Penjelasan Hadits Shahih Al-Bukhari No. 4956
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan permulaan wahyu yang diterima Nabi ﷺ, yaitu dimulai dengan mimpi yang benar (ru'ya shadiqah), lalu malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama, yaitu perintah membaca (iqra') dalam Surah Al-'Alaq ayat 1–4. Hadits ini menunjukkan bahwa wahyu pertama menegaskan tentang penciptaan manusia dari 'alaq (segumpal darah) dan pentingnya ilmu serta membaca. Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam Kitab Tafsir, pada bab yang menjelaskan firman Allah "Khalaqal-insana min 'alaq."
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an — QS. Al-'Alaq [96]: 1–4:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ ۚ ﴿١﴾ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۚ ﴿٢﴾ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُ ۙ ﴿٣﴾ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۙ ﴿٤﴾
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (no. 4956) dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, melalui jalur Az-Zuhri dari 'Urwah. Imam Al-Bukhari juga meriwayatkannya di awal Kitab Shahih-nya (no. 3) dalam bab "Bad'ul Wahyu" dengan redaksi yang lebih panjang, mencakup kisah Nabi ﷺ di Gua Hira hingga peristiwa pertama turunnya wahyu.
Kaitan dengan ulama:
- Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) meriwayatkan hadits ini dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Tafsir.
- Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri), seorang tabi'in besar, adalah perawi utama dalam sanad ini.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan secara panjang lebar hadits ini, termasuk bab "Bad'ul Wahyu."
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menjelaskan makna ru'ya shadiqah sebagai permulaan wahyu.
Penjelasan Rinci
1. Permulaan Wahyu dengan Mimpi yang Benar
'Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa awal mula wahyu kepada Rasulullah ﷺ adalah ar-ru'ya ash-shadiqah (mimpi yang benar). Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hikmah dimulainya wahyu dengan mimpi adalah agar Nabi ﷺ terbiasa menerima sesuatu dari alam ghaib secara bertahap, sehingga ketika wahyu datang secara langsung dalam keadaan sadar, beliau sudah siap menerimanya. Mimpi yang benar ini adalah salah satu dari 46 bagian kenabian, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain yang shahih.
2. Kedatangan Malaikat Jibril dan Wahyu Pertama
Setelah masa mimpi yang benar berlangsung, malaikat Jibril datang kepada Nabi ﷺ di Gua Hira dan menyampaikan wahyu pertama: Iqra' bismi rabbikal-ladzi khalaq — "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan."
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah ayat pertama yang turun dari Al-Qur'an, dan merupakan pembuka kenabian. Perintah "iqra'" (bacalah) menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung ilmu dan membaca. Namun membaca di sini bukan sekadar membaca, melainkan membaca dengan menyebut nama Allah — artinya ilmu harus dilandasi dengan kesadaran akan Allah.
3. Makna "Khalaqal-Insana Min 'Alaq"
Allah menyebutkan bahwa Dia menciptakan manusia dari 'alaq — segumpal darah yang menempel. Mujahid bin Jabr dan Qatadah bin Di'amah as-Sadusi menafsirkan 'alaq sebagai darah yang membeku atau sesuatu yang bergantung di rahim. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa penyebutan penciptaan manusia dari sesuatu yang hina ini adalah untuk menunjukkan kekuasaan Allah dan agar manusia tidak sombong.
As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menjelaskan bahwa Allah menyebutkan penciptaan manusia dari 'alaq setelah perintah membaca, sebagai isyarat bahwa ilmu yang sejati adalah yang mengantarkan manusia mengenal Tuhannya dan asal-usul kejadiannya.
4. "Alladzi 'Allama bil-Qalam"
Ayat keempat menegaskan bahwa Allah adalah Yang Maha Mulia, yang mengajarkan manusia dengan pena. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Miftah Dar As-Sa'adah menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kemuliaan ilmu dan pena sebagai alat untuk mencatat ilmu. Allah mengajarkan manusia melalui pena — artinya ilmu harus dijaga dengan tulisan, dan ini adalah karunia besar dari Allah.
5. Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama
Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah Surah Al-'Alaq ayat 1–5 adalah wahyu pertama secara mutlak, ataukah Surah Al-Fatihah yang pertama. Namun jumhur ulama — termasuk Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan An-Nawawi — menegaskan bahwa ayat 1–5 dari Surah Al-'Alaq adalah wahyu pertama yang turun kepada Nabi ﷺ, berdasarkan hadits 'Aisyah ini. Pendapat ini yang paling kuat dan didukung oleh dalil yang shahih.
Story Telling
Diriwayatkan oleh 'Aisyah radhiyallahu 'anha — sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari — bahwa Nabi ﷺ sering menyendiri di Gua Hira untuk beribadah dan merenung. Beliau menjauhi kesyirikan dan keburukan kaumnya. Suatu malam, malaikat Jibril datang dan berkata, "Bacalah!" Nabi ﷺ menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Jibril lalu memeluk beliau dengan kuat hingga beliau merasa sesak, lalu melepaskan dan berkata lagi, "Bacalah!" Nabi ﷺ menjawab lagi, "Aku tidak bisa membaca." Jibril memeluk beliau untuk kedua kalinya hingga sesak, lalu melepaskan dan berkata, "Bacalah!" Nabi ﷺ menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Jibril memeluk beliau untuk ketiga kalinya, lalu melepaskan dan membacakan:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ ۚ ﴿١﴾ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۚ ﴿٢﴾ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُ ۙ ﴿٣﴾ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۙ ﴿٤﴾
Nabi ﷺ pulang dengan tubuh menggigil dan hati berdebar, menemui Khadijah radhiyallahu 'anha dan berkata, "Selimuti aku, selimuti aku!" Khadijah menyelimuti beliau hingga tenang, lalu beliau menceritakan apa yang terjadi. Khadijah berkata, "Bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinamu. Engkau menyambung silaturahmi, menanggung beban orang lain, memberi kepada yang kekurangan, menjamu tamu, dan menolong yang tertimpa musibah."
Hikmah: Kisah ini mengajarkan bahwa wahyu pertama adalah perintah membaca — menuntut ilmu. Namun ilmu yang benar adalah yang dilandasi iman kepada Allah. Juga mengajarkan bahwa istri yang shalihah seperti Khadijah adalah penopang dakwah yang luar biasa.
Kesimpulan Praktis
- Wahyu pertama adalah perintah membaca — Islam sangat menganjurkan menuntut ilmu, tetapi ilmu harus dilandasi dengan menyebut nama Allah.
- Mimpi yang benar adalah permulaan wahyu — ini menunjukkan bahwa mimpi yang baik bisa menjadi kabar gembira dari Allah, sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih.
- Manusia diciptakan dari 'alaq — renungkan asal kejadian kita agar tidak sombong dan selalu tawadhu kepada Allah.
- Pena dan tulisan adalah karunia Allah — gunakan untuk mencatat ilmu yang bermanfaat, bukan untuk keburukan.
- Teladani Khadijah — dukunglah dakwah dan orang-orang yang menuntut ilmu dengan doa, harta, dan semangat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.