Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang kasih sayang Allah kepada Nabi ﷺ. Ketika Nabi ﷺ sakit dan tidak bisa shalat malam (tahajud) selama dua atau tiga malam, datanglah seorang wanita musyrik yang mengejek beliau dengan mengatakan bahwa "setan" Nabi ﷺ telah meninggalkannya. Maka Allah langsung menurunkan wahyu untuk menghibur dan membela Nabi-Nya, yaitu awal surat Ad-Dhuha, yang menegaskan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan dan tidak membenci beliau. Ini adalah bukti betapa Allah sangat menjaga dan menyayangi Rasulullah ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
وَالضُّحٰىۙ ١ وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ ٢ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىۗ ٣
"Demi waktu dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu." (QS. Ad-Dhuha [93]: 1-3)
2. Hadits Terkait:
Hadits yang sedang kita bahas ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab "Perkataan-Nya: مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى" (nomor 4950), dari sahabat Jundub bin Sufyan radhiyallahu 'anhu.
3. Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa sebab turunnya (asbabun nuzul) ayat ini adalah karena keterlambatan wahyu yang membuat orang-orang musyrik berkata demikian. Beliau menukil riwayat-riwayat dari para ulama salaf tentang hal ini.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di (Taisir Karimir Rahman) menjelaskan bahwa ayat ini adalah kabar gembira bagi Nabi ﷺ bahwa Allah tidak meninggalkannya dan tidak membencinya, serta merupakan sanggahan terhadap perkataan orang-orang yang mengejek.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu riwayat tentang asbabun nuzul (sebab turunnya) surat Ad-Dhuha. Mari kita pahami poin-poin pentingnya:
- Sakitnya Nabi ﷺ dan Terhentinya Shalat Malam: Jundub bin Sufyan menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ menderita sakit sehingga tidak bisa melaksanakan shalat malam (tahajud) selama dua atau tiga malam. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia biasa yang juga bisa sakit. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah semangat beliau yang sangat menjaga ibadahnya, sehingga sakit yang menghalanginya dari shalat malam menjadi peristiwa yang diperhatikan oleh para sahabat.
- Ejekan Wanita Musyrik: Wanita yang datang itu adalah Ummu Jamil, istri Abu Lahab, yang dikenal sangat memusuhi Nabi ﷺ. Dia berkata dengan nada mengejek, "Wahai Muhammad! Saya pikir setanmu telah meninggalkanmu, karena saya tidak melihatnya bersamamu selama dua atau tiga malam!" Ucapan ini adalah bentuk penghinaan, karena orang-orang musyrik menganggap bahwa Nabi ﷺ didatangi oleh jin atau setan, bukan malaikat. Mereka menganggap terhentinya wahyu sebagai tanda bahwa "teman" Nabi ﷺ (yang mereka sebut setan) telah pergi.
- Turunnya Wahyu sebagai Pembelaan: Allah ﷻ tidak tinggal diam. Dia langsung menurunkan wahyu untuk membela dan menghibur Nabi-Nya. Ini menunjukkan betapa Allah sangat menjaga perasaan Rasulullah ﷺ. Allah bersumpah dengan waktu dhuha (waktu pagi yang cerah) dan malam yang sunyi, lalu berfirman: مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى yang artinya "Tuhanmu tidak meninggalkan engkau dan tidak (pula) membencimu."
- "Tidak meninggalkanmu" (مَا وَدَّعَكَ): Ini adalah bantahan langsung terhadap anggapan bahwa wahyu telah terputus karena Allah "bosan" atau "meninggalkan" Nabi ﷺ.
- "Tidak membencimu" (وَمَا قَلَى): Ini adalah bantahan terhadap anggapan bahwa Allah murka atau membenci Nabi ﷺ.
Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang mulia ini, dan tidak pernah membencinya. Justru Allah selalu menjaganya, menolongnya, dan memberinya taufik. Keterlambatan wahyu hanyalah hikmah dan ujian, bukan tanda kebencian.
- Hikmah dari Keterlambatan Wahyu: Para ulama, termasuk Imam Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa keterlambatan wahyu ini memiliki hikmah yang besar. Di antaranya adalah untuk menguji kesabaran Nabi ﷺ, dan juga untuk menunjukkan kepada orang-orang mukmin bahwa wahyu itu datang dari Allah semata, bukan karena kemauan Nabi ﷺ. Ketika wahyu datang kembali dengan surat yang penuh kasih sayang ini, hal itu menjadi penghibur yang sangat besar bagi hati beliau.
Story Telling
Ada kisah lain yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari sahabat Jundub bin Abdullah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu, yang mirip dengan hadits ini. Beliau berkata:
> "Nabi ﷺ sakit, maka beliau tidak bangun (shalat malam) selama satu atau dua malam. Lalu datanglah seorang wanita dan berkata, 'Wahai Muhammad, aku tidak melihat setanmu kecuali telah meninggalkanmu.' Maka Allah menurunkan: وَالضُّحٰىۙ وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى" (HR. Bukhari no. 4951)
Hikmah dari kisah ini: Betapa agungnya kedudukan Nabi ﷺ di sisi Allah. Ketika beliau disakiti hatinya oleh ejekan orang-orang kafir, Allah langsung turun tangan untuk menghibur dan membelanya. Ini mengajarkan kita bahwa Allah Maha Menjaga hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Jika Allah membela Nabi-Nya dari ejekan, maka Dia juga akan membela hamba-hamba-Nya yang shalih dari gangguan orang-orang yang zalim.
Kesimpulan Praktis
Dari hadits ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran untuk diamalkan:
- Yakinlah bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya yang beriman. Jika kita sedang diuji dengan keterlambatan pertolongan atau kesulitan, itu bukan berarti Allah membenci kita, tetapi justru untuk menguji kesabaran dan meningkatkan derajat kita.
- Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Sebagaimana wahyu kembali turun setelah terhenti, maka pertolongan Allah akan datang setelah kesulitan.
- Jadikan shalat malam sebagai kebiasaan. Meskipun Nabi ﷺ sakit, para sahabat memperhatikan bahwa beliau terbiasa shalat malam. Ini menunjukkan pentingnya ibadah ini dalam kehidupan seorang muslim.
- Jangan hiraukan ejekan dan hinaan orang kafir. Serahkan urusan pembelaan kita kepada Allah. Allah akan membela hamba-Nya yang ikhlas.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.