Penjelasan Hadits Bukhari No. 5050 tentang Anjuran membaca Al-Qur'an dan menangis saat mendengarnya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa mendengarkan bacaan Al-Qur'an adalah ibadah yang mulia, dan bahwa Nabi ﷺ sendiri meminta sahabat membacakan Al-Qur'an kepadanya. Ketika sampai pada ayat tentang persaksian di hari kiamat, Nabi ﷺ menangis karena merenungi beratnya pertanggungjawaban dan kasih sayangnya kepada umatnya. Dari sini kita belajar adab membaca dan mendengar Al-Qur'an dengan hati yang hadir.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Keutamaan Al-Qur'an, Bab Perkataan Pembaca kepada Pendengar, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

Ayat yang dibacakan:

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا

"Bagaimana (halnya) nanti ketika Kami mendatangkan dari setiap umat seorang saksi dan Kami mendatangkan kamu (Wahai Muhammad) sebagai saksi terhadap mereka." (QS. An-Nisa' [4]: 41)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disyariatkannya mendengarkan bacaan Al-Qur'an, dan bahwa menangis ketika mendengar atau membaca Al-Qur'an adalah tanda kelembutan hati dan keimanan. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menegaskan keutamaan mendengarkan Al-Qur'an dan merenungi maknanya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama, Nabi ﷺ meminta Ibnu Mas'ud membacakan Al-Qur'an kepadanya. Ini menunjukkan bahwa mendengarkan Al-Qur'an memiliki keutamaan tersendiri, bahkan bagi orang yang sudah hafal dan memahami Al-Qur'an. Imam Ibnu Hajar menyebutkan bahwa dalam mendengarkan ada perenungan (tadabbur) yang lebih dalam, karena pendengar lebih fokus pada makna.

Kedua, Ibnu Mas'ud merasa heran dan bertanya, "Apakah aku membacakan kepadamu padahal Al-Qur'an diturunkan kepadamu?" Nabi ﷺ menjawab "Ya." Ini menunjukkan kerendahan hati Nabi ﷺ dan bahwa beliau tetap ingin mendengar Al-Qur'an dari lisan sahabatnya.

Ketiga, ketika sampai pada ayat 41 Surah An-Nisa', Nabi ﷺ berkata "Cukup untuk saat ini," lalu matanya menangis. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan dahsyatnya hari kiamat, di mana setiap umat akan dihadirkan saksinya, dan Nabi Muhammad ﷺ akan menjadi saksi atas umatnya. Tangisan Nabi ﷺ menunjukkan betapa beliau merenungi beratnya tanggung jawab dan kasih sayangnya kepada umatnya.

Keempat, Imam Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma'ad menyebutkan bahwa menangis saat membaca atau mendengar Al-Qur'an adalah tanda hati yang hidup dan iman yang kuat. Ini juga dicontohkan oleh para salaf seperti Al-Hasan al-Bashri yang dikenal sering menangis ketika membaca Al-Qur'an.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling fasih dan indah dalam membaca Al-Qur'an. Nabi ﷺ pernah bersabda, "Barangsiapa ingin membaca Al-Qur'an sebagaimana ia diturunkan, hendaklah ia membacanya dari Ibnu Mas'ud." (HR. Ibnu Majah, dishahihkan al-Albani).

Pada suatu hari, Nabi ﷺ memanggilnya dan berkata, "Bacakan Al-Qur'an kepadaku." Ibnu Mas'ud membacakan Surah An-Nisa' dengan penuh kekhusyukan. Ketika sampai pada ayat tentang persaksian di hari kiamat, Nabi ﷺ yang mendengarkan dengan mata terpejam, tiba-tiba air matanya mengalir. Beliau menghentikan bacaan itu dengan lembut, "Cukup untuk saat ini." Ibnu Mas'ud menoleh dan melihat wajah Nabi ﷺ yang basah oleh air mata. Hikmahnya: Al-Qur'an bukan sekadar bacaan, tetapi pesan yang harus menyentuh hati dan menggerakkan jiwa.

Kesimpulan Praktis

  1. Biasakan membaca Al-Qur'an dan mendengarkannya dengan hati yang hadir, bukan sekadar lisan.
  2. Renungkan makna ayat-ayat yang dibaca, terutama yang berkaitan dengan hari kiamat dan pertanggungjawaban.
  3. Menangis karena takut kepada Allah dan merenungi Al-Qur'an adalah tanda keimanan yang baik.
  4. Contohlah kerendahan hati Nabi ﷺ yang mau mendengarkan bacaan sahabatnya.
  5. Ajarkan dan ingatkan keluarga untuk mencintai Al-Qur'an dengan membaca dan mendengarkannya bersama.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?