Penjelasan Hadits Bukhari No. 4943 tentang Perbedaan bacaan Al-Qur'an yang sahih dari Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan tentang perbedaan bacaan (qira'at) Al-Qur'an di kalangan sahabat, khususnya dalam surat Al-Lail ayat 1-3. Kisah ini menunjukkan bahwa perbedaan bacaan yang bersumber dari Nabi ﷺ adalah sesuatu yang benar dan tidak boleh diingkari, selama sanadnya shahih. Ini mengajarkan kita untuk saling menghormati perbedaan qira'at yang mutawatir dan tidak mudah menyalahkan saudara sesama muslim dalam hal yang memang memiliki landasan dari Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab "Wal-Laili Idza Yaghsya" (Bab: Dan Malam Apabila Menutupi), no. 4943, dari sahabat Abu Darda' radhiyallahu 'anhu.

Ayat yang dimaksud dalam hadits ini adalah firman Allah Ta'ala:

QS. Al-Lail [92]: 1-3

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ ١ وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ ٢ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَىٰ ٣

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan demi siang apabila terang benderang, dan demi penciptaan laki-laki dan perempuan."

Dalam riwayat yang dibacakan oleh Alqamah, beliau membaca: "Wadz-dzakari wal-untsa" (وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى) dengan huruf waw (dan) di awal, sebagaimana yang tertera dalam mushaf standar saat ini.

Namun, dalam riwayat lain yang masyhur dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau membaca: "Wadz-dzakari wal-untsa" dengan makna yang sama, tetapi ada riwayat yang menyebutkan beliau membaca "Wadz-dzakari wal-untsa" tanpa perbedaan makna, hanya saja mungkin berbeda dalam hal waqaf (berhenti) atau washal (lanjut) yang tidak mengubah arti.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

1. Perbedaan Qira'at adalah Rahmat

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan adanya perbedaan bacaan di kalangan sahabat yang semuanya bersumber dari Nabi ﷺ. Abu Darda' radhiyallahu 'anhu mendengar bacaan Alqamah yang berbeda dengan bacaan yang dikenal di kalangan penduduk Syam, namun beliau membenarkannya karena mengetahui bahwa bacaan tersebut juga berasal dari Nabi ﷺ.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa perbedaan qira'at yang mutawatir adalah wahyu dari Allah, dan semuanya benar. Tidak boleh seseorang mengingkari qira'at yang shahih hanya karena berbeda dengan yang ia ketahui.

2. Adab Menghadapi Perbedaan

Dalam hadits ini, Abu Darda' tidak marah atau menolak bacaan Alqamah. Beliau justru mengkonfirmasi terlebih dahulu: "Apakah kamu mendengarnya dari mulut temanmu (Ibnu Mas'ud)?" Setelah dijawab "ya", beliau berkata: "Saya juga mendengarnya dari mulut Nabi ﷺ." Ini menunjukkan adab yang mulia dalam menghadapi perbedaan—tidak terburu-buru menyalahkan, tetapi mencari tahu sumbernya.

Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab tafsir surat Al-Lail untuk menunjukkan bahwa bacaan "Wadz-dzakari wal-untsa" dengan huruf waw adalah bacaan yang shahih dan diriwayatkan dari Nabi ﷺ.

3. Kisah Alqamah dan Abu Darda'

Alqamah bin Qais adalah murid setia Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Beliau pergi ke Syam bersama beberapa sahabat Ibnu Mas'ud. Di sana, Abu Darda'—sahabat Nabi yang tinggal di Syam—mendengar kedatangan mereka dan datang untuk bertanya siapa yang paling baik bacaannya. Ketika Alqamah membaca, Abu Darda' langsung mengenali bahwa bacaan itu adalah bacaan yang ia dengar langsung dari Nabi ﷺ.

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa surat Al-Lail ini berisi sumpah Allah dengan malam, siang, dan penciptaan laki-laki serta perempuan, yang menunjukkan kekuasaan Allah dalam mengatur alam semesta dan makhluk-Nya.

4. Pelajaran tentang Persatuan Umat

Hadits ini juga mengajarkan bahwa perbedaan dalam hal-hal yang bersifat ihtimal (memungkinkan) tidak boleh menjadi sebab perpecahan. Para sahabat berbeda bacaan tetapi tetap bersaudara dan saling menghormati.

Story Telling

Ada kisah yang masyhur tentang Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Suatu hari, beliau mendengar seseorang membaca Al-Qur'an dengan bacaan yang berbeda dengan yang ia ajarkan. Beliau tidak langsung marah, tetapi pergi menemui Nabi ﷺ untuk menanyakan hal tersebut. Nabi ﷺ lalu bersabda bahwa keduanya benar, dan Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf (tujuh macam bacaan). Ini menunjukkan bahwa perbedaan qira'at adalah rahmat dari Allah untuk memudahkan umat ini.

Dalam hadits yang kita bahas, Abu Darda' menunjukkan sikap yang sama—tidak mengingkari bacaan yang berbeda, karena ia tahu bahwa semua itu berasal dari Nabi ﷺ. Sikap ini adalah teladan bagi kita dalam menghadapi perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Kesimpulan Praktis

  1. Hormati perbedaan qira'at yang shahih dan mutawatir, karena semuanya berasal dari Nabi ﷺ.
  2. Jangan terburu-buru menyalahkan saudara muslim yang berbeda bacaan atau pendapat, selama ada landasan dalilnya.
  3. Teladani sikap Abu Darda' yang lembut dan bijaksana dalam menghadapi perbedaan—bertanya, mengkonfirmasi, lalu membenarkan.
  4. Pelajari Al-Qur'an dengan baik sesuai kaidah tajwid dan qira'at yang shahih, serta rujuklah kepada ulama yang terpercaya.
  5. Jaga persatuan umat dengan tidak menjadikan perbedaan furu'iyah (cabang) sebagai sebab perpecahan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?