Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 4947 tentang Takdir telah ditetapkan, namun manusia tetap diperintahkan beramal

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang keseimbangan antara iman kepada takdir dan kewajiban beramal. Meskipun Allah telah menetapkan tempat kita di surga atau neraka, kita tidak boleh berdiam diri dan pasrah. Sebaliknya, kita justru harus bersungguh-sungguh beramal, karena Allah memudahkan setiap hamba untuk melakukan amal yang sesuai dengan takdirnya. Hadits ini juga menegaskan bahwa ilmu Allah yang terdahulu tidak menghilangkan tanggung jawab manusia untuk berusaha.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang dibaca Nabi ﷺ dalam hadits ini:

QS. Al-Lail [92]: 5-10

لْفَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ ۝ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ ۝ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ ۝ وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ ۝ وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ ۝ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ

"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan). Dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan)."

Hadits terkait:

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Kami sedang duduk di hadapan Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda: 'Tidak ada seorang pun dari kalian kecuali telah ditulis tempat duduknya di surga dan tempat duduknya di neraka.' Kami bertanya: 'Wahai Rasulullah, kalau begitu apakah kita tidak boleh berserah diri saja?' Beliau menjawab: 'Tidak, beramallah kalian, karena setiap orang dimudahkan (untuk melakukan amal sesuai takdirnya).' Kemudian beliau membaca ayat: 'Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa...'" (HR. Al-Bukhari no. 4947)

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalil bahwa takdir tidak menghalangi perintah untuk beramal. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa makna "setiap orang dimudahkan" adalah Allah memudahkan hamba-Nya untuk melakukan amal yang sesuai dengan apa yang telah ditakdirkan baginya.

Penjelasan Rinci

Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dalam beberapa poin penting:

1. Penetapan Takdir Telah Terjadi

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa hadits ini menegaskan keyakinan Ahlus Sunnah bahwa Allah telah menuliskan takdir seluruh makhluk, termasuk tempat akhir mereka di surga atau neraka. Ini adalah bagian dari ilmu Allah yang azali dan tidak berubah. Namun, keyakinan ini tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan amal.

2. Larangan Berserah Diri (Ittikal) dari Beramal

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah menjelaskan bahwa para sahabat ketika mendengar hadits tentang takdir, mereka langsung bertanya: "Apakah kita tidak boleh berpasrah saja?" Maka Nabi ﷺ dengan tegas menjawab: "Tidak, beramallah kalian." Ini menunjukkan bahwa pemahaman yang benar tentang takdir justru mendorong seseorang untuk semakin giat beramal, bukan bermalas-malasan.

3. Makna "Setiap Orang Dimudahkan"

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah Allah memudahkan setiap hamba untuk melakukan amal yang sesuai dengan takdirnya. Orang yang ditakdirkan bahagia akan dimudahkan untuk melakukan amal kebaikan, dan orang yang ditakdirkan sengsara akan dimudahkan untuk melakukan amal keburukan. Ini menunjukkan keadilan Allah, karena takdir tidak diketahui manusia kecuali setelah terjadi, dan manusia tetap diperintahkan beramal sesuai kemampuannya.

4. Tafsir Ayat dalam Hadits

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini mengandung kabar gembira dan kabar menakutkan sekaligus. Barangsiapa yang memberi (berinfak), bertakwa kepada Allah, dan membenarkan pahala terbaik (surga), maka Allah akan memudahkan baginya jalan kebaikan dan menjadikan amal kebaikan itu ringan baginya. Sebaliknya, barangsiapa yang bakhil, merasa cukup dengan dirinya tanpa butuh kepada Allah, dan mendustakan pahala terbaik, maka Allah akan memudahkan baginya jalan keburukan.

5. Perpaduan Antara Takdir dan Ikhtiar

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa takdir dan perintah beramal tidak bertentangan. Sebagaimana Allah memerintahkan hamba untuk makan dan minum padahal Allah telah menetapkan rezekinya, demikian pula Allah memerintahkan hamba untuk beramal padahal Allah telah menetapkan amalnya. Takdir adalah rahasia Allah yang tidak kita ketahui, sedangkan perintah beramal adalah perkara yang jelas yang harus kita kerjakan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sebagian sahabat pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang takdir ini dengan pertanyaan yang sama seperti dalam hadits di atas. Dalam riwayat lain yang juga shahih, Nabi ﷺ bersabda: "Beramallah kalian, karena setiap orang dimudahkan sesuai dengan apa yang ia diciptakan untuknya. Orang yang termasuk golongan bahagia akan dimudahkan untuk melakukan amal golongan bahagia, dan orang yang termasuk golongan sengsara akan dimudahkan untuk melakukan amal golongan sengsara." Kemudian beliau membaca ayat: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa..." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan betapa para sahabat sangat perhatian terhadap pemahaman yang benar tentang takdir. Mereka tidak ingin salah dalam memahami ajaran Nabi ﷺ, sehingga mereka langsung bertanya ketika ada hal yang belum jelas. Dan Nabi ﷺ dengan bijaksana menjawab dengan menggabungkan antara penetapan takdir dan kewajiban beramal.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman kepada takdir adalah bagian dari rukun iman yang wajib diyakini, termasuk bahwa Allah telah menuliskan takdir seluruh makhluk.
  2. Takdir tidak menghalangi perintah beramal — justru seorang mukmin harus semakin giat beramal karena tidak mengetahui takdirnya.
  3. Allah memudahkan hamba-Nya untuk melakukan amal yang sesuai dengan takdirnya, baik itu amal kebaikan maupun keburukan.
  4. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, dan jangan pula merasa aman dari azab Allah. Beramallah dengan ikhlas dan istiqamah.
  5. Perbanyak doa agar Allah memudahkan kita untuk melakukan amal kebaikan dan menjauhkan kita dari amal keburukan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.