Penjelasan Hadits Bukhari No. 4855 tentang Nabi tidak melihat Tuhannya dan tidak mengetahui ghaib

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu dalil terpenting dalam masalah ru`yatullah (melihat Allah). Intinya, Aisyah radhiyallahu 'anha menegaskan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia. Yang beliau lihat dalam bentuk aslinya adalah Malaikat Jibril 'alaihis salam, sebanyak dua kali. Hadits ini juga menegaskan bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui ilmu ghaib dan tidak pernah menyembunyikan wahyu yang diperintahkan untuk disampaikan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab Tafsir Surat An-Najm, no. 4855, dari Masruq bin Al-Ajda' dari Aisyah radhiyallahu 'anha.

Dalil-dalil Al-Qur'an yang dibacakan Aisyah:

  1. QS. Al-An'am [6]: 103 — tentang Allah tidak dapat dijangkau penglihatan di dunia:

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui."

  1. QS. Asy-Syura [42]: 51 — tentang cara Allah berbicara dengan manusia:

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ

"Dan tidaklah mungkin bagi seorang manusia bahwa Allah berbicara dengannya kecuali dengan perantaraan wahyu, atau di balik tabir..."

  1. QS. Luqman [31]: 34 — tentang ilmu ghaib yang hanya milik Allah:

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا

"Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok."

  1. QS. Al-Ma'idah [5]: 67 — tentang kewajiban menyampaikan seluruh wahyu:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ

"Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu."

Kaitan dengan ulama: Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa Nabi ﷺ tidak melihat Allah di dunia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Al-Fatawa juga membahas masalah ini secara panjang lebar, dan beliau menegaskan bahwa melihat Allah dengan mata kepala di dunia adalah mustahil bagi manusia, dan yang benar adalah beliau ﷺ melihat Allah dengan hatinya, bukan dengan matanya.

Penjelasan Rinci

Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dari beberapa sisi:

Pertama: Masalah melihat Allah di dunia. Aisyah radhiyallahu 'anha dengan tegas membantah siapa pun yang mengaku bahwa Nabi ﷺ melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia. Ini sesuai dengan ijma' (kesepakatan) para ulama bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat melihat Allah dengan mata kepalanya. Allah berfirman kepada Musa 'alaihis salam ketika beliau meminta untuk melihat Allah: "Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku" (QS. Al-A'raf [7]: 143).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa yang benar adalah Nabi ﷺ melihat Allah dengan hatinya pada malam Isra' Mi'raj, bukan dengan matanya. Ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ melihat Tuhannya dengan hatinya. Adapun Aisyah menafikan melihat dengan mata, dan Ibnu Abbas menetapkan melihat dengan hati — keduanya tidak bertentangan.

Kedua: Masalah ilmu ghaib. Aisyah menegaskan bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok. Ini menegaskan bahwa ilmu ghaib mutlak hanya milik Allah. Nabi ﷺ hanya mengetahui apa yang Allah wahyukan kepadanya. Ini bantahan terhadap orang-orang yang mengklaim Nabi mengetahui hal-hal ghaib di luar yang diwahyukan.

Ketiga: Masalah tabligh (penyampaian wahyu). Aisyah menegaskan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah menyembunyikan satu pun wahyu yang diperintahkan Allah untuk disampaikan. Beliau menyampaikan semuanya dengan sempurna, tanpa dikurangi. Ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Ma'idah [5]: 67.

Keempat: Yang dilihat Nabi ﷺ dua kali adalah Jibril. Aisyah menjelaskan bahwa yang Nabi ﷺ lihat dalam bentuk aslinya adalah Malaikat Jibril, sebanyak dua kali. Ini merujuk kepada firman Allah dalam QS. An-Najm [53]: 13-14 tentang melihat Jibril di tempat yang tinggi (Sidratul Muntaha), dan QS. At-Takwir [81]: 23 tentang melihat Jibril di ufuk yang terang.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits Aisyah ini adalah bantahan terhadap kelompok yang mengklaim Nabi ﷺ melihat Allah di dunia. Beliau juga menegaskan bahwa ijma' ulama Ahlus Sunnah menyatakan melihat Allah hanya terjadi di akhirat bagi orang-orang beriman, bukan di dunia.

Story Telling

Ada kisah menarik tentang bagaimana para sahabat dan tabi'in sangat berhati-hati dalam masalah ini. Masruq bin Al-Ajda' — seorang tabi'in yang mulia dan murid setia Aisyah — ketika bertanya tentang hal ini, beliau sangat kaget mendengar jawaban Aisyah yang tegas. Aisyah berkata, "Apa yang kau katakan membuat rambutku berdiri!" Ini menunjukkan betapa agungnya masalah ini di sisi para sahabat.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa suatu ketika ada seseorang yang bertanya kepada Ibnu Abbas tentang apakah Nabi ﷺ melihat Tuhannya. Ibnu Abbas menjawab, "Ya, beliau melihat-Nya dengan hatinya." Maka Aisyah — yang mendengar hal ini — berkata, "Barangsiapa yang mengaku bahwa Muhammad melihat Tuhannya, maka sungguh dia telah berdusta besar terhadap Allah." Namun kemudian Aisyah menjelaskan maksudnya: yang beliau nafikan adalah melihat dengan mata, adapun melihat dengan hati, itu bisa terjadi.

Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat menjaga keagungan Allah dan tidak mudah menetapkan sesuatu tentang Allah tanpa dalil yang jelas. Mereka lebih memilih untuk berhati-hati dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan mengklaim bahwa Nabi ﷺ melihat Allah di dunia — ini adalah keyakinan yang salah dan dibantah oleh Aisyah radhiyallahu 'anha serta ijma' ulama Ahlus Sunnah.
  2. Ilmu ghaib mutlak milik Allah — Nabi ﷺ tidak mengetahui hal ghaib kecuali yang diwahyukan Allah kepadanya.
  3. Nabi ﷺ menyampaikan seluruh wahyu tanpa dikurangi — ini adalah konsekuensi dari amanah kenabian.
  4. Yang dilihat Nabi ﷺ dua kali adalah Jibril dalam bentuk aslinya, bukan Allah.
  5. Melihat Allah adalah kenikmatan terbesar di akhirat — inilah yang kita harapkan, sebagaimana doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu yang mulia."

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?