Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bagaimana Nabi ﷺ dahulu tergesa-gesa menggerakkan lidahnya saat wahyu turun, karena beliau sangat ingin segera menghafal Al-Qur'an. Lalu Allah menurunkan ayat agar beliau tidak tergesa-gesa, sebab Allah sendiri yang menjamin mengumpulkan dan membacakannya. Pelajarannya: kita dianjurkan tenang, tidak tergesa-gesa, dan yakin bahwa Allah akan memudahkan urusan yang baik.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab firman Allah "لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ", dari jalur Al-Humaidi → Sufyan (bin 'Uyainah) → Musa bin Abi 'Aisyah → Sa'id bin Jubair → Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما.
Ayat yang terkait:
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ
QS. Al-Qiyamah [75]: 16
Terjemahan: "Janganlah engkau menggerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur'an) karena ingin cepat (menghafal)-nya."
Dan lanjutan ayatnya:
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ
QS. Al-Qiyamah [75]: 17
Terjemahan: "Sesungguhnya atas Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya."
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai bimbingan halus dari Allah kepada Nabi-Nya ﷺ agar tidak tergesa-gesa dalam menerima wahyu, karena Allah menjamin akan memelihara dan memudahkan bacaan Al-Qur'an bagi beliau. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas hadits ini dan menyebutkan bahwa perbuatan Nabi ﷺ menggerakkan lidah adalah bentuk kesungguhan beliau, lalu Allah mengarahkannya kepada adab yang lebih utama, yaitu tenang dan menunggu.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menggambarkan keadaan Nabi ﷺ ketika wahyu sedang turun. Karena begitu cintanya beliau kepada Al-Qur'an dan begitu besar keinginan beliau untuk segera menghafalnya, beliau menggerak-gerakkan lidah dan bibirnya mengikuti bacaan Jibril sebelum Jibril selesai membacakan. Sufyan bin 'Uyainah, salah seorang perawi dalam sanad ini, bahkan memperagakan gerakan bibir tersebut untuk menjelaskan bagaimana Nabi ﷺ melakukannya.
Melihat hal itu, Allah menurunkan ayat 16–17 dari Surah Al-Qiyamah sebagai teguran yang lembut sekaligus janji yang menenangkan: jangan tergesa-gesa, karena Allah sendiri yang akan mengumpulkan Al-Qur'an di dalam dada beliau dan memudahkan beliau membacanya. Ini menunjukkan betapa Allah menjaga Nabi-Nya dan betapa besar rahmat dalam bimbingan tersebut.
Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما, sebagai sahabat yang dikenal luas ilmunya dalam tafsir, memahami ayat ini sebagai penjelasan tentang adab menerima ilmu: hendaknya seseorang tidak tergesa-gesa, tetapi tenang dan berserah kepada Allah. Ibnu Katsir menukil bahwa setelah ayat ini turun, setiap kali Jibril datang membacakan wahyu, Nabi ﷺ diam menunggu sampai Jibril selesai, lalu beliau membaca sebagaimana yang telah Allah jamin.
Para ulama dalam daftar rujukan, seperti Ibnu Hajar dan Ibnu Katsir, sepakat bahwa inti hadits ini adalah:
- Menjelaskan sebab turunnya (asbabun nuzul) ayat 16 Surah Al-Qiyamah.
- Menunjukkan keutamaan tenang dan tidak tergesa-gesa dalam menuntut ilmu.
- Menegaskan bahwa Allah menjamin pemeliharaan Al-Qur'an.
Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di antara ulama daftar mengenai makna hadits ini; semuanya memahami sebagai bimbingan adab dan janji Allah.
Story Telling
Diceritakan dari Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما bahwa dahulu ketika wahyu turun, Nabi ﷺ merasakan beban yang berat dan keinginan yang sangat kuat untuk segera menghafal setiap kata yang disampaikan Jibril. Beliau menggerakkan lidahnya dengan cepat, mengikuti bacaan Jibril, khawatir ada yang terlupa. Melihat kegelisahan yang penuh cinta itu, Allah Yang Maha Penyayang menurunkan ayat:
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ
"Janganlah engkau menggerakkan lidahmu untuk mempercepatnya."
Seakan-akan Allah berkata: tenanglah, wahai kekasih-Ku. Aku yang akan menjaganya untukmu. Sejak saat itu, Nabi ﷺ menjadi lebih tenang, menunggu Jibril menyelesaikan bacaan, lalu beliau membacanya dengan sempurna. Hikmahnya: ketika kita terlalu gelisah mengejar sesuatu yang baik, ingatlah bahwa Allah lebih tahu dan akan mengurusnya jika kita berserah dan tenang.
Kesimpulan Praktis
- Ketika menuntut ilmu, terutama Al-Qur'an, hendaknya tenang dan tidak tergesa-gesa; beri waktu untuk memahami dan menghafal dengan baik.
- Yakinlah bahwa Allah akan memudahkan urusan yang baik, termasuk menghafal Al-Qur'an, selama kita berusaha dengan sungguh-sungguh dan berserah kepada-Nya.
- Teladani adab Nabi ﷺ: beliau sangat mencintai Al-Qur'an, namun Allah mengajarkan beliau untuk tenang dan percaya kepada janji-Nya.
- Perbanyak doa dan minta kemudahan kepada Allah dalam menghafal dan memahami Al-Qur'an.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.