Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kisah perjalanan Nabi Musa 'alaihissalam mencari Nabi Khidir 'alaihissalam untuk menuntut ilmu, sebagaimana dikisahkan dalam QS. Al-Kahf ayat 60-82. Kisah ini mengajarkan bahwa ilmu Allah itu sangat luas dan tidak ada seorang pun yang menguasai seluruhnya. Pelajaran utamanya adalah adab seorang penuntut ilmu: bersabar, merendahkan hati, dan tidak tergesa-gesa menghakimi sesuatu yang belum kita ketahui hikmahnya. Hadits ini juga menegaskan bahwa Nabi Musa yang dimaksud adalah Musa bin Imran, Rasul Bani Israil, bukan Musa yang lain.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Kahf [18]: 60
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا
"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya (Yusya' bin Nun), 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sampai aku sampai ke pertemuan dua buah lautan, atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.'"
QS. Al-Kahf [18]: 61
فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا
"Maka ketika keduanya sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengambil jalannya ke laut itu berlubang."
Hadits: Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab Tafsir QS. Al-Kahf, no. 4726, dari sahabat Ubay bin Ka'b radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan Ulama: Kisah ini dijelaskan secara panjang lebar oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim (surat Al-Kahfi), dan juga oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman. Keduanya menegaskan bahwa kisah ini shahih dan mengandung banyak pelajaran.
Penjelasan Rinci
1. Siapakah Nabi Musa yang Dimaksud?
Dalam hadits ini, ada seorang pencerita di Kufah bernama Nauf yang mengklaim bahwa Musa yang bertemu Khidir bukanlah Musa bin Imran, Rasul Bani Israil. Maka Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dengan tegas membantah: "Musuh Allah itu berdusta!"
Beliau kemudian meriwayatkan dari Ubay bin Ka'b bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Musa Rasulullah 'alaihissalam..." — ini menegaskan bahwa yang dimaksud adalah Musa bin Imran, nabi yang diutus kepada Bani Israil dan penerima kitab Taurat.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa pendapat yang benar adalah Musa tersebut adalah Musa bin Imran, berdasarkan hadits shahih ini. Adapun pendapat yang mengatakan selain itu adalah pendapat yang lemah dan keliru.
2. Pelajaran Pertama: Adab Menuntut Ilmu
Ketika Musa berkhutbah di hadapan manusia, hatinya merasa bangga karena ilmunya yang luas. Beliau menjawab "tidak ada" ketika ditanya apakah ada orang yang lebih berilmu darinya. Maka Allah menegurnya karena tidak mengembalikan ilmu kepada Allah.
Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa seorang hamba tidak boleh merasa dirinya paling berilmu, karena ilmu Allah itu tidak terbatas. Bahkan seorang nabi pun ditegur karena lupa menyandarkan ilmu kepada Allah.
3. Ilmu Khidir vs Ilmu Musa
Khidir berkata kepada Musa: "Sesungguhnya aku memiliki ilmu yang tidak layak engkau ketahui, dan engkau memiliki ilmu yang tidak layak aku ketahui."
Ini menunjukkan bahwa ilmu itu bertingkat-tingkat. Musa memiliki ilmu syariat yang diperuntukkan bagi Bani Israil, sedangkan Khidir memiliki ilmu laduni (ilmu dari sisi Allah) tentang hal-hal ghaib yang tidak termasuk dalam syariat Musa. Keduanya bukan berarti bertentangan, tetapi saling melengkapi dalam takdir Allah.
Perumpamaan Khidir dengan burung yang menciduk air laut sangat dalam maknanya: ilmu manusia dibanding ilmu Allah hanyalah setetes air dari lautan yang tak bertepi.
4. Pelajaran tentang Kesabaran
Allah menguji Musa dengan tiga peristiwa yang tampak bertentangan dengan syariat:
- Melubangi kapal milik orang-orang miskin
- Membunuh seorang anak kecil
- Menegakkan dinding yang hampir roboh tanpa mengambil upah
Dalam setiap peristiwa, Musa tidak sabar dan memprotes. Namun Khidir menjelaskan hikmah di balik semua itu:
- Kapal dilubangi untuk menyelamatkannya dari raja zalim yang merampas kapal
- Anak itu dibunuh karena kedua orang tuanya mukmin, dan dikhawatirkan anak itu akan menyeret mereka dalam kekufuran
- Dinding ditegakkan karena di bawahnya ada harta untuk dua anak yatim, dan ayahnya adalah orang shalih
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kisah ini mengajarkan bahwa ada perkara yang lahirnya buruk tetapi hakikatnya baik, dan manusia tidak selalu mampu melihat hikmah di balik takdir Allah.
5. Hikmah Besar
Syaikh As-Sa'di dalam tafsirnya menyebutkan beberapa pelajaran:
- Seorang penuntut ilmu harus bersabar dalam menuntut ilmu
- Tidak boleh tergesa-gesa menghakimi sesuatu yang belum dipahami hikmahnya
- Ilmu syariat (seperti yang dimiliki Musa) lebih utama daripada ilmu laduni (seperti yang dimiliki Khidir), karena Musa adalah nabi yang diutus dengan syariat, sedangkan Khidir hanyalah hamba shalih yang diberi ilmu khusus
- Kisah ini menunjukkan bahwa Allah memiliki hikmah dalam setiap takdir-Nya, meskipun lahirnya tampak buruk
Story Telling
Dikisahkan bahwa ketika Musa dan pembantunya Yusya' bin Nun tiba di tempat pertemuan dua laut, mereka beristirahat di dekat sebuah batu yang lembap. Ikan yang mereka bawa dalam keranjang tiba-tiba hidup kembali dan melompat ke laut, meninggalkan jejak seperti terowongan di dalam air.
Yusya' melihat kejadian itu tetapi lupa memberitahunya kepada Musa. Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga merasa sangat letih dan lapar. Barulah Yusya' teringat dan berkata: "Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk menceritakannya kecuali setan."
Musa pun berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari." Lalu keduanya kembali menyusuri jejak mereka.
Di sinilah mereka menemukan Khidir yang sedang berbaring di atas hamparan hijau di tengah laut. Musa memberi salam, dan Khidir menjawab dengan heran: "Adakah salam di negeriku? Siapa engkau?"
Musa menjawab: "Aku Musa."
Khidir bertanya: "Musa Bani Israil?"
Musa menjawab: "Ya. Aku datang untuk engkau mengajariku ilmu yang telah diajarkan kepadamu."
Khidir berkata: "Bukankah Taurat ada padamu dan wahyu turun kepadamu? Sesungguhnya aku memiliki ilmu yang tidak layak engkau ketahui, dan engkau memiliki ilmu yang tidak layak aku ketahui."
Hikmah dari kisah ini: Seorang yang berilmu tinggi pun tetap membutuhkan ilmu dari orang lain. Tidak ada seorang pun yang menguasai seluruh ilmu. Maka tawadhu' (rendah hati) adalah kunci untuk terus belajar.
Kesimpulan Praktis
- Jangan pernah merasa paling berilmu — karena ilmu Allah tidak terbatas, dan setiap orang memiliki kelebihan yang tidak kita miliki.
- Bersabarlah dalam menuntut ilmu — seperti Musa yang bersabar mengikuti Khidir, meskipun berulang kali diuji.
- Jangan tergesa-gesa menghakimi — banyak perkara yang lahirnya buruk tetapi hakikatnya baik. Serahkan hikmahnya kepada Allah.
- Ilmu syariat lebih utama — karena ilmu syariat adalah warisan para nabi, sedangkan ilmu lainnya hanyalah pemberian khusus dari Allah.
- Tawadhu' adalah kunci ilmu — orang yang merendahkan hati akan dimudahkan Allah untuk terus belajar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.