Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa setelah wahyu pertama turun di Gua Hira (QS. Al-'Alaq [96]: 1-5), Nabi ﷺ kembali ke rumah dengan perasaan takut dan meminta untuk diselimuti. Kemudian Allah ﷻ menurunkan QS. Al-Muddaththir [74]: 1-3 sebagai wahyu kedua yang berisi perintah untuk berdakwah dan memulai tugas kenabian secara terbuka. Hadits ini juga menjawab pertanyaan tentang surat pertama yang turun, di mana terdapat perbedaan antara pendapat yang mengatakan Al-'Alaq dan yang mengatakan Al-Muddaththir, namun keduanya benar karena Al-'Alaq turun lebih dulu sebagai awal kenabian, sedangkan Al-Muddaththir turun sebagai awal perintah berdakwah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
- QS. Al-Muddaththir [74]: 1-3
يٰٓاَيُّهَا الْمُدَّثِّرُۙ ١ قُمْ فَاَنْذِرْ ٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ٣
"Wahai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu."
- QS. Al-'Alaq [96]: 1
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۖ ١
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab tentang QS. Al-Muddaththir, dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Iman, Bab tentang awal mula wahyu.
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan turunnya QS. Al-Muddaththir setelah QS. Al-'Alaq. Beliau mengutip perkataan para ulama bahwa ayat-ayat Al-'Alaq adalah awal mula kenabian, sedangkan Al-Muddaththir adalah awal perintah untuk berdakwah secara terang-terangan.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama: Urutan turunnya wahyu
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan adanya dua pendapat tentang surat pertama yang turun. Pendapat yang masyhur adalah QS. Al-'Alaq, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Aisyah radhiyallahu 'anha tentang awal mula wahyu. Namun, Abu Salamah dan sebagian ulama berpendapat bahwa yang pertama turun adalah QS. Al-Muddaththir karena hadits Jabir ini.
Ibnu Hajar kemudian menjelaskan bahwa kedua pendapat ini dapat dikompromikan: QS. Al-'Alaq turun lebih dahulu sebagai awal kenabian, namun karena setelah itu ada masa fatrah (terputusnya wahyu), maka sebagian sahabat menganggap QS. Al-Muddaththir sebagai yang pertama turun setelah masa fatrah tersebut. Dengan demikian, tidak ada pertentangan yang sebenarnya.
Kedua: Kondisi Nabi ﷺ setelah menerima wahyu pertama
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa rasa takut yang dialami Nabi ﷺ adalah hal yang wajar karena beliau baru pertama kali menerima wahyu dan melihat Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia biasa yang memiliki perasaan, namun Allah ﷻ menjaganya.
Ketiga: Hikmah turunnya QS. Al-Muddaththir
Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat "قُمْ فَأَنْذِرْ" (bangunlah, lalu berilah peringatan) adalah perintah untuk memulai dakwah. Ini menunjukkan bahwa setelah Nabi ﷺ ditenangkan dengan diselimuti, beliau langsung mendapat tugas besar: berdakwah dan memperingatkan manusia dari kesyirikan.
Keempat: Adab Nabi ﷺ dalam menyampaikan ilmu
Dalam hadits ini, Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma berkata, "Aku tidak akan memberitahumu kecuali apa yang telah diberitahukan Rasulullah ﷺ kepada kami." Ini menunjukkan adab para sahabat dalam menyampaikan ilmu—mereka hanya menyampaikan apa yang mereka dengar langsung dari Nabi ﷺ, tidak menambah atau mengurangi.
Story Telling
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Aisyah radhiyallahu 'anha tentang awal mula wahyu. Beliau menceritakan bahwa ketika Nabi ﷺ menerima wahyu pertama di Gua Hira, beliau kembali kepada Khadijah dengan gemetar dan berkata, "Selimutilah aku, selimutilah aku." Khadijah kemudian menyelimuti beliau hingga rasa takutnya reda.
Khadijah radhiyallahu 'anha kemudian berkata dengan penuh keyakinan: "Tidak, demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Engkau menyambung silaturahmi, memikul beban orang lain, memberi kepada yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong orang yang tertimpa kebenaran."
Khadijah kemudian membawa Nabi ﷺ kepada Waraqah bin Naufal, sepupunya yang beragama Nasrani dan menguasai kitab-kitab suci. Waraqah berkata, "Ini adalah Namus (Jibril) yang pernah turun kepada Musa. Duhai, sekiranya aku masih muda dan hidup saat engkau diusir kaummu." Nabi ﷺ bertanya, "Apakah mereka akan mengusirku?" Waraqah menjawab, "Tidak ada seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa kecuali akan dimusuhi. Jika aku masih hidup hingga saat itu, aku akan menolongmu dengan pertolongan yang kuat."
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa dakwah selalu menghadapi tantangan, namun Allah ﷻ selalu memberikan ketenangan dan pertolongan kepada hamba-Nya yang ikhlas.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa Al-Qur'an adalah wahyu Allah ﷻ yang diturunkan secara bertahap dengan hikmah yang besar.
- Teladani kesabaran Nabi ﷺ dalam menghadapi awal dakwah yang penuh tantangan.
- Jadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup, bukan sekadar bacaan tanpa pemahaman dan pengamalan.
- Sampaikan ilmu dengan jujur dan amanah, sebagaimana para sahabat hanya menyampaikan apa yang mereka dengar dari Nabi ﷺ.
- Jangan takut dalam menyampaikan kebenaran, karena Allah ﷻ selalu bersama orang-orang yang bertakwa.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.