Penjelasan Hadits Bukhari No. 4765 tentang Tafsir ayat pembunuhan dan tobatnya orang musyrik

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tentang turunnya ayat QS. Al-Furqan [25]: 70 sebagai jawaban atas kekhawatiran orang-orang musyrik Mekkah. Mereka merasa bahwa amalan buruk mereka (syirik, membunuh, dan zina) sudah terlalu banyak, sehingga mereka mengira tidak ada ampunan bagi mereka. Maka Allah menurunkan ayat yang memberikan kabar gembira bahwa pintu taubat terbuka lebar bagi siapa saja yang mau kembali kepada-Nya dengan iman dan amal saleh. Ini menunjukkan luasnya rahmat Allah dan bahwa taubat yang jujur dapat menghapus dosa-dosa besar, termasuk syirik dan pembunuhan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

"Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barangsiapa yang melakukan perbuatan itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosanya." (QS. Al-Furqan [25]: 68)

يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا

"Yakni akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina." (QS. Al-Furqan [25]: 69)

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

"Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Furqan [25]: 70)

Hadits:

Hadits yang diriwayatkan oleh Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab tentang firman-Nya: "Akan dilipatgandakan azabnya pada hari kiamat..." (HR. Al-Bukhari no. 4765).

Kaitan dengan Ulama:

  • Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma (sahabat Nabi yang dijuluki Tarjumanul Qur'an - penerjemah Al-Qur'an) menjelaskan konteks turunnya ayat ini.
  • Sa'id bin Jubair (murid setia Ibnu Abbas) adalah perawi yang meriwayatkan penjelasan ini.
  • Imam Al-Bukhari memuat hadits ini dalam kitab tafsirnya sebagai penjelasan ayat.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah kabar gembira bagi para pelaku dosa besar untuk segera bertaubat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan gambaran yang sangat indah tentang bagaimana Al-Qur'an turun secara bertahap untuk menjawab kebutuhan dan kekhawatiran manusia.

Konteks Turunnya Ayat:

Ketika ayat QS. Al-Furqan [25]: 68-69 turun yang menyebutkan ancaman keras bagi orang yang berbuat syirik, membunuh jiwa yang diharamkan, dan berzina, orang-orang musyrik Mekkah merasa sangat khawatir. Mereka berkata: "Kami telah berbuat syirik kepada Allah, kami telah membunuh jiwa yang diharamkan Allah, dan kami telah melakukan perbuatan keji (zina)." Mereka merasa bahwa diri mereka sudah terlalu kotor dan tidak ada harapan lagi untuk diampuni.

Maka Allah menurunkan ayat ke-70 sebagai jawaban: "Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh..." Ini menunjukkan bahwa rahmat Allah lebih luas dari dosa-dosa hamba-Nya.

Pemahaman Ulama:

  1. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai pengecualian bagi orang-orang musyrik yang ingin bertaubat. Beliau memahami bahwa taubat yang diterima adalah taubat yang disertai iman dan amal saleh.
  2. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah dalil bahwa taubat dari kesyirikan dan pembunuhan tetap diterima oleh Allah. Beliau menukil bahwa para ulama bersepakat bahwa ayat ini umum mencakup semua orang yang bertaubat dari dosa-dosa besar.
  3. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keutamaan taubat yang agung. Bahkan Allah menjanjikan akan mengganti kejahatan mereka dengan kebaikan. Ini adalah karunia yang sangat besar dari Allah.

Catatan Penting:

Perlu dipahami bahwa ayat tentang ancaman bagi pembunuh mukmin dengan sengaja (QS. An-Nisa' [4]: 93) tidak bertentangan dengan ayat taubat ini. Para ulama menjelaskan bahwa ancaman keras dalam QS. An-Nisa' tersebut berlaku bagi orang yang tidak bertaubat. Adapun jika ia bertaubat dengan taubat yang jujur, maka Allah menerima taubatnya berdasarkan keumuman firman-Nya dalam QS. Az-Zumar [39]: 53: "Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.'"

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa taubat yang diterima adalah taubat yang memenuhi syarat-syaratnya: (1) meninggalkan dosa tersebut, (2) menyesali perbuatannya, (3) bertekad untuk tidak mengulanginya, dan (4) jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka harus mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf kepada yang bersangkutan.

Story Telling

Ada kisah yang sangat terkenal tentang seorang pembunuh yang bertaubat. Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian ia bertanya tentang orang yang paling berilmu di muka bumi. Maka ditunjukkanlah kepadanya seorang rahib (ahli ibadah). Ia mendatanginya dan berkata bahwa ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, apakah taubatnya masih diterima? Rahib itu menjawab: 'Tidak.' Maka ia pun membunuh rahib itu sehingga genaplah seratus orang. Kemudian ia bertanya lagi tentang orang yang paling berilmu di muka bumi. Maka ditunjukkanlah kepadanya seorang ulama. Ia berkata bahwa ia telah membunuh seratus orang, apakah taubatnya masih diterima? Ulama itu menjawab: 'Ya, siapa yang menghalangi antara dirimu dengan taubat? Pergilah ke negeri ini dan itu, karena di sana terdapat orang-orang yang beribadah kepada Allah, maka beribadahlah bersama mereka. Dan janganlah engkau kembali ke negerimu karena itu adalah negeri yang buruk.' Maka pergilah laki-laki itu, dan ketika ia berada di tengah perjalanan, datanglah kematian kepadanya. Maka malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih tentangnya. Malaikat rahmat berkata: 'Ia datang dalam keadaan bertaubat menghadap kepada Allah.' Malaikat azab berkata: 'Ia belum pernah melakukan kebaikan sama sekali.' Maka datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka menjadikannya sebagai penengah. Malaikat itu berkata: 'Ukurlah jarak antara kedua negeri itu, ke negeri mana yang lebih dekat, maka itulah yang berhak atasnya.' Maka mereka mengukurnya dan mendapatinya lebih dekat ke negeri yang ia tuju, maka malaikat rahmat pun mencabut nyawanya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan bahwa pintu taubat tidak pernah tertutup selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Bahkan seorang pembunuh seratus orang pun bisa diampuni ketika ia benar-benar bertaubat dengan tulus.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan berputus asa dari rahmat Allah - Sebesar apa pun dosa yang kita lakukan, pintu taubat selalu terbuka selama kita masih hidup.
  2. Taubat harus disertai iman dan amal saleh - Taubat bukan sekadar ucapan, tetapi harus dibuktikan dengan perubahan perilaku dan amal kebaikan.
  3. Allah mengganti kejahatan dengan kebaikan - Ini adalah janji Allah bagi orang yang bertaubat dengan tulus, sebuah karunia yang tidak terbayangkan.
  4. Segera bertaubat sebelum ajal tiba - Jangan menunda-nunda taubat karena kita tidak tahu kapan kematian akan menjemput.
  5. Jangan menghakimi orang lain - Kita tidak tahu bagaimana akhir hidup seseorang. Yang bisa kita lakukan adalah menasihati dengan baik dan mendoakan hidayah untuk mereka.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?