Penjelasan Hadits Bukhari No. 4733 tentang Kisah orang kafir menantang janji Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan Khabbab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu, seorang pandai besi di Mekah, yang ditolak upahnya oleh Al-'Ashi bin Wail karena ia menolak kafir kepada Nabi Muhammad ﷺ. Al-'Ashi bin Wail lalu mengucapkan perkataan sombong bahwa jika ia dibangkitkan, ia akan diberi harta dan anak. Allah langsung menurunkan ayat Al-Qur'an (QS. Maryam [19]: 77–78) sebagai bantahan atas ucapannya. Hadits ini mengajarkan keteguhan iman, larangan sombong terhadap janji Allah, dan bahwa Al-Qur'an turun sebagai jawaban atas peristiwa nyata.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an terkait — QS. Maryam [19]: 77–78:

أَفَرَأَيْتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لَأُوتَيَنَّ مَالًا وَوَلَدًا ۞ أَطَّلَعَ الْغَيْبَ أَمِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَٰنِ عَهْدًا

Terjemahan: "Maka apakah engkau (Muhammad) melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan dia berkata, 'Aku pasti akan diberi harta dan anak?' Apakah dia mengetahui yang gaib, ataukah dia telah mengambil perjanjian dari (Allah) Yang Maha Pengasih?"

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, no. 4733, dari jalur Sufyan bin 'Uyainah (salah satu ulama dalam daftar) dari Al-A'masy, dari Abu adh-Dhuha, dari Masruq, dari Khabbab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Al-'Ashi bin Wail, dan menjelaskan makna "ath-thala'a al-ghaib" (apakah dia mengetahui yang gaib) sebagai bentuk pengingkaran atas klaim tanpa dasar.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan sebab turunnya (asbabun nuzul) ayat tersebut dan menjadi dalil bahwa Al-Qur'an diturunkan sebagai jawaban langsung atas kejadian.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (pada riwayat serupa) menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Khabbab dan keteguhan imannya.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Khabbab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat yang bekerja sebagai pandai besi di Mekah. Ia membuat pedang untuk Al-'Ashi bin Wail, seorang tokoh musyrik Quraisy yang kaya dan berpengaruh. Ketika Khabbab menagih upahnya, Al-'Ashi bin Wail tidak langsung membayar, melainkan mengajukan syarat: "Aku tidak akan memberimu sampai kamu kafir kepada Muhammad."

Khabbab menjawab dengan tegas: "Aku tidak akan kafir kepada Muhammad sampai Allah mematikanmu, kemudian menghidupkanmu kembali." Jawaban ini mengandung dua makna: (1) penolakan tegas untuk murtad, dan (2) keyakinan akan kebangkitan setelah mati.

Al-'Ashi bin Wail lalu berkata dengan sombong: "Jika Allah mematikan aku kemudian membangkitkanku, dan aku akan memiliki kekayaan dan anak." Maksudnya, ia mengklaim bahwa jika benar ada hari kebangkitan, maka ia pasti akan diberi harta dan anak di akhirat — sebuah klaim tanpa dasar dan penuh kesombongan.

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai bantahan langsung dari Allah atas ucapan Al-'Ashi bin Wail. Allah berfirman: "Apakah dia mengetahui yang gaib?" — yakni, apakah ia memiliki pengetahuan tentang hal gaib sehingga berani mengklaim apa yang akan terjadi di akhirat? Atau "ataukah dia telah mengambil perjanjian dari (Allah) Yang Maha Pengasih?" — yakni, apakah ia memiliki perjanjian yang mengikat Allah untuk memberinya harta dan anak di akhirat?

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa sebagian ayat Al-Qur'an turun karena sebab tertentu (asbabun nuzul), dan bahwa para sahabat seperti Khabbab memiliki keteguhan iman yang luar biasa meskipun menghadapi tekanan ekonomi dan sosial.

Imam an-Nawawi menekankan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Khabbab radhiyallahu 'anhu dan bahwa iman seorang mukmin tidak boleh dikorbankan demi keuntungan duniawi.

Perbedaan pendapat:

Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama daftar mengenai makna hadits ini. Mereka sepakat bahwa hadits ini menunjukkan keteguhan iman Khabbab, kesombongan Al-'Ashi bin Wail, dan turunnya ayat sebagai bantahan Allah.

Story Telling

Kisah Khabbab bin al-Arat radhiyallahu 'anhu adalah kisah nyata yang diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari. Khabbab adalah salah satu sahabat yang paling awal masuk Islam dan termasuk orang yang disiksa di Mekah karena imannya. Ia tidak memiliki kabilah yang kuat untuk melindunginya, sehingga ia sering menjadi sasaran penyiksaan kaum Quraisy.

Suatu hari, setelah membuat pedang untuk Al-'Ashi bin Wail, ia datang menagih upahnya. Al-'Ashi bin Wail, yang dikenal kaya dan sombong, menolak membayar kecuali Khabbab mau kafir kepada Nabi Muhammad ﷺ. Khabbab dengan tegas menolak. Al-'Ashi bin Wail lalu mengucapkan klaim sombongnya tentang harta dan anak di akhirat.

Allah langsung menurunkan ayat 77–78 dari Surah Maryam sebagai jawaban. Ayat ini tidak hanya membantah Al-'Ashi bin Wail, tetapi juga menjadi pelajaran bagi seluruh manusia bahwa klaim tentang akhirat tanpa dasar adalah kesombongan yang nyata.

Hikmah: Keteguhan iman Khabbab radhiyallahu 'anhu mengajarkan bahwa iman adalah harga mati yang tidak boleh ditukar dengan harta, jabatan, atau upah yang tertunda. Allah selalu membela hamba-Nya yang teguh.

Kesimpulan Praktis

  1. Teguh dalam iman: Jangan pernah mengorbankan iman demi keuntungan duniawi, sekecil apa pun.
  2. Jangan sombong: Klaim tentang akhirat tanpa dasar adalah kesombongan yang dibantah langsung oleh Allah.
  3. Al-Qur'an adalah jawaban: Allah menurunkan ayat-Nya sebagai jawaban atas peristiwa nyata, menunjukkan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk yang hidup.
  4. Bersabar dalam kesulitan: Khabbab radhiyallahu 'anhu menghadapi penolakan upah dan tekanan, tetapi ia tetap teguh.
  5. Yakin akan kebangkitan: Keyakinan akan hari akhir harus tertanam kuat dalam hati.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?