Penjelasan Hadits Bukhari No. 4888 tentang Wasiat Umar menjaga hak muhajirin dan ansar

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi wasiat Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu kepada khalifah penggantinya agar menjaga hak kaum Muhajirin awal dan berbuat baik kepada kaum Anshar. Kaum Anshar dipuji karena mereka telah menyiapkan rumah dan iman di Madinah sebelum Nabi ﷺ berhijrah. Wasiat ini mengajarkan pentingnya mengenal jasa orang-orang beriman terdahulu, menunaikan hak mereka, serta bersikap lembut dengan memaafkan kesalahan mereka.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat yang menjadi dasar pujian kepada kaum Anshar adalah firman Allah:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

QS. Al-Hasyr [59]: 9

Terjemahan ringkas: "Dan orang-orang yang telah menempati rumah (Madinah) dan iman sebelum mereka (kaum Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka, dan tidak ada rasa dengki dalam dada mereka terhadap apa yang diberikan kepada kaum Muhajirin, dan mereka mengutamakan (kaum Muhajirin) atas diri mereka sendiri walaupun mereka dalam kekurangan. Barangsiapa dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung."

Hadits terkait: Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab firman Allah tentang orang-orang yang menempati rumah dan iman. Perawi sahabat: Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Amr bin Maimun.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan kaum Muhajirin awal dan kaum Anshar, serta kewajiban menjaga hak mereka. Ibnu Katsir dalam tafsirnya atas QS. Al-Hasyr [59]: 9 menjelaskan bahwa kaum Anshar adalah teladan dalam itsar (mengutamakan orang lain) dan kebersihan hati dari dengki.

Penjelasan Rinci

Hadits ini merupakan bagian dari wasiat Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu menjelang wafatnya. Beliau berpesan kepada khalifah setelahnya agar:

  1. Mengenal dan menunaikan hak kaum Muhajirin awal. Mereka adalah orang-orang yang berkorban meninggalkan kampung halaman dan harta demi agama. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa menjaga hak mereka berarti menghormati jasa mereka, tidak melupakan kedudukan mereka, dan memastikan mereka mendapatkan perlakuan yang adil.
  2. Berbuat baik kepada kaum Anshar. Mereka disebut "الَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ" — orang-orang yang telah menyiapkan rumah dan iman. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa maknanya: mereka telah menetap di Madinah dan hati mereka dipenuhi iman sebelum Nabi ﷺ hijrah. Mereka menyambut kaum Muhajirin dengan lapang dada, berbagi harta, dan tidak merasa berat.
  3. Menerima kebaikan mereka dan memaafkan kesalahan mereka. Ini menunjukkan sikap adil dan lembut: kebaikan dihargai, kesalahan tidak dibalas dengan kebencian, tetapi dimaafkan. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (ketika membahas hadits-hadits serupa tentang keutamaan Anshar) menegaskan bahwa memaafkan kesalahan orang beriman, terutama yang memiliki jasa besar, adalah bagian dari akhlak Islam.

Para ulama dari daftar yang menjelaskan ayat ini — seperti Mujahid, Qatadah, dan Ibnu Katsir — sepakat bahwa kaum Anshar memiliki kedudukan tinggi karena itsar dan kebersihan hati mereka. Qatadah menyebutkan bahwa mereka tidak merasa iri terhadap pemberian yang diterima kaum Muhajirin, bahkan mendahulukan mereka meski dalam kekurangan.

Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama daftar tentang keutamaan ini. Yang paling kuat adalah pendapat yang menetapkan kewajiban menjaga hak kedua kelompok ini sebagai bentuk syukur atas jasa mereka dan sebagai teladan bagi generasi setelahnya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ dan kaum Muhajirin tiba di Madinah, kaum Anshar membagi rumah dan harta mereka. Sa'd bin ar-Rabi' radhiyallahu 'anhu berkata kepada Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu: "Aku akan membagi hartaku menjadi dua, dan aku akan menceraikan salah satu istriku agar engkau dapat menikahinya." Abdurrahman bin Auf menjawab dengan lembut: "Semoga Allah memberkati keluargamu dan hartamu. Tunjukkanlah aku ke pasar." (Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari). Kisah ini menggambarkan itsar kaum Anshar yang dipuji dalam Al-Qur'an dan wasiat Umar. Hikmahnya: keimanan yang tulus melahirkan kemuliaan akhlak, dan jasa seperti ini tidak boleh dilupakan oleh generasi berikutnya.

Kesimpulan Praktis

  • Kenalilah jasa orang-orang beriman yang berkorban untuk agama, dan tunaikan hak mereka.
  • Berbuat baiklah kepada mereka yang telah berjasa, terimalah kebaikan mereka, dan maafkan kesalahan mereka.
  • Teladani itsar (mengutamakan orang lain) dan kebersihan hati dari dengki seperti kaum Anshar.
  • Jangan melupakan sejarah perjuangan para sahabat; ia menjadi pelajaran bagi umat setelahnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?