Bab وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ
Shahih
haddatsani sulaymanu ibnu dawuda abu arrabii, haddatsana fulayhun, ani azzuhriyyi, an sahli ibni sadin, anna rajulan, ata rasula allahi faqala ya rasula allahi, araayta rajulan raa maa amraatihi rajulan ayaqtuluhu fataqtulunahu am kayfa yafalu faanzala allahu fihima ma dzukira fi alqurani mina attalauni, faqala lahu rasulu allahi " qad qudhiya fika wafi amraatika ". qala fatalaana, waana syahidun inda rasuli allahi fafaraqaha fakanat sunnahan an yufarraqa bayna almutalainayni wakanat hamilan, faankara hamlaha wakana abnuha yuda ilayha, tsumma jarati assunnahu fi almiratsi an yaritsaha, wataritsa minhu ma faradha allahu laha.
Telah mengabarkan kepada kami Sulaiman bin Dawud Abu al-Rabi', telah mengabarkan kepada kami Fulaih, dari Al-Zuhri, dari Sahl bin Sa'd, bahwa seorang lelaki datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, "Wahai Rasulullah, jika seorang lelaki melihat istrinya bersama seorang lelaki, apakah dia boleh membunuhnya, lalu kalian membunuhnya (yaitu si pembunuh) (dalam Qisas) atau apa yang harus dia lakukan?" Maka Allah menurunkan mengenai keduanya apa yang disebutkan dalam Al-Qur'an tentang talaq. Rasulullah ﷺ berkata kepada lelaki itu, "Masalah antara kamu dan istrimu telah diputuskan." Maka mereka melakukan talaq di hadapan Rasulullah ﷺ dan aku hadir di sana, lalu lelaki itu menceraikan istrinya. Maka menjadi tradisi untuk memisahkan antara pasangan yang terlibat dalam kasus talaq. Wanita itu sedang hamil dan suaminya mengingkari bahwa dia adalah penyebab kehamilannya, sehingga anak itu kemudian disebut sebagai anaknya. Kemudian menjadi tradisi bahwa anak semacam itu akan menjadi ahli waris ibunya, dan dia akan mewarisi darinya apa yang Allah tetapkan untuknya.