Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 4920 tentang Asal usul berhala dari orang saleh kaum Nuh

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah penjelasan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang asal-usul berhala yang disebutkan dalam Al-Qur'an surat Nuh ayat 23. Berhala-berhala itu awalnya adalah nama-nama orang saleh dari kaum Nuh. Ketika mereka wafat, setan membisikkan kepada kaumnya agar membuat patung-patung untuk mengenang mereka di tempat duduk mereka. Lama-kelamaan, setelah generasi yang mengetahui asal-usulnya wafat dan ilmu hilang, patung-patung itu mulai disembah. Ini adalah pelajaran besar tentang bahaya perbuatan yang mengarah pada kesyirikan, meskipun awalnya diniatkan baik.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Nuh [71]: 23

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

"Dan mereka berkata: 'Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr'."

Hadits:

Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab tentang firman Allah: "Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr" (no. 4920), dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Kaitan dengan Ulama:

Penjelasan ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari jalur Atha' bin Abi Rabah (salah satu ulama tabi'in yang tercantum dalam daftar rujukan) dari Ibnu Abbas. Ibnu Katsir dalam tafsirnya juga menukil riwayat-riwayat senada dari para ulama salaf seperti Qatadah dan lainnya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini menceritakan tentang tipu daya setan terhadap kaum Nuh. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menjelaskan bahwa nama-nama berhala tersebut adalah nama-nama orang saleh dari kaum Nuh. Ketika mereka wafat, kaumnya merasa kehilangan dan ingin mengenang mereka.

Di sinilah setan berperan. Setan membisikkan kepada mereka agar membuat patung atau tugu peringatan di tempat-tempat duduk orang saleh tersebut, lalu menamainya dengan nama-nama mereka. Tujuannya, agar ketika mereka melihat patung itu, mereka teringat akan kesalehan orang tersebut dan semakin semangat beribadah.

Namun, bahayanya muncul kemudian. Ketika generasi pertama yang mengetahui maksud sebenarnya wafat, dan ilmu tentang hal itu hilang (tidak diwariskan dengan benar), maka generasi berikutnya mengira bahwa patung-patung itulah yang disembah. Maka mulailah mereka menyembah patung-patung tersebut. Inilah yang disebut oleh Ibnu Abbas: "Mereka tidak disembah sampai generasi pertama wafat dan ilmu menjadi samar (tidak jelas), maka barulah patung-patung itu disembah."

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah pelajaran besar: perbuatan yang awalnya hanya sebatas penghormatan dan pengenangan, bisa berubah menjadi ibadah dan kesyirikan ketika ilmu hilang dan kebodohan merajalela. Beliau juga menukil perkataan para ulama salaf bahwa ini adalah asal mula syirik di muka bumi setelah masa Nabi Nuh.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan betapa bahayanya sikap berlebihan (ghuluw) terhadap orang-orang saleh. Apa yang dilakukan kaum Nuh awalnya bukanlah penyembahan, tetapi seiring waktu dan hilangnya ilmu, hal itu berubah menjadi kesyirikan yang besar.

Story Telling

Ada kisah yang masyhur dari para ulama salaf tentang pelajaran dari hadits ini. Disebutkan bahwa sebagian ulama salaf ketika membaca ayat ini, mereka menangis dan berkata: "Ini adalah orang-orang yang dahulunya adalah hamba-hamba Allah yang saleh. Ketika mereka wafat, setan menjadikan mereka sebagai berhala yang disembah. Maka janganlah kalian menjadikan kuburan para nabi dan orang saleh sebagai tempat ibadah yang berlebihan."

Kisah ini menunjukkan betapa para sahabat dan tabi'in sangat memahami bahaya perbuatan yang mengarah pada kesyirikan, meskipun niat awalnya baik. Mereka sangat menjaga kemurnian tauhid dan menjauhi segala wasilah yang bisa menjerumuskan ke dalam syirik.

Kesimpulan Praktis

  1. Hati-hati dengan perbuatan yang mengarah pada kesyirikan, meskipun niat awalnya baik seperti mengenang orang saleh.
  2. Ilmu adalah benteng utama dari tipu daya setan. Ketika ilmu hilang, kebodohan akan dimanfaatkan setan untuk menyesatkan manusia.
  3. Jangan berlebihan (ghuluw) dalam menghormati orang saleh, baik nabi, wali, maupun ulama, karena ini adalah pintu masuk kesyirikan.
  4. Pelajari tauhid dan syirik dengan benar, agar kita tidak terjerumus dalam perbuatan yang awalnya dianggap baik tetapi berujung pada kemusyrikan.
  5. Amalkan ikhlas dalam beribadah hanya kepada Allah, dan jadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan dalam segala hal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.