Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah penjelasan langsung dari Nabi ﷺ tentang tata cara shalat malam (qiyamul lail), yaitu dikerjakan dua rakaat-dua rakaat (salam setiap dua rakaat), dan ditutup dengan satu rakaat witir. Hadits ini juga menunjukkan bolehnya bertanya kepada ulama atau pemimpin di tengah khutbah Jumat, meskipun yang lebih utama adalah mendengarkan khutbah dengan khusyuk.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks hadits yang Anda sertakan adalah riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
"Wahai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, yaitu separuhnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari itu, dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan (tartil)." (QS. Al-Muzzammil [73]: 1-4)
Ayat ini menunjukkan perintah shalat malam, dan hadits di atas menjelaskan tata caranya.
Penjelasan Ulama:
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil utama bahwa shalat malam (tahajjud) dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, dan witir dikerjakan satu rakaat di akhir. Beliau juga menegaskan bahwa ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa faedah penting yang dijelaskan oleh para ulama:
- Tata Cara Shalat Malam: Nabi ﷺ menjawab pertanyaan seorang sahabat dengan jawaban yang singkat namun lengkap: "Matsna matsna" (dua rakaat-dua rakaat). Ini menunjukkan bahwa setiap dua rakaat diakhiri dengan salam, kemudian melanjutkan dua rakaat berikutnya, dan seterusnya. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa cara ini adalah yang paling utama dan paling sesuai dengan sunnah, karena Nabi ﷺ sendiri mengerjakannya demikian.
- Penutup dengan Witir: Sabda beliau, "Jika engkau khawatir masuk waktu Subuh, maka witirlah satu rakaat" menunjukkan bahwa witir adalah penutup shalat malam. Witir ini berfungsi untuk menggenapkan seluruh shalat yang telah dikerjakan. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "tuutiru laka ma qad shallaita" (itu menjadi witir bagimu atas apa yang telah engkau shalat) maknanya adalah shalat witir itu menjadikan seluruh shalat malam yang telah dikerjakan menjadi ganjil (witir), karena sebelumnya dikerjakan genap (dua-dua).
- Bolehnya Bertanya di Tengah Khutbah: Hadits ini juga menunjukkan bahwa seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang berkhutbah. Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah kekhususan bagi Nabi ﷺ untuk menjawab pertanyaan di tengah khutbah. Adapun bagi selain beliau, maka yang lebih utama adalah mendengarkan khutbah. Namun, jika ada keperluan yang sangat mendesak, sebagian ulama membolehkan bertanya dengan isyarat atau dengan cara yang tidak mengganggu kekhusyukan khutbah. Imam Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam "Bab Lingkaran dan Duduk di Masjid" untuk menunjukkan bahwa seorang yang masuk masjid boleh duduk di lingkaran (halaqah) ilmu atau bertanya, meskipun sedang ada khutbah.
- Keutamaan Shalat Malam: Hadits ini secara tidak langsung menunjukkan keutamaan shalat malam. Shalat malam adalah kebiasaan orang-orang shalih, dan dengan shalat malam seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah di saat manusia lain terlelap.
Story Telling
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, beliau menceritakan bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang berkhutbah. Lelaki itu bertanya tentang cara shalat malam. Ini menunjukkan semangat para sahabat dalam belajar agama. Mereka tidak malu untuk bertanya, bahkan di tengah khutbah sekalipun, karena mereka sangat bersemangat untuk memahami ajaran Nabi ﷺ.
Perhatikanlah, Nabi ﷺ tidak memarahi atau menyuruhnya diam, tetapi langsung menjawab pertanyaannya dengan penuh kelembutan. Ini adalah pelajaran bagi kita tentang adab seorang guru atau pendakwah: hendaknya menjawab pertanyaan dengan baik dan tidak merendahkan penanya, meskipun pertanyaannya datang di waktu yang kurang tepat.
Kesimpulan Praktis
- Cara Shalat Malam: Kerjakanlah shalat malam dengan cara dua rakaat-dua rakaat (salam setiap dua rakaat). Ini adalah cara yang paling utama.
- Jangan Lupa Witir: Tutuplah shalat malam dengan witir satu rakaat. Jika tidak mampu mengerjakan banyak rakaat, maka witir tetap disunnahkan.
- Semangat Belajar: Jadikanlah kisah sahabat ini sebagai motivasi untuk tidak malu bertanya tentang ilmu agama, namun tetap perhatikan adab dan waktu yang tepat.
- Adab di Masjid: Jika berada di masjid dan ada khutbah, maka dengarkanlah khutbah dengan khusyuk. Bertanyalah setelah khutbah selesai atau kepada ulama di waktu yang lebih tepat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.