Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu akan menjadi orang pertama yang berlutut di hadapan Allah untuk mengadukan perselisihan pada Hari Kiamat. Ayat QS. Al-Hajj [22]: 19 turun berkenaan dengan dua kelompok yang saling berselisih tentang Tuhan mereka, yaitu para pahlawan Badar dari kaum Muslimin (Ali, Hamzah, dan Ubaidah) melawan tiga tokoh Quraisy kafir (Syaibah, Utbah, dan Walid). Ini menunjukkan keutamaan besar para syuhada dan sahabat yang berperang di jalan Allah, serta kepastian bahwa Allah akan menyelesaikan segala perselisihan dengan adil pada Hari Kiamat.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Hajj [22]: 19
هٰذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوْا فِيْ رَبِّهِمْ ۚ فَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِّنْ نَّارٍ ۗ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوْسِهِمُ الْحَمِيْمُ
"Ini adalah dua pihak (orang beriman dan orang kafir) yang saling berselisih tentang Tuhan mereka. Maka bagi orang-orang kafir akan dibuatkan pakaian-pakaian dari api neraka, dan ke atas kepala mereka akan disiramkan air yang mendidih."
Hadits terkait:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab firman Allah: "Ini adalah dua pihak yang saling berselisih tentang Tuhan mereka" (no. 4744), dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
Kaitan dengan ulama:
- Imam Al-Bukhari memuat hadits ini dalam kitab tafsirnya sebagai penjelasan sebab turunnya ayat tersebut.
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini turun tentang enam orang yang maju berperang satu lawan satu di Perang Badar, sebagaimana diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan dua kelompok yang berselisih tentang ketuhanan Allah—kelompok yang beriman dan kelompok yang kafir—dan Allah akan memberikan balasan yang setimpal kepada masing-masing.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:
1. Sebab Turunnya Ayat (Asbabun Nuzul)
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa Perang Badar, tepatnya saat enam orang maju berduel satu lawan satu. Dari pihak Muslimin: Ali bin Abi Thalib, Hamzah bin Abdul Muththalib, dan Ubaidah bin Al-Harits. Dari pihak kafir Quraisy: Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, dan Al-Walid bin Utbah.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Ali berkata: "Kami bertiga keluar menghadapi tiga orang dari mereka. Aku berhadapan dengan Al-Walid, Hamzah berhadapan dengan Utbah, dan Ubaidah berhadapan dengan Syaibah. Allah memudahkan kami mengalahkan mereka." Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa kaum Muslimin membela kebenaran dengan jiwa mereka.
2. Makna "Berlutut di Hadapan Allah"
Ucapan Ali bahwa ia akan menjadi orang pertama yang berlutut untuk berhujjah di hadapan Allah menunjukkan bahwa pada Hari Kiamat, manusia akan menghadap Allah dalam keadaan khusyuk dan tunduk. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah Ali akan menjadi orang pertama yang diminta untuk menyampaikan persaksian atau pembelaan dalam perselisihan yang terjadi di dunia.
3. Pelajaran tentang Keadilan Allah
Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Adil. Setiap perselisihan yang terjadi di dunia—baik antara orang beriman dan kafir, maupun antara sesama manusia—akan diselesaikan dengan keadilan mutlak pada Hari Kiamat. Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa orang-orang kafir yang memusuhi kebenaran akan mendapat azab yang pedih, sedangkan orang-orang beriman akan mendapat kenikmatan surga.
4. Keutamaan Para Sahabat yang Berperang
Hadits ini juga menunjukkan keutamaan Ali, Hamzah, dan Ubaidah radhiyallahu ‘anhum yang berani maju menghadapi tantangan duel dari tokoh-tokoh Quraisy. Keberanian mereka adalah bentuk pembelaan terhadap agama Allah yang akan menjadi saksi keimanan mereka di akhirat.
Story Telling
Dikisahkan dalam riwayat lain bahwa ketika enam orang ini maju berduel, Rasulullah ﷺ mendoakan mereka. Hamzah berhasil membunuh Utbah, Ali membunuh Al-Walid, dan Ubaidah yang terluka parah berhasil membunuh Syaibah sebelum akhirnya syahid. Ketika Ubaidah dibawa dalam keadaan terluka, beliau ditanya, "Siapa yang tersisa dari kaum musyrikin?" Beliau menjawab, "Semuanya telah terbunuh." Lalu beliau berkata, "Kalau Abu Thalib masih hidup, pasti ia akan berkata bahwa kami telah membunuh mereka semua." Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, "Benar, Ubaidah telah berkata jujur." (Diriwayatkan secara global dalam kitab-kitab sirah)
Hikmah dari kisah ini: Keberanian para sahabat dalam membela agama Allah bukanlah sekadar keberanian fisik, melainkan wujud keimanan yang mendalam. Mereka yakin bahwa kemenangan sejati adalah di sisi Allah, baik di dunia maupun di akhirat.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa Allah Maha Adil—setiap perselisihan akan diselesaikan dengan sempurna pada Hari Kiamat.
- Teladani keberanian para sahabat dalam membela kebenaran, sesuai kemampuan dan bidang masing-masing.
- Jangan takut menghadapi tantangan dalam kebaikan, karena Allah bersama orang-orang yang berjuang di jalan-Nya.
- Perbanyak amal yang menjadi saksi kebaikan kita di akhirat kelak.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.