Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 5026 tentang Bab Tidak Ada Hasad Kecuali Dalam Dua Hal

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa hasad (iri hati) yang diperbolehkan hanyalah dalam dua hal, yaitu iri kepada orang yang diberi ilmu Al-Qur'an dan mengamalkannya, serta iri kepada orang yang diberi harta dan membelanjakannya di jalan kebenaran. Hasad di sini bukan iri yang dengki, melainkan keinginan untuk mendapatkan nikmat yang sama agar bisa beramal seperti mereka. Ini adalah motivasi untuk berlomba dalam kebaikan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 5026) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Lafaz hadits yang disebutkan sudah tepat.

Para ulama dari kalangan salaf seperti Imam Al-Bukhari sendiri, Imam An-Nawawi, dan Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa hasad yang dimaksud di sini adalah ghibthah (keinginan memiliki nikmat seperti orang lain tanpa disertai keinginan hilangnya nikmat dari orang tersebut). Ini adalah akhlak terpuji.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu dalil tentang bolehnya berlomba-lomba dalam kebaikan. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (6/96) menjelaskan bahwa hasad yang tercela adalah mengharapkan hilangnya nikmat dari orang lain. Sedangkan hasad yang dimaksud dalam hadits ini adalah ghibthah, yaitu keinginan untuk mendapatkan nikmat yang sama tanpa mengharapkan hilangnya nikmat dari orang lain. Ini adalah perkara yang terpuji dan dianjurkan.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari (13/506) menambahkan bahwa dua golongan ini adalah orang yang paling utama karena mereka menggunakan nikmat Allah (Al-Qur'an dan harta) untuk ketaatan. Orang yang iri kepada mereka berarti ia memiliki semangat untuk meraih kebaikan yang sama.

Pertama: Orang yang diberi ilmu Al-Qur'an dan mengamalkannya.

Orang ini membaca Al-Qur'an di waktu malam dan siang. Ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya menghafal, tetapi juga mentadabburi dan mengamalkannya. Tetangganya yang mendengar lalu berharap memiliki kemampuan yang sama, ini adalah hasad yang terpuji karena ia ingin beramal seperti orang tersebut.

Kedua: Orang yang diberi harta dan membelanjakannya di jalan yang benar.

Harta yang dimaksud adalah harta halal yang digunakan untuk kebaikan, seperti sedekah, membantu fakir miskin, dan jihad. Orang yang melihatnya lalu berharap memiliki harta yang sama agar bisa beramal seperti dia, ini juga hasad yang terpuji.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam (2/389) menjelaskan bahwa kedua golongan ini adalah orang yang paling beruntung karena mereka menggunakan nikmat Allah untuk ketaatan. Orang yang iri kepada mereka berarti ia memiliki keinginan kuat untuk meraih kebaikan yang sama.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Ada dua orang yang aku iri kepadanya: seorang yang diberi harta oleh Allah lalu ia membelanjakannya di jalan kebenaran, dan seorang yang diberi hikmah (ilmu) oleh Allah lalu ia mengajarkannya dan orang-orang mengambil manfaat darinya." (HR. Ahmad, no. 3597, sanadnya hasan).

Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat pun memiliki semangat untuk berlomba dalam kebaikan. Mereka tidak iri dengan keburukan, tetapi iri dengan kebaikan yang bisa diamalkan.

Kesimpulan Praktis

  1. Niatkan hasad hanya untuk kebaikan: Jika melihat orang yang diberi nikmat ilmu atau harta dan ia menggunakannya untuk ketaatan, maka irilah dengan cara berdoa agar Allah memberi nikmat yang sama dan berusaha meniru amalnya.
  2. Jauhi hasad yang tercela: Hasad yang membuat kita dengki dan ingin nikmat orang lain hilang adalah dosa besar.
  3. Gunakan nikmat untuk ketaatan: Jadilah orang yang membaca Al-Qur'an dan mengamalkannya, serta menggunakan harta di jalan yang benar, agar menjadi teladan bagi orang lain.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.