Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita dua hal penting. Pertama, larangan untuk berkata "aku lupa ayat ini" karena itu menyalahkan diri sendiri, padahal lupa itu adalah ketetapan Allah. Kedua, perintah untuk senantiasa mengulang-ulang (muraja'ah) hafalan Al-Qur'an, karena Al-Qur'an itu sangat cepat "lepas" dari dada manusia, lebih cepat daripada unta yang lepas dari ikatannya. Ini adalah dorongan agar kita bersungguh-sungguh menjaga hafalan Al-Qur'an.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Al-Qur'an, Bab Mengingat Al-Qur'an dan Menjaganya, nomor 5032, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
Teks Hadits (dengan harakat):
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَرْعَرَةَ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ " بِئْسَ مَا لأَحَدِهِمْ أَنْ يَقُولَ نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ بَلْ نُسِّيَ، وَاسْتَذْكِرُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنْ صُدُورِ الرِّجَالِ مِنَ النَّعَمِ "
Terjemahan: "Sungguh buruk bagi salah seorang di antara kalian mengatakan, 'Aku telah melupakan ayat sekian dan sekian,' karena sesungguhnya ia telah dilupakan (oleh Allah). Maka teruslah kalian membaca Al-Qur'an, karena ia lebih cepat pergi dari hati-hati manusia daripada unta dari ikatannya."
Dalil Al-Qur'an yang terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ
"Sesungguhnya Kamilah yang mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu) membacanya." (QS. Al-Qiyamah [75]: 17)
Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga Al-Qur'an di dalam dada adalah urusan Allah, dan Dia pula yang menetapkan lupa bagi hamba-Nya.
Penjelasan Ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "بَلْ نُسِّيَ" (bahkan ia telah dilupakan) adalah Allah-lah yang menjadikan orang tersebut lupa. Ini sebagai teguran agar hamba tidak menyandarkan kekurangan kepada dirinya sendiri dengan nada bangga, tetapi hendaknya bersandar kepada Allah.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (hadits serupa) menjelaskan bahwa larangan ini bersifat makruh (tidak disukai) jika diucapkan karena meremehkan, namun jika diucapkan karena merasa sedih dan menyesal atas kelupaannya, maka tidak mengapa.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
- Larangan Mengucapkan "Aku Lupa" dengan Nada Meremehkan:
Sabda Nabi ﷺ "بِئْسَ مَا لأَحَدِهِمْ" (Sungguh buruk bagi salah seorang di antara kalian) menunjukkan celaan terhadap perbuatan ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa-nya menjelaskan bahwa ucapan ini tercela karena mengandung sikap tidak peduli terhadap Al-Qur'an. Seakan-akan orang itu menganggap remeh kehilangan hafalan Al-Qur'an, padahal Al-Qur'an adalah kitab Allah yang agung.
- Makna "بَلْ نُسِّيَ" (Bahkan ia telah dilupakan):
Ini adalah bimbingan Nabi ﷺ untuk mengganti ucapan "aku lupa" menjadi "aku dilupakan (oleh Allah)". Imam Al-Qurthubi (dalam konteks yang sama) dan para ulama lain menjelaskan, ini bukan berarti kita tidak boleh mengakui lupa, tetapi ini adalah adab dalam berbicara. Kita diajarkan untuk mengembalikan segala sesuatu kepada ketetapan Allah, karena lupa adalah sesuatu yang terjadi di luar kehendak kita. Ini juga mengajarkan kerendahan hati, bahwa kita tidak memiliki daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
- Perintah untuk Terus Mengulang (Muraja'ah):
Sabda Nabi ﷺ "وَاسْتَذْكِرُوا الْقُرْآنَ" (teruslah kalian membaca/mengulang Al-Qur'an) adalah perintah untuk bersungguh-sungguh menjaga hafalan. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hati manusia itu mudah lalai, dan Al-Qur'an adalah sesuatu yang mulia. Jika tidak dirawat dengan terus dibaca, ia akan cepat hilang.
- Perumpamaan Unta yang Lepas:
Nabi ﷺ mengumpamakan Al-Qur'an yang hilang dari hati seperti unta yang lepas dari ikatannya. Imam Al-Khathabi (dalam Ma'alim as-Sunan) menjelaskan, unta adalah hewan yang paling cepat kabur dan paling sulit dikejar kembali. Ini menunjukkan betapa cepat dan sulitnya mengembalikan hafalan Al-Qur'an jika sudah hilang. Karena itu, muraja'ah adalah kunci utama.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal (ulama besar dalam daftar rujukan kita) sangat perhatian terhadap Al-Qur'an. Beliau hafal satu juta hadits, namun beliau juga seorang penghafal Al-Qur'an yang kuat. Suatu saat, beliau ditanya tentang sebuah masalah, lalu beliau menjawabnya dengan menyebutkan dalil dari Al-Qur'an. Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf tidak pernah melupakan Al-Qur'an karena mereka senantiasa menjaganya dengan membaca dan mengamalkannya. Mereka memahami bahwa Al-Qur'an adalah sumber utama ilmu, dan menjaganya adalah bagian dari ibadah.
Hikmah: Para ulama terdahulu sangat menjaga hafalan Al-Qur'an mereka. Mereka tidak menganggap remeh kelupaan, tetapi mereka berusaha keras untuk terus mengulang dan mengamalkannya.
Kesimpulan Praktis
- Jaga Lisan: Hindari ucapan "aku lupa" dengan nada meremehkan. Gantilah dengan "aku dilupakan" atau "aku belum mengulangnya", sebagai bentuk pengakuan akan kelemahan diri dan ketetapan Allah.
- Jadwalkan Muraja'ah: Tetapkan waktu khusus setiap hari untuk mengulang hafalan Al-Qur'an, meskipun hanya beberapa ayat. Konsistensi lebih utama daripada kuantitas.
- Iringi dengan Amal: Menjaga Al-Qur'an bukan hanya dengan hafalan, tetapi juga dengan membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
- Perbanyak Doa: Mohonlah kepada Allah agar Dia menjaga Al-Qur'an di dalam dada kita, karena Dialah yang menetapkan dan menghilangkan hafalan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.