Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kisah perjalanan Nabi Musa 'alaihissalam mencari Nabi Khidir untuk menuntut ilmu. Kisah ini mengajarkan kita bahwa ilmu Allah itu sangat luas, tidak ada seorang pun yang menguasai seluruhnya, dan bahwa seorang penuntut ilmu harus bersabar, merendahkan diri, serta tidak tergesa-gesa dalam menilai sesuatu yang belum dipahami hikmahnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
Allah berfirman dalam QS. Al-Kahf [18]: 60:
وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِفَتٰىهُ لَآ اَبْرَحُ حَتّٰى اَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ اَوْ اَمْضِيَ حُقُبًا
"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sampai aku sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan terus sampai bertahun-tahun.'"
Allah juga berfirman dalam QS. Al-Kahf [18]: 78:
قَالَ هٰذَا فِرَاقُ بَيْنِيْ وَبَيْنِكَ ۚسَاُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيْلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا
"Dia (Khidir) berkata, 'Inilah perpisahan antara aku dengan engkau. Aku akan memberitahukan kepadamu penjelasan tentang apa yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya.'"
Hadits yang diriwayatkan:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab Tafsir QS. Al-Kahf: 60, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dari Ubay bin Ka'b radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda menceritakan kisah ini secara panjang lebar.
Kaitan dengan ulama:
Kisah ini dijelaskan secara panjang lebar oleh para ulama, di antaranya:
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim saat menafsirkan QS. Al-Kahf ayat 60-82, beliau membawakan hadits ini dan menjelaskan berbagai faedahnya.
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, beliau menjelaskan banyak faedah dari hadits ini, termasuk masalah siapa Musa yang dimaksud, dan pelajaran-pelajaran adab dalam menuntut ilmu.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di (Taisir Karimir Rahman) menjelaskan hikmah-hikmah dalam kisah ini.
Penjelasan Rinci
1. Siapakah Musa yang dimaksud dalam hadits ini?
Dalam hadits ini, Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dengan tegas membantah klaim Nauf Al-Bikali yang mengatakan bahwa Musa yang bertemu Khidir bukanlah Musa Bani Israil (yaitu Nabi Musa yang diutus kepada Bani Israil). Ibnu Abbas berkata: "Musuh Allah itu dusta!" Lalu beliau meriwayatkan hadits ini dari Ubay bin Ka'b yang mendengar langsung dari Nabi ﷺ. Dalam riwayat ini, Nabi ﷺ menyebutkan bahwa Musa yang berkhutbah di hadapan Bani Israil itulah yang kemudian bertemu dengan Khidir. Maka jelaslah bahwa Musa tersebut adalah Nabi Musa 'alaihissalam, utusan Allah kepada Bani Israil.
2. Pelajaran tentang ilmu dan adab menuntut ilmu
Hadits ini diawali dengan kisah Nabi Musa yang ditanya, "Siapakah manusia yang paling berilmu?" Beliau menjawab, "Aku." Allah menegur beliau karena tidak mengembalikan ilmu kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa seorang hamba tidak boleh merasa dirinya paling berilmu, karena ilmu Allah itu sangat luas. Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa teguran ini adalah teguran yang lembut karena Musa menjawab sesuai dengan apa yang dia ketahui, namun yang lebih utama adalah mengucapkan "Allahu a'lam" (Allah lebih mengetahui).
3. Perjalanan mencari ilmu membutuhkan kesabaran
Nabi Musa menempuh perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan untuk bertemu dengan Khidir. Ini menunjukkan bahwa mencari ilmu itu membutuhkan pengorbanan dan kesungguhan. Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa perjalanan Musa ini adalah contoh nyata semangat dalam menuntut ilmu, tidak merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki, dan terus berusaha menambah ilmu.
4. Adab murid kepada guru
Dalam hadits ini, Nabi Musa 'alaihissalam menunjukkan adab yang sangat baik:
- Beliau berkata dengan rendah hati: "Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu?" (QS. Al-Kahf: 66)
- Beliau berjanji akan bersabar dan tidak membantah perintah gurunya.
- Beliau meminta maaf ketika melakukan kesalahan karena lupa.
Ini adalah pelajaran bahwa seorang murid harus tawadhu' kepada gurunya, sabar terhadap cara mengajar gurunya, dan tidak tergesa-gesa memprotes sebelum memahami hikmahnya.
5. Ilmu manusia sangat sedikit dibanding ilmu Allah
Dalam hadits ini, Khidir memberikan perumpamaan yang sangat dalam: "Ilmuku dan ilmumu dibanding ilmu Allah hanyalah seperti tetesan air yang diambil burung pipit dari lautan." Ini menunjukkan betapa kecilnya ilmu manusia dibanding ilmu Allah. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ini adalah pelajaran tentang keagungan ilmu Allah dan keterbatasan manusia.
6. Hikmah di balik peristiwa yang tampak aneh
Khidir melakukan tiga hal yang tampak aneh dan bertentangan dengan syariat lahiriah:
- Melubangi perahu milik orang miskin — ternyata untuk menyelamatkannya dari raja zalim yang akan merampasnya.
- Membunuh anak kecil — ternyata anak itu akan menyesatkan kedua orang tuanya yang beriman, dan Allah akan menggantinya dengan anak yang lebih baik.
- Menegakkan dinding yang hampir roboh di desa yang tidak mau menjamu mereka — ternyata di bawahnya ada harta simpanan untuk dua anak yatim, dan ayahnya adalah orang saleh.
Ini menunjukkan bahwa Allah memiliki hikmah di balik setiap takdir-Nya, meskipun manusia tidak selalu memahami. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh As-Sa'di, kisah ini mengajarkan bahwa perkara-perkara yang tampak buruk bisa jadi memiliki hikmah yang besar yang tidak kita ketahui.
7. Nabi ﷺ berharap Musa bersabar
Di akhir hadits, Nabi ﷺ bersabda: "Seandainya Musa bersabar, niscaya Allah akan menceritakan kepada kita lebih banyak lagi tentang kisah mereka berdua." Ini menunjukkan bahwa kisah ini sangat bermanfaat dan penuh pelajaran, dan bahwa kesabaran dalam menuntut ilmu akan membuka pintu-pintu ilmu yang lebih luas.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi Musa 'alaihissalam dan muridnya Yusya' bin Nun sampai di batu tempat ikan itu hilang, mereka melihat seorang laki-laki yang sedang diselimuti kain. Musa memberi salam, dan Khidir bertanya dengan heran, "Dari mana datangnya salam di negerimu ini?" Musa menjawab, "Aku Musa." Khidir bertanya lagi, "Musa Bani Israil?" Musa menjawab, "Ya. Aku datang kepadamu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu."
Khidir berkata dengan jujur, "Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku. Wahai Musa, aku memiliki ilmu dari Allah yang Dia ajarkan kepadaku yang tidak engkau ketahui, dan engkau memiliki ilmu dari Allah yang Dia ajarkan kepadamu yang tidak aku ketahui."
Musa tetap bersikeras, "Insya Allah engkau akan mendapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentang perintahmu."
Khidir akhirnya menerima dengan syarat, "Jika engkau mengikutiku, janganlah engkau menanyakan sesuatu kepadaku sampai aku sendiri yang menjelaskannya kepadamu."
Keduanya pun berjalan menyusuri pantai. Hikmah dari kisah ini adalah bahwa setiap orang memiliki kelebihan ilmu masing-masing, dan tidak sepantasnya seseorang merendahkan ilmu orang lain. Nabi Musa adalah rasul yang mulia, namun beliau tetap rendah hati untuk belajar dari Khidir. Ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu tidak mengenal status dan kedudukan.
Kesimpulan Praktis
- Jangan pernah merasa paling berilmu — selalu kembalikan ilmu kepada Allah dan ucapkan "Allahu a'lam" ketika tidak mengetahui.
- Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu — sebagaimana Nabi Musa menempuh perjalanan jauh untuk bertemu Khidir.
- Bersabarlah dalam menuntut ilmu — jangan tergesa-gesa memprotes atau menilai cara guru mengajar sebelum memahami hikmahnya.
- Bersikap tawadhu' kepada guru — minta maaf ketika salah, dan jangan membantah tanpa dasar.
- Yakinlah bahwa setiap kejadian memiliki hikmah — meskipun tampak buruk, bisa jadi itu adalah kebaikan yang tersembunyi.
- Jangan menghakimi takdir Allah — karena Allah Maha Bijaksana dalam semua ketetapan-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.