Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang kebesaran Allah ﷻ dan kekuasaan-Nya atas alam semesta. Matahari yang kita lihat terbenam setiap hari, menurut Nabi ﷺ, memiliki perjalanan dan keadaan yang hanya diketahui oleh Allah. Hadits ini juga menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah benar, dan apa yang diberitakan Nabi ﷺ tentang alam gaib adalah wahyu dari Allah, bukan karangan beliau semata.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْاَهِلَّةِ ۗ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِاَنْ تَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ ظُهُوْرِهَا وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقٰى ۗ وَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ أَبْوَابِهَا ۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
"Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui." (QS. Yasin [36]: 38)
2. Hadits Terkait:
Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab tentang firman Allah: "Dan matahari berjalan di tempat peredarannya" (no. 4802), dari sahabat Abu Dzarr Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu.
3. Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini memberitakan tentang perjalanan matahari menuju tempat yang telah ditentukan, dan beliau menukil hadits Abu Dzarr ini sebagai penafsirannya.
- Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menjelaskan bahwa perjalanan matahari ini adalah bukti kekuasaan Allah dan bahwa Dia-lah yang mengatur alam semesta dengan ketentuan yang rapi.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Tentang Sujudnya Matahari di Bawah 'Arsy
Para ulama, di antaranya Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam Fath Al-Bari, menjelaskan bahwa sujudnya matahari adalah sujud yang hakiki sesuai dengan keagungan Allah, yang caranya tidak kita ketahui. Ini adalah perkara gaib yang wajib kita imani tanpa mempertanyakan bagaimana caranya. Imam Malik bin Anas ketika ditanya tentang istiwa' (bersemayamnya Allah di atas 'Arsy), beliau menjawab, "Istiwa' itu diketahui maknanya, caranya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah." Ini adalah prinsip Ahlus Sunnah dalam masalah-masalah gaib: menetapkan apa yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya tanpa menanyakan "bagaimana".
2. Tentang Tempat Terbenamnya Matahari
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna "tempat peredaran" (mustaqarr) ada dua pendapat ulama:
- Ada yang mengatakan ia adalah tempat di bawah 'Arsy, sebagaimana hadits Abu Dzarr ini.
- Ada yang mengatakan ia adalah akhir perjalanan matahari di langit, yaitu berhenti pada hari kiamat.
Kedua makna ini tidak bertentangan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin menjelaskan bahwa matahari memiliki peredaran harian (terbit dan terbenam) dan peredaran tahunan (berpindah antara utara dan selatan), dan semuanya berjalan dengan ketentuan Allah.
3. Tentang Ilmu Nabi ﷺ
Hadits ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ diberitahu oleh Allah tentang perkara-perkara gaib. Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Tafsir untuk menunjukkan bahwa Nabi ﷺ menafsirkan Al-Qur'an dengan wahyu dari Allah, bukan dengan pendapat pribadi.
4. Tentang Sikap Kita terhadap Hadits-Hadits Gaib
Imam Ahmad bin Hanbal berkata, "Pokok-pokok sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa yang dipegang oleh para sahabat Rasulullah ﷺ, dan menjadikan mereka sebagai teladan." Maka kita menerima hadits ini sebagaimana adanya, tanpa menolak atau menakwilkannya dengan cara yang menyimpang.
Story Telling
Ada kisah yang diriwayatkan dari Imam Abu Hanifah ketika beliau berdebat dengan orang-orang yang mengingkari perkara gaib. Beliau berkata kepada mereka, "Ceritakanlah kepadaku tentang sesuatu yang lebih agung dari segala sesuatu." Mereka menjawab, "Tidak ada yang lebih agung dari Allah." Beliau berkata, "Maka jika kalian mengakui keagungan Allah, mengapa kalian mengingkari kekuasaan-Nya untuk melakukan apa yang Dia kabarkan?"
Kisah ini mengajarkan kita bahwa keimanan kepada berita-berita gaib dari Allah dan Rasul-Nya adalah bagian dari keimanan kepada Allah itu sendiri. Jika kita mengakui Allah sebagai Pencipta yang Maha Kuasa, maka kita harus menerima kabar dari-Nya tentang ciptaan-Nya.
Kesimpulan Praktis
- Imani berita gaib yang disampaikan Nabi ﷺ, seperti sujudnya matahari di bawah 'Arsy, tanpa mempertanyakan caranya.
- Jadikan Al-Qur'an sebagai pedoman, karena hadits ini adalah penafsiran Nabi ﷺ terhadap firman Allah dalam QS. Yasin.
- Renungkan kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya, seperti matahari yang berjalan dengan teratur sesuai ketetapan-Nya.
- Jangan menolak hadits shahih hanya karena akal kita tidak mampu menjangkaunya, karena akal kita terbatas sedangkan ilmu Allah tidak terbatas.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.