agar lebih khusyuk.
  • 😢 Biarkan hati menangis karena takut kepada Allah – itu adalah tanda iman yang hidup. Jangan pernah malu dengan air mata karena mengingat-Nya.
  • 🤲 Perbanyak doa agar Allah memberi kita kepekaan hati terhadap Al-Qur’an dan menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang selalu merenungkan ayat-ayat-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.