Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang kebijaksanaan dan keadilan Nabi ﷺ terhadap istri-istri beliau. Setelah turun ayat yang memberikan keringanan kepada beliau untuk mengatur giliran di antara istri-istrinya, Nabi ﷺ tetap meminta izin kepada istri yang gilirannya akan beliau tinggalkan. Ini menunjukkan adab dan akhlak mulia beliau, serta bagaimana beliau menjaga perasaan istri-istrinya meskipun Allah telah memberikan keringanan. Jawaban Aisyah radhiyallahu 'anha yang mengutamakan keridhaan Rasulullah ﷺ di atas kepentingan dirinya adalah teladan sikap tawadhu dan cinta yang tulus.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Ahzab [33]: 51:
تُرْجِئُ مَنْ تَشَاءُ مِنْهُنَّ وَتُؤْوِي إِلَيْكَ مَنْ تَشَاءُ ۖ وَمَنِ ابْتَغَيْتَ مِمَّنْ عَزَلْتَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكَ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ تَقَرَّ أَعْيُنُهُنَّ وَلَا يَحْزَنَّ وَيَرْضَيْنَ بِمَا آتَيْتَهُنَّ كُلُّهُنَّ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي قُلُوبِكُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَلِيمًا
"Engkau (Muhammad) boleh menunda (giliran) siapa yang engkau kehendaki di antara mereka (istri-istrimu) dan boleh pula engkau menerima siapa yang engkau kehendaki; dan siapa yang engkau inginkan untuk menggauli (sementara) dari istri yang telah engkau sisihkan (gilirannya), maka tidak ada dosa bagimu. Yang demikian itu lebih dekat untuk menyejukkan hati mereka, tidak membuat mereka bersedih, dan mereka rela dengan apa yang telah engkau berikan kepada mereka. Dan Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun."
Hadits:
Hadits yang dimaksud diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab Penjelasan Ayat tersebut, dari Aisyah radhiyallahu 'anha.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini memberikan keringanan khusus kepada Nabi ﷺ untuk mengatur giliran istri-istrinya, namun beliau tetap memilih untuk berbuat adil dan meminta izin sebagai bentuk akhlak yang mulia.
- Imam Al-Qurthubi (meski tidak dalam daftar, namun penjelasan ini sejalan dengan ulama daftar) - namun kita fokus pada ulama dalam daftar. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kasih sayang Allah kepada Nabi-Nya dengan memberikan kelonggaran, namun Nabi ﷺ tetap memilih sikap yang lebih utama yaitu berbuat adil.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Mu'adzah yang bertanya kepada Aisyah radhiyallahu 'anha tentang sikap Nabi ﷺ setelah turunnya ayat ini.
Poin-poin penting dari hadits ini:
- Keringanan khusus bagi Nabi ﷺ: Ayat ini memberikan keringanan kepada Nabi ﷺ untuk mengatur giliran di antara istri-istrinya. Beliau boleh menunda giliran siapa yang beliau kehendaki, dan menerima siapa yang beliau kehendaki tanpa dosa. Ini adalah kekhususan bagi beliau, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
- Nabi ﷺ tetap meminta izin: Meskipun Allah memberikan keringanan ini, Nabi ﷺ tetap meminta izin kepada istri yang gilirannya akan beliau tinggalkan. Ini menunjukkan bahwa keringanan bukan berarti meninggalkan adab dan akhlak mulia. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini adalah bentuk keadilan dan penghormatan Nabi ﷺ kepada istri-istrinya, meskipun beliau tidak diwajibkan untuk itu.
- Jawaban Aisyah radhiyallahu 'anha: Ketika ditanya apa yang beliau katakan kepada Nabi ﷺ, Aisyah menjawab, "Jika itu terserah kepadaku, maka aku tidak ingin memberikan keutamaan (giliranku) kepada siapa pun di atasmu, wahai Rasulullah." Ini menunjukkan kecintaan Aisyah yang tulus kepada Nabi ﷺ dan sikapnya yang lebih mengutamakan keridhaan beliau daripada kepentingan dirinya.
- Hikmah dari ayat ini: Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa tujuan dari keringanan ini adalah untuk menyejukkan hati istri-istri Nabi ﷺ, menghilangkan kesedihan mereka, dan membuat mereka rela dengan apa yang diberikan. Ini menunjukkan perhatian Allah terhadap perasaan para istri Nabi ﷺ.
- Pelajaran tentang keadilan: Meskipun Nabi ﷺ diberikan keringanan, beliau tetap memilih untuk berbuat adil. Ini menunjukkan bahwa keadilan adalah sikap yang utama, dan keringanan tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan keadilan selama masih mampu melakukannya.
Pandangan ulama tentang ayat ini:
- Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai jawaban atas kecemburuan istri-istri Nabi ﷺ. Allah memberikan keringanan kepada Nabi-Nya untuk mengatur giliran, namun Nabi ﷺ tetap memilih untuk berbuat adil.
- Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab Tafsir untuk menjelaskan makna ayat tersebut, bahwa Nabi ﷺ mengamalkan ayat ini dengan tetap meminta izin, bukan dengan semena-mena.
- Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Fathul Bari (syarah hadits) menjelaskan bahwa sikap Nabi ﷺ ini menunjukkan bahwa keringanan dari Allah tidak boleh disalahgunakan, tetapi harus digunakan dengan bijaksana dan tetap menjaga perasaan orang lain.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha adalah istri yang paling dicintai oleh Nabi ﷺ. Namun, meskipun demikian, Nabi ﷺ tetap berusaha untuk berbuat adil di antara istri-istrinya. Beliau pernah bersabda:
اللَّهُمَّ هَذَا قَسْمِي فِيمَا أَمْلِكُ، فَلَا تَلُمْنِي فِيمَا تَمْلِكُ وَلَا أَمْلِكُ
"Ya Allah, ini adalah pembagianku dalam hal yang aku mampu. Maka janganlah Engkau mencelaku dalam hal yang Engkau kuasai dan aku tidak mampu." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ berusaha semaksimal mungkin untuk berbuat adil, meskipun hati beliau lebih condong kepada sebagian istri beliau. Namun, beliau tidak pernah membiarkan kecenderungan hatinya mengurangi keadilan dalam pembagian giliran.
Dalam hadits yang kita bahas ini, Aisyah radhiyallahu 'anha menunjukkan sikap yang sangat mulia. Beliau tidak memanfaatkan keringanan yang diberikan Allah kepada Nabi ﷺ untuk kepentingan dirinya, tetapi justru mengutamakan keridhaan Nabi ﷺ. Ini adalah teladan tentang bagaimana seorang mukmin seharusnya bersikap: lebih mengutamakan keridhaan Allah dan Rasul-Nya daripada kepentingan pribadi.
Kesimpulan Praktis
- Meneladani akhlak Nabi ﷺ dalam keadilan: Meskipun diberikan keringanan, Nabi ﷺ tetap memilih untuk berbuat adil dan menjaga perasaan orang lain. Kita harus meneladani sikap ini dalam kehidupan sehari-hari.
- Mengutamakan keridhaan Allah dan Rasul-Nya: Sikap Aisyah radhiyallahu 'anha yang lebih mengutamakan keridhaan Nabi ﷺ daripada kepentingan dirinya adalah teladan bagi kita untuk selalu mendahulukan keridhaan Allah dan Rasul-Nya.
- Menggunakan keringanan dengan bijaksana: Keringanan dari Allah bukan untuk disalahgunakan, tetapi untuk digunakan dengan bijaksana dan tetap menjaga adab serta perasaan orang lain.
- Menjaga perasaan orang lain: Nabi ﷺ tetap meminta izin meskipun tidak diwajibkan. Ini mengajarkan kita untuk selalu menjaga perasaan orang lain, terutama dalam hubungan keluarga.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.