Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan betapa dahsyatnya azab neraka dan betapa putus asanya para penghuninya. Mereka berteriak memanggil Malaikat Malik, penjaga neraka, agar memohon kepada Allah untuk mematikan mereka dan mengakhiri penderitaan mereka. Namun, permintaan itu mustahil dikabulkan, karena azab neraka itu kekal dan abadi. Hadits ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ membaca ayat ini di atas mimbar, yang mengajarkan kita untuk merenungkan Al-Qur'an dan menjadikannya sebagai peringatan bagi kita semua.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
- Nama Surah & Nomor Ayat: QS. Az-Zukhruf [43]: 77
- Teks Arab (dengan harakat lengkap):
وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ ۖ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ
- Terjemahan/Makna Ringkas: "Dan mereka berseru, 'Wahai (Malaikat) Malik! Biarlah Tuhanmu mematikan kami saja.' Dia (Malik) menjawab, 'Sungguh, kamu akan tetap tinggal (di neraka).'"
Hadits Terkait:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab tentang firman Allah (yang artinya), "Dan mereka berteriak, 'Wahai Malik, biarkan Tuhanmu mengakhiri kami.'" Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Ya'la bin Umayyah radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Al-Bukhari membawakan hadits ini dalam kitab tafsirnya untuk menjelaskan makna ayat tersebut.
- Sufyan bin 'Uyainah adalah salah satu perawi dalam sanad hadits ini, dan beliau adalah ulama besar tabi'ut tabi'in yang terkenal dengan pemahamannya yang mendalam tentang Al-Qur'an dan hadits.
- Qatadah bin Di'amah as-Sadusi, seorang tabi'in yang disebut dalam teks hadits, menjelaskan bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur'an adalah pelajaran dan peringatan bagi orang-orang setelah mereka.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini adalah gambaran paling jelas tentang keputusasaan total penghuni neraka. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan, ketika mereka telah merasakan pedihnya azab yang tak terperi, mereka tidak meminta untuk diringankan azabnya, tidak meminta untuk dikeluarkan dari neraka, tetapi mereka meminta sesuatu yang lebih mengerikan lagi, yaitu kematian. Ini menunjukkan bahwa azab yang mereka rasakan jauh lebih berat daripada kematian itu sendiri. Mereka memanggil Malaikat Malik, penjaga neraka yang sangat keras dan bengis, sebagai bentuk pengakuan bahwa mereka telah sepenuhnya tunduk di bawah kekuasaan Allah dan para malaikat-Nya.
Namun, jawaban Malaikat Malik sangat tegas dan memutuskan harapan mereka: "Sungguh, kamu akan tetap tinggal (di neraka)." Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil perkataan para ulama bahwa jawaban ini berarti mereka akan kekal di dalamnya dan tidak akan pernah mati. Ini adalah puncak dari siksaan, yaitu hilangnya harapan untuk keluar atau bahkan untuk mati.
Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah sering mengingatkan bahwa beriman kepada hari akhir dan segala peristiwanya, termasuk neraka, adalah salah satu fondasi keimanan. Membaca dan merenungkan ayat-ayat seperti ini adalah cara untuk menumbuhkan rasa takut yang bermanfaat, yang mendorong seorang hamba untuk menjauhi maksiat dan bersegera dalam ketaatan. Rasa takut yang benar bukanlah rasa takut yang membuat putus asa dari rahmat Allah, melainkan rasa takut yang menjadi pendorong untuk beramal saleh.
Hadits ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ membacakan Al-Qur'an kepada para sahabat di atas mimbar. Ini adalah bagian dari metode pengajaran beliau, yaitu menyampaikan wahyu dan menjelaskannya di hadapan umum. Para sahabat mendengarkan dengan seksama, dan kemudian mereka meriwayatkannya kepada generasi setelahnya. Ini menunjukkan pentingnya majelis ilmu dan menyampaikan ayat-ayat Al-Qur'an kepada orang banyak.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu ketika, Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an di atas mimbar. Di antara yang beliau baca adalah ayat tentang neraka ini. Lalu, beliau turun dari mimbar dalam keadaan air mukanya berubah karena sangat sedih dan takut. Ini menunjukkan betapa dalamnya penghayatan Nabi ﷺ terhadap ayat-ayat tentang azab Allah. Beliau adalah manusia yang paling mulia dan paling dicintai Allah, namun beliau tetap menunjukkan rasa takut yang sangat besar kepada Allah. Ini adalah pelajaran bagi kita bahwa semakin tinggi keimanan seseorang, semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah dan semakin dalam pula penghayatannya terhadap Al-Qur'an. Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak membaca Al-Qur'an dengan hati yang lalai, tetapi dengan tadabbur (perenungan) dan rasa takut yang mendorong kita untuk beramal.
Kesimpulan Praktis
- Renungkanlah Ayat-Ayat Al-Qur'an: Jangan hanya membacanya, tetapi pahami maknanya dan renungkanlah, terutama ayat-ayat tentang janji dan ancaman Allah.
- Tumbuhkan Rasa Takut yang Benar: Rasa takut kepada azab Allah adalah motivasi yang kuat untuk menjauhi kemaksiatan dan bersemangat dalam ketaatan.
- Jangan Pernah Putus Asa dari Rahmat Allah: Meskipun kita takut akan neraka, kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Sebaliknya, kita perbanyak istighfar dan taubat.
- Amalkan Ilmu yang Didapat: Setiap ilmu yang kita pelajari, terutama dari Al-Qur'an dan hadits, haruslah mendorong kita untuk beramal saleh dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.