Penjelasan Hadits Bukhari No. 4811 tentang Kebesaran Allah menggenggam seluruh alam pada hari kiamat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan seorang pendeta Yahudi yang datang kepada Nabi ﷺ dan menyampaikan bahwa dalam kitab mereka (Taurat) disebutkan bahwa Allah ﷻ menggenggam langit, bumi, dan seluruh makhluk pada Hari Kiamat. Nabi ﷺ membenarkan perkataan tersebut dengan tersenyum dan membacakan firman Allah dalam QS. Az-Zumar [39]: 67. Hadits ini menegaskan bahwa Allah ﷻ Maha Besar dan tidak ada yang mampu mengukur kebesaran-Nya, serta menetapkan sifat-sifat Allah yang sesuai dengan keagungan-Nya tanpa menanyakan "bagaimana" (tanpa takyif) dan tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk (tanpa tamtsil).

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Az-Zumar [39]: 67

وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖۖ وَالْاَرْضُ جَمِيْعًا قَبْضَتُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَالسَّمٰوٰتُ مَطْوِيّٰتٌۢ بِيَمِيْنِهٖۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

Artinya: "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan."

Hadits:

Hadits riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab perkataan Allah "وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ", dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah bantahan terhadap orang-orang musyrik yang tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, karena mereka menyekutukan-Nya dengan berhala-berhala yang tidak mampu menciptakan apa pun. Beliau juga menukil perkataan para ulama salaf tentang penetapan sifat "tangan" dan "jari" bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya.

Penjelasan Rinci

Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dari beberapa sisi:

1. Makna "Tidak Mengukur Allah dengan Ukuran yang Sebenarnya"

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah manusia tidak mengenal Allah dengan pengenalan yang benar, dan tidak mengagungkan-Nya dengan pengagungan yang layak bagi-Nya. Seandainya mereka benar-benar mengenal Allah, niscaya mereka tidak akan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.

2. Penetapan Sifat-Sifat Allah

Imam Al-Bukhari membawakan hadits ini dalam kitab tafsirnya untuk menjelaskan bahwa para sahabat memahami ayat ini sebagaimana adanya, tanpa menakwilkan (mengalihkan makna) dan tanpa menyerupakan. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu meriwayatkan hadits ini tanpa mengubah atau menafsirkan maknanya secara berbeda dari zhahirnya.

Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama salaf lainnya menetapkan bahwa Allah memiliki sifat "tangan" dan "jari" sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa kita mengetahui bagaimana hakikatnya. Sebagaimana perkataan Imam Malik ketika ditanya tentang "istiwa'": "Istiwa' itu diketahui maknanya, cara (bagaimana)nya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah."

3. Senyum Nabi ﷺ sebagai Pembenaran

Nabi ﷺ tersenyum hingga tampak gigi gerahamnya sebagai tanda membenarkan perkataan pendeta Yahudi tersebut. Ini menunjukkan bahwa apa yang disampaikan pendeta itu sesuai dengan apa yang ada dalam Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi ﷺ. Ini juga menjadi bukti kebenaran kenabian Muhammad ﷺ, karena berita yang sama terdapat dalam kitab-kitab terdahulu dan dalam Al-Qur'an.

4. Pelajaran tentang Ahlul Kitab

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya mengambil berita dari Ahlul Kitab jika berita tersebut dibenarkan oleh syariat kita. Namun jika bertentangan, maka kita tidak membenarkan dan tidak mendustakannya.

5. Bantahan terhadap Kaum Musyrik

Ayat ini turun sebagai bantahan terhadap kaum musyrik Quraisy yang berkata: "Kami menyembah berhala-berhala ini agar mereka mendekatkan kami kepada Allah." Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, karena mereka menyekutukan-Nya dengan makhluk yang lemah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, para sahabat merasa kagum dengan kebesaran Allah. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa seorang pendeta Yahudi datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: "Wahai Muhammad, sesungguhnya kami mendapati dalam Taurat bahwa Allah menjadikan langit di atas satu jari, bumi di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari, air dan tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari, lalu Dia berfirman: 'Akulah Raja'."

Maka Nabi ﷺ tersenyum hingga tampak gigi gerahamnya sebagai tanda membenarkan perkataan pendeta tersebut. Kemudian beliau membacakan ayat: "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya..." (QS. Az-Zumar [39]: 67).

Dalam riwayat lain dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: "Langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya berada dalam genggaman Allah, dan tidaklah Allah menciptakan makhluk yang lebih besar dari 'Arsy, namun 'Arsy itu sendiri dalam genggaman Allah seperti biji sawi di tangan salah seorang kalian."

Hikmah dari kisah ini: Kebesaran Allah tidak dapat diukur dengan akal manusia yang terbatas. Kita wajib mengimani sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya, karena akal manusia tidak mampu menjangkaunya.

Kesimpulan Praktis

  1. Mengimani kebesaran Allah bahwa seluruh alam semesta berada dalam kekuasaan dan genggaman-Nya pada Hari Kiamat.
  2. Menetapkan sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menakwilkan, tanpa menyerupakan, dan tanpa menanyakan bagaimana caranya.
  3. Tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, karena syirik adalah bentuk tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.
  4. Mengambil pelajaran dari Ahlul Kitab jika berita mereka sesuai dengan syariat kita, sebagaimana Nabi ﷺ membenarkan perkataan pendeta Yahudi tersebut.
  5. Bersikap tawadhu dalam beragama, tidak memperdebatkan hal-hal ghaib yang tidak kita ketahui hakikatnya, cukup mengimani dan menyerahkan ilmunya kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?