Penjelasan Hadits Bukhari No. 485 tentang Tempat shalat Nabi di masjid kecil dekat Madinah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah shalat di suatu tempat di perjalanan menuju Makkah, tepatnya di sebuah masjid kecil dekat Sharf ar-Rauha'. Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma mengetahui lokasi persisnya dan menunjukkan tempat itu kepada orang lain. Hadits ini menunjukkan bahwa tempat-tempat yang pernah digunakan Nabi ﷺ untuk shalat memiliki keutamaan untuk diikuti, dan para sahabat sangat bersemangat menjaga jejak sunnah beliau ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab ash-Shalah, Bab Masjid-Masjid di Jalan Kota Madinah dan Tempat-Tempat Shalat Nabi ﷺ, nomor 485, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.

Kaitan dengan ayat Al-Qur'an tentang mengikuti jejak Nabi ﷺ:

QS. Al-Ahzab [33]: 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."

QS. Ali 'Imran [3]: 31

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk bab tentang tempat-tempat yang pernah digunakan Nabi ﷺ untuk shalat, dan para sahabat berusaha meneladani beliau dalam hal ini sebagai bentuk ittiba' (mengikuti sunnah).

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini menggambarkan perhatian Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma terhadap tempat-tempat yang pernah digunakan Nabi ﷺ untuk shalat dalam perjalanan. Beliau menyebutkan secara detail: masjid kecil tersebut berada di tepi jalan sebelah kanan bagi orang yang menuju Makkah, dan jaraknya dari masjid yang lebih besar sekitar selemparan batu.

Pemahaman ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan beberapa hal penting:

  1. Ittiba' (mengikuti sunnah) — Para sahabat sangat antusias mengetahui dan mengikuti jejak Nabi ﷺ, termasuk tempat-tempat beliau shalat. Ini menunjukkan kecintaan mereka yang mendalam kepada Rasulullah ﷺ.
  2. Kebolehan shalat di tempat yang pernah digunakan Nabi ﷺ shalat — Sebagian ulama memahami bahwa shalat di tempat-tempat tersebut memiliki keutamaan tersendiri, bukan karena tempatnya suci secara khusus, tetapi karena mengikuti jejak Nabi ﷺ.
  3. Perhatian terhadap detail sunnah — Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma dikenal sangat teliti dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ, bahkan dalam hal-hal yang bersifat tempat dan arah.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menyebutkan bahwa para sahabat memang berusaha mengikuti jejak Nabi ﷺ dalam perjalanan, termasuk tempat-tempat beliau berhenti dan shalat. Namun beliau juga menegaskan bahwa keutamaan ini khusus berkaitan dengan ittiba', bukan berarti tempat tersebut menjadi tempat ibadah khusus yang disakralkan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa mengikuti jejak Nabi ﷺ dalam hal tempat shalat di perjalanan adalah baik jika tujuannya adalah ittiba', tetapi tidak boleh dijadikan sebagai tempat yang diagungkan secara berlebihan atau dijadikan tujuan perjalanan khusus (ziarah) yang tidak disyariatkan.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama seperti Ibnu Taymiyyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa menyebutkan bahwa mengkhususkan diri untuk shalat di tempat-tempat tertentu yang pernah digunakan Nabi ﷺ tanpa dalil yang jelas bisa masuk dalam kategori bid'ah jika dilakukan dengan keyakinan keutamaan khusus yang tidak ditetapkan syariat. Namun jika sekadar kebetulan shalat di tempat tersebut dalam perjalanan, maka tidak mengapa.

Pendapat yang paling kuat: mengikuti jejak Nabi ﷺ dalam perjalanan adalah baik sebagai bentuk ittiba', tetapi tidak boleh mengkhususkan perjalanan hanya untuk shalat di tempat-tempat tersebut, karena Nabi ﷺ sendiri tidak memerintahkan hal itu.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma adalah salah satu sahabat yang paling teliti dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa beliau bahkan mengikuti jejak Nabi ﷺ hingga dalam hal-hal kecil, seperti tempat berhenti, tempat shalat, dan arah perjalanan.

Suatu ketika, Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma dalam perjalanan menuju Makkah, beliau menunjukkan kepada orang-orang tempat-tempat yang pernah digunakan Nabi ﷺ untuk shalat. Beliau berkata tentang masjid kecil di Sharf ar-Rauha': "Di sana, di sebelah kananmu ketika kamu berdiri di masjid, kamu shalat." Beliau mengetahui persis lokasinya karena kecintaannya yang mendalam kepada Rasulullah ﷺ.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa para salafus shalih sangat bersemangat mengikuti jejak Nabi ﷺ, bukan karena tempatnya, tetapi karena kecintaan mereka kepada beliau ﷺ. Mereka memahami bahwa mengikuti sunnah adalah bukti cinta yang sejati.

Kesimpulan Praktis

  1. Teladani semangat ittiba' — Para sahabat sangat antusias mengikuti jejak Nabi ﷺ, termasuk dalam hal tempat shalat. Ini menunjukkan cinta mereka yang mendalam kepada beliau.
  2. Shalat di tempat yang pernah digunakan Nabi ﷺ — Jika kebetulan melewati tempat tersebut, tidak mengapa shalat di sana sebagai bentuk ittiba', tanpa keyakinan keutamaan khusus yang berlebihan.
  3. Jangan mengkhususkan perjalanan — Tidak disyariatkan melakukan perjalanan khusus hanya untuk shalat di tempat-tempat tersebut, karena Nabi ﷺ tidak memerintahkan hal itu.
  4. Fokus pada sunnah yang jelas — Yang paling utama adalah mengikuti sunnah Nabi ﷺ dalam ibadah sehari-hari yang telah beliau ajarkan secara jelas, seperti shalat lima waktu, sunnah rawatib, dan adab-adab Islam.
  5. Hindari ghuluw (berlebihan) — Jangan mengagungkan tempat-tempat tertentu secara berlebihan hingga melampaui batas syariat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?