Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 4701 tentang Setan mencuri berita langit dan dikejar meteor

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tentang bagaimana wahyu/ketetapan Allah ﷻ di langit dijaga dari gangguan setan. Ada malaikat yang mendengar ketetapan itu, lalu setan-setan mencuri pendengaran secara berlapis untuk menyampaikannya kepada dukun atau tukang tenung di bumi. Namun, Allah menjaga langit dengan meteor (syalihab) yang membakar setan-setan tersebut. Hadits ini juga mengajarkan bahwa berita dukun yang kadang benar itu hanyalah curian dari langit, lalu dicampur dengan seratus kebohongan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

QS. Saba' [34]: 23

وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ ۚ حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

"Dan syafa'at di sisi Allah tidak bermanfaat kecuali bagi orang yang telah diizinkan-Nya, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, 'Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?' Mereka menjawab, '(Perkataan) yang benar, dan Dialah Yang Maha Tinggi, Maha Besar.'"

QS. Al-Hijr [15]: 18

إِلَّا مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ مُبِينٌ

"Kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat), maka dia dikejar oleh meteor yang jelas."

QS. Ash-Shaffat [37]: 10

إِلَّا مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ

"Kecuali setan yang mencuri-curi (berita), maka ia dikejar oleh meteor yang menembus."

Hadits yang diriwayatkan:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab Firman-Nya: "Kecuali yang mencuri pendengaran, maka diikuti oleh meteor yang nyata" (QS. Al-Hijr: 18), dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bagaimana Allah menjaga langit dari gangguan setan setelah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari memberikan penjelasan rinci tentang sanad dan makna hadits ini, termasuk perbedaan qira'at pada kata "فُزِّعَ" (fuzzi'a) dan "فُزِّعَ" (fuzzi'a) yang dibaca oleh sebagian ulama.
  • Imam Al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam bab tafsir untuk menunjukkan bahwa hadits ini menjelaskan makna ayat tersebut.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa poin penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Makna "Apabila Allah menetapkan suatu urusan di langit"

Para ulama menjelaskan bahwa ini berkaitan dengan wahyu dan ketetapan Allah yang disampaikan kepada malaikat. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ketika Allah menetapkan suatu perkara, para malaikat yang berada di langit merasakan keagungan dan ketundukan yang luar biasa, sehingga mereka memukulkan sayap-sayap mereka karena takut dan khusyuk kepada Allah.

2. Pertanyaan malaikat: "Apa yang dikatakan Tuhanmu?"

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa ketika ketakutan itu hilang dari hati para malaikat, mereka bertanya kepada malaikat yang membawa wahyu (Jibril) tentang apa yang telah Allah firmankan. Ini menunjukkan bahwa para malaikat pun tidak mengetahui wahyu kecuali yang diberitahukan kepada mereka.

3. Pencurian pendengaran oleh setan

Hadits ini menjelaskan bahwa setan-setan mencuri pendengaran secara berlapis-lapis, satu di atas yang lain. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini terjadi sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, karena setelah Al-Qur'an diturunkan, langit dijaga lebih ketat dengan meteor-meteor yang membakar setan.

4. Berita yang sampai ke dukun/penyihir

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa dukun atau tukang tenung terkadang benar dalam sebagian beritanya karena mencuri dari langit, tetapi kemudian ia menambahkan seratus kebohongan. Ini menjadi peringatan agar kita tidak mempercayai dukun, meskipun kadang beritanya benar.

5. Hikmah larangan mendatangi dukun

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahaya besar mendatangi dukun dan tukang tenung, karena mereka adalah pintu masuk setan untuk menyesatkan manusia. Berita benar yang mereka sampaikan hanyalah umpan untuk membuat manusia percaya pada kebohongan mereka yang jauh lebih banyak.

Perbedaan qira'at:

Dalam hadits ini disebutkan bahwa Imam Sufyan bin 'Uyainah ragu tentang bacaan "فُزِّعَ" (dengan dhammah pada fa') atau "فُزِّعَ" (dengan kasrah pada fa'). Ibnu Hajar menjelaskan bahwa qira'at yang masyhur adalah dengan dhammah, dan ini sesuai dengan bacaan yang diriwayatkan dari para qurra' (ahli qira'at).

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seseorang yang mendatangi dukun. Beliau menjawab dengan tegas bahwa hal itu termasuk perbuatan yang diharamkan dan termasuk dosa besar. Beliau bersandar pada hadits Nabi ﷺ: "Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang tenung, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ." (HR. Ahmad, dan dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)

Kisah ini menunjukkan betapa para ulama salaf sangat tegas dalam masalah ini, karena mereka memahami bahwa berita dukun yang kadang benar itu hanyalah tipuan setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan pernah mendatangi dukun, tukang tenung, atau paranormal, meskipun kadang beritanya benar, karena kebenaran itu hanyalah umpan untuk kebohongan yang jauh lebih banyak.
  2. Pahami bahwa langit dijaga Allah dari gangguan setan, terutama setelah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, sehingga tidak ada lagi setan yang bisa mencuri berita langit secara bebas.
  3. Jadikan Al-Qur'an dan hadits sebagai satu-satunya sumber berita ghaib, bukan dari dukun atau peramal.
  4. Jika ada seseorang yang mengaku mengetahui hal ghaib, maka itu adalah kebohongan, karena Allah berfirman: "Katakanlah: 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah.'" (QS. An-Naml [27]: 65)
  5. Perbanyak memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan, karena setan tidak pernah berhenti berusaha menyesatkan manusia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.