Penjelasan Hadits Bukhari No. 4919 tentang Hari

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tentang salah satu peristiwa besar di hari kiamat, yaitu ketika Allah ﷻ menampakkan "betis-Nya" (ungkapan yang wajib kita imani sesuai keagungan Allah tanpa menyerupakan dengan makhluk). Pada saat itu, seluruh mukmin akan bersujud kepada Allah, namun orang-orang munafik yang di dunia bersujud hanya karena pamer dan mencari pujian tidak akan mampu bersujud karena punggung mereka menjadi kaku seperti satu tulang. Ini adalah bukti keadilan dan kekuasaan Allah serta peringatan bagi kita agar ikhlas dalam beribadah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

Allah ﷻ berfirman:

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ

"Pada hari (ketika) betis disingkapkan, dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak mampu." (QS. Al-Qalam [68]: 42)

Hadits terkait:

Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab "يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ" (no. 4919), dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu.

Penjelasan ulama:

Imam Ibnu Katsir (dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, saat menafsirkan QS. Al-Qalam: 42) menjelaskan bahwa makna "كشف عن ساق" adalah Allah menampakkan kekuasaan dan keagungan-Nya yang dahsyat pada hari kiamat. Beliau merujuk pada hadits ini sebagai tafsir langsung dari Nabi ﷺ.

Imam Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam bab tafsir ayat tersebut, menunjukkan bahwa hadits ini menjelaskan makna ayat.

Imam An-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) mengatakan bahwa para ulama Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah memiliki "saaq" (betis) sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menanyakan "bagaimana" (bila kaifa) dan tanpa menyerupakan dengan makhluk (tasybih).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (dalam Syarh Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah) menegaskan bahwa kita mengimani sifat ini sebagaimana datang dalam Al-Qur'an dan hadits, dengan keyakinan bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya sedikit pun.

Penjelasan Rinci

Hadits ini termasuk dalam hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah (ash-shifat al-khabariyyah) yang wajib kita imani tanpa ta'wil (memalingkan makna) dan tanpa tahrif (mengubah lafazh). Para ulama dari kalangan salaf, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Malik, dan Imam Asy-Syafi'i, sepakat bahwa kita mengimani sifat-sifat ini sebagaimana datangnya, dengan keyakinan bahwa "ليس كمثله شيء" (tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia).

Makna hadits secara global:

  1. "Tuhan kita akan mengungkapkan betis-Nya" – Ini adalah sifat Allah yang kita imani. Yang dimaksud bukanlah betis seperti makhluk, tetapi sesuatu yang sesuai dengan keagungan Allah. Peristiwa ini terjadi pada hari kiamat sebagai tanda kebesaran Allah.
  2. "Semua orang beriman, laki-laki dan perempuan, akan bersujud kepada-Nya" – Ini menunjukkan kemuliaan orang-orang mukmin. Mereka diberi kemampuan untuk bersujud kepada Allah pada hari yang dahsyat itu sebagai penghormatan dan ibadah.
  3. "Orang-orang yang dahulu bersujud di dunia untuk pamer dan mencari nama baik" – Mereka adalah orang-orang munafik yang di dunia shalat dan beribadah hanya karena ingin dilihat manusia (riya' dan sum'ah). Pada hari kiamat, niat buruk mereka terbongkar.
  4. "Punggung mereka akan kaku seperti satu tulang" – Ini adalah hukuman yang adil. Mereka tidak mampu bersujud karena Allah menghalangi mereka. Ini menunjukkan bahwa amal yang tidak ikhlas tidak akan diterima dan bahkan menjadi sebab kerugian di akhirat.

Imam Ibnul Qayyim (dalam Madarijus Salikin) menjelaskan bahwa riya' adalah syirik kecil yang membatalkan pahala amal. Beliau mengutip hadits ini sebagai peringatan keras bagi orang yang beramal karena selain Allah.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali (dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam) mengatakan bahwa ikhlas adalah ruh amal. Tanpa ikhlas, amal seperti jasad tanpa ruh. Hadits ini menunjukkan bahwa amal yang bercampur riya' akan menjadi sia-sia di akhirat.

Story Telling

Diriwayatkan dari Fudhail bin 'Iyadh (salah seorang ulama besar tabi'ut tabi'in) bahwa beliau berkata: "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya', dan beramal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya."

Beliau juga pernah ditanya tentang riya', lalu beliau menjawab: "Jika engkau bisa beramal tanpa ingin diketahui siapa pun, lakukanlah. Karena tidak ada dosa bagimu jika orang lain tidak mengetahuimu."

Kisah ini mengingatkan kita bahwa para salaf sangat menjaga keikhlasan. Mereka khawatir amal mereka tercampur riya', sehingga mereka sering menyembunyikan amal kebaikan. Inilah yang membedakan antara amal yang diterima dan yang ditolak.

Kesimpulan Praktis

  1. Imani sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa menolaknya.
  2. Jaga keikhlasan dalam setiap ibadah. Niatkan hanya karena Allah, bukan karena pujian manusia atau popularitas.
  3. Perbanyak amal sembunyi-sembunyi agar terhindar dari riya'. Seperti sedekah rahasia, shalat malam, dan dzikir pribadi.
  4. Takutlah pada hari kiamat ketika semua yang tersembunyi akan terbongkar. Amal yang tidak ikhlas akan menjadi penyesalan.
  5. Minta pertolongan Allah agar diberi keikhlasan, karena ikhlas adalah karunia yang hanya diberikan kepada hamba-Nya yang dikehendaki.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?