Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan sifat malu (al-haya') yang dimiliki Nabi Musa عليه السلام, dan menjadi peringatan bagi kaum mukminin agar tidak menyakiti orang lain — terutama para nabi dan orang-orang shalih — dengan tuduhan atau perkataan yang tidak benar. Allah sendiri yang membela dan membersihkan nama Nabi Musa dari tuduhan kaumnya, karena kedudukannya yang mulia (wajih) di sisi Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang dikutip dalam hadits:
QS. Al-Ahzab [33]: 69
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَىٰ فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِندَ اللَّهِ وَجِيهًا
Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa, lalu Allah membebaskannya dari tuduhan-tuduhan mereka, dan dia adalah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Tafsir, no. 4799, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه. Sanadnya: Ishaq bin Ibrahim ← Rauh bin 'Ubadah ← 'Auf ← dari Al-Hasan, Muhammad, dan Khilas ← dari Abu Hurairah.
Keterangan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan sifat malu Nabi Musa, dan bahwa ayat tersebut turun sebagai penghiburan serta pembelaan Allah bagi Nabi Musa dari tuduhan Bani Israil.
- Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an al-'Azhim menyebutkan bahwa kaum Bani Israil pernah menuduh Nabi Musa dengan tuduhan yang tidak benar, lalu Allah membersihkannya dan menampakkan kebersihan dirinya di hadapan manusia.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan larangan menyakiti orang lain, khususnya para nabi dan orang shalih, karena hal itu termasuk dosa besar.
Penjelasan Rinci
Makna hadits:
Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa Nabi Musa عليه السلام adalah seorang yang sangat pemalu (حَيِيّ). Sifat malu ini adalah sifat terpuji yang menghalangi seseorang dari perbuatan buruk dan menjaga kehormatan diri. Kemudian Nabi ﷺ mengaitkannya dengan ayat 69 dari Surah Al-Ahzab, yang melarang kaum mukminin meniru perilaku Bani Israil yang menyakiti Nabi Musa dengan tuduhan palsu.
Bagaimana para ulama memahami hadits ini:
- Al-Hasan al-Bashri — beliau adalah salah satu perawi dalam sanad hadits ini — memahami bahwa sifat malu Nabi Musa adalah bagian dari keutamaan akhlak para nabi, dan bahwa Allah selalu membela hamba-Nya yang shalih dari kezaliman lisan orang lain.
- Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Bani Israil pernah menuduh Nabi Musa dengan tuduhan yang berkaitan dengan kehormatan dirinya, lalu Allah menampakkan kebersihan Nabi Musa di hadapan manusia. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa di antara tuduhan itu adalah tuduhan yang muncul setelah peristiwa tertentu, dan Allah membersihkan Nabi Musa dari semua itu.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa ayat ini mengandung larangan umum: janganlah kalian menyakiti orang lain sebagaimana Bani Israil menyakiti Nabi Musa. Beliau juga menyebutkan bahwa "wajih" (وَجِيهًا) berarti orang yang memiliki kedudukan dan kemuliaan di sisi Allah, sehingga doanya dikabulkan dan tidak ditolak.
- Imam an-Nawawi menekankan bahwa menyakiti orang mukmin — apalagi para nabi dan ulama — adalah dosa yang berat. Beliau juga menjelaskan bahwa sifat malu adalah cabang dari iman, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain yang shahih.
Perbedaan pendapat:
Para ulama berbeda pendapat tentang bentuk konkret tuduhan Bani Israil kepada Nabi Musa. Sebagian menyebutkan tuduhan terkait kehormatan diri, sebagian menyebutkan tuduhan terkait kematian seseorang. Namun yang paling kuat — sebagaimana disebutkan Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar — adalah bahwa tuduhan itu tidak benar dan Allah sendiri yang membersihkan Nabi Musa darinya. Yang penting bagi kita adalah pelajarannya: jangan menyakiti orang lain dengan tuduhan palsu.
Story Telling
Diriwayatkan dalam kitab-kitab tafsir dan sejarah — sebagaimana disebutkan Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar — bahwa Bani Israil pernah menuduh Nabi Musa عليه السلام dengan tuduhan yang tidak benar. Nabi Musa adalah seorang yang sangat pemalu dan tidak pernah mandi bersama orang lain. Suatu ketika, ketika beliau mandi di tempat yang tertutup, ada yang menuduhnya dengan tuduhan yang tidak pantas. Maka Allah membersihkan Nabi Musa dari tuduhan itu dengan cara yang Allah kehendaki, sehingga jelaslah kebersihan dan kehormatannya.
Hikmahnya: Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang shalih dizalimi dengan tuduhan palsu. Bisa jadi pembelaan itu datang di dunia, bisa jadi di akhirat. Yang penting bagi kita adalah menjaga lisan dari menyakiti orang lain, terutama para ulama dan orang-orang shalih.
Kesimpulan Praktis
- Jaga lisan dari menyakiti orang lain, terutama para nabi, ulama, dan orang-orang shalih. Tuduhan palsu adalah dosa besar.
- Teladani sifat malu Nabi Musa عليه السلام, karena malu adalah cabang iman dan pelindung dari perbuatan buruk.
- Yakinlah bahwa Allah membela hamba-Nya yang dizalimi. Jika kita dizalimi dengan tuduhan palsu, bersabarlah dan bertawakallah kepada Allah.
- Jangan meniru perilaku Bani Israil yang suka menyakiti nabi mereka sendiri. Umat Islam harus saling menghormati dan menjaga kehormatan sesama.
- Perbanyak doa agar Allah menjaga lisan kita dan menjauhkan kita dari perbuatan menyakiti orang lain.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.