Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 4944 tentang Bacaan Al-Qur'an sesuai riwayat Nabi Muhammad SAW

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa bacaan Al-Qur'an (qira'at) yang diajarkan Nabi ﷺ kepada para sahabat memiliki beberapa ragam yang semuanya benar dan bersumber dari wahyu. Hadits ini juga mengajarkan kita untuk berpegang teguh pada apa yang telah diajarkan dan disepakati, serta tidak mudah mengikuti keinginan orang lain dalam hal ibadah jika bertentangan dengan keyakinan yang kuat berdasarkan dalil. Kisah ini juga menggambarkan keilmuan dan keteguhan sahabat dalam mempertahankan apa yang mereka dengar langsung dari Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab "Dan Apa yang Diciptakan Laki-laki dan Perempuan", no. 4944. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat al-Musafirin, no. 823.

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Lail [92]: 1-4:

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ ﴿١﴾ وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ﴿٢﴾ وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنثَىٰ ﴿٣﴾ إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ ﴿٤﴾

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang, dan demi penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda."

Kaitan dengan Ulama:

Kisah dalam hadits ini berkaitan dengan perbedaan qira'at (bacaan) yang masyhur di kalangan sahabat. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa bacaan "wal-laili idzaa yaghsyaa... wa maa khalaqadz-dzakara wal-untsaa" adalah bacaan yang masyhur dan disepakati oleh para ulama. Namun, sebagian sahabat seperti Abdullah bin Mas'ud memiliki bacaan "wadz-dzakari wal-untsaa" yang merupakan bacaan yang diajarkan Nabi ﷺ secara khusus. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an diturunkan dalam tujuh huruf (ahruf sab'ah) yang memudahkan umat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menceritakan pertemuan antara para sahabat Abdullah bin Mas'ud dengan Abu Darda' radhiyallahu 'anhum. Ketika Abu Darda' bertanya tentang bacaan Abdullah bin Mas'ud, Alqamah (salah seorang murid utama Ibnu Mas'ud) membacakan surat Al-Lail dengan bacaan "wadz-dzakari wal-untsaa" (demi laki-laki dan perempuan) tanpa kata "maa khalaqa" (yang menciptakan).

Abu Darda' kemudian bersaksi bahwa ia mendengar Nabi ﷺ membaca dengan cara yang sama. Namun, ia menolak untuk mengikuti keinginan orang-orang yang memintanya membaca dengan lafazh "wa maa khalaqadz-dzakara wal-untsaa" (dan demi yang menciptakan laki-laki dan perempuan), karena ia berpegang teguh pada apa yang ia dengar langsung dari Nabi ﷺ.

Pemahaman Ulama:

  1. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya membaca Al-Qur'an dengan salah satu dari qira'at yang shahih, selama bacaan tersebut bersumber dari Nabi ﷺ. Beliau juga menjelaskan bahwa bacaan Ibnu Mas'ud "wadz-dzakari wal-untsaa" adalah bacaan yang shahih dan diriwayatkan secara mutawatir.
  2. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa perbedaan bacaan ini adalah salah satu bentuk kemudahan dari Allah ﷻ untuk umat ini. Beliau menegaskan bahwa semua qira'at yang shahih adalah wahyu dari Allah, dan tidak boleh seseorang mengingkari qira'at yang shahih hanya karena berbeda dengan yang ia hafal.
  3. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-Arba'in dan kitab-kitabnya menjelaskan bahwa sikap Abu Darda' yang menolak mengikuti keinginan orang-orang tersebut adalah bentuk keteguhan dalam berpegang pada sunnah. Beliau menekankan bahwa dalam masalah ibadah, kita tidak boleh mengikuti hawa nafsu atau keinginan orang banyak jika bertentangan dengan dalil yang shahih.
  4. Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam berbagai fatwanya menjelaskan bahwa perbedaan qira'at adalah rahmat dari Allah, dan semua qira'at yang shahih adalah benar. Beliau juga menekankan pentingnya berpegang pada apa yang telah diajarkan oleh para ulama dan tidak mudah terpengaruh oleh pendapat yang menyelisihi dalil.

Pelajaran Penting dari Hadits:

  1. Keutamaan Ilmu dan Menghafal Al-Qur'an: Abu Darda' bertanya tentang siapa yang menghafal Al-Qur'an, dan mereka menunjuk Alqamah. Ini menunjukkan bahwa menghafal Al-Qur'an adalah keutamaan yang diakui di kalangan sahabat.
  2. Keteguhan dalam Kebenaran: Abu Darda' menolak mengikuti keinginan orang-orang yang memintanya membaca dengan lafazh lain, meskipun bacaan tersebut juga shahih. Ini karena ia berpegang pada apa yang ia yakini berdasarkan apa yang ia dengar dari Nabi ﷺ.
  3. Adab dalam Menuntut Ilmu: Para sahabat Abdullah bin Mas'ud datang menemui Abu Darda' untuk belajar dan bertukar ilmu. Ini menunjukkan adab para salaf dalam menuntut ilmu, yaitu saling mengunjungi dan bertukar pengetahuan.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ. Beliau adalah orang yang pertama kali membaca Al-Qur'an dengan suara keras di hadapan kaum Quraisy di Makkah. Para sahabat sangat menghormati keilmuan beliau, sehingga banyak dari mereka yang belajar Al-Qur'an darinya.

Suatu ketika, para murid Ibnu Mas'ud, termasuk Alqamah, Al-Aswad, dan lainnya, pergi ke Syam untuk menuntut ilmu dan bertemu dengan para sahabat di sana. Ketika mereka bertemu dengan Abu Darda', beliau bertanya tentang bacaan Ibnu Mas'ud. Alqamah membacakan surat Al-Lail dengan bacaan yang diajarkan Ibnu Mas'ud. Abu Darda' kemudian bersaksi bahwa ia mendengar Nabi ﷺ membaca dengan cara yang sama.

Namun, ada sebagian orang yang ingin Abu Darda' membaca dengan lafazh lain, yaitu "wa maa khalaqadz-dzakara wal-untsaa". Abu Darda' menolak dengan tegas, karena ia tidak ingin menyelisihi apa yang ia dengar langsung dari Nabi ﷺ. Sikap ini menunjukkan betapa tingginya kecintaan para sahabat kepada sunnah Nabi ﷺ dan keteguhan mereka dalam mempertahankannya.

Hikmah dari kisah ini: Kita harus berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat dan ulama. Jangan mudah terpengaruh oleh pendapat yang menyelisihi dalil, meskipun datang dari banyak orang.

Kesimpulan Praktis

  1. Berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah.
  2. Menghormati perbedaan qira'at yang shahih, karena semuanya bersumber dari wahyu dan merupakan rahmat dari Allah ﷻ.
  3. Tidak mudah mengikuti keinginan orang banyak jika bertentangan dengan dalil yang shahih, sebagaimana sikap Abu Darda'.
  4. Menuntut ilmu dengan adab, saling mengunjungi dan bertukar ilmu sebagaimana para sahabat lakukan.
  5. Menghafal dan mempelajari Al-Qur'an dengan sungguh-sungguh, karena itu adalah warisan terbaik dari Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi