Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 4695 tentang Tafsir ayat tentang keputusasaan para rasul dan pengikutnya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan makna firman Allah dalam QS. Yusuf [12]: 110, yaitu tentang kesabaran para rasul dan pengikut mereka dalam menghadapi ujian yang panjang. Intinya, para rasul tidak pernah berprasangka buruk kepada Allah, tetapi mereka (dan pengikutnya) sempat merasa putus asa terhadap pertolongan yang tertunda, hingga akhirnya pertolongan Allah datang. Ini adalah pelajaran tentang pentingnya kesabaran dan keyakinan bahwa pertolongan Allah pasti datang setelah kesulitan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

  1. Nama surah dan nomor ayat: QS. Yusuf [12]: 110
  2. Teks Arab (dengan harakat lengkap):

> حَتَّىٰ إِذَا اسْتَيْأَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّيَ مَنْ نَشَاءُ ۖ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ

  1. Terjemahan/makna ringkas: "Sehingga apabila para rasul merasa putus asa dan meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah pertolongan Kami kepada mereka, lalu diselamatkanlah orang-orang yang Kami kehendaki. Dan azab Kami tidak akan ditolak dari kaum yang berdosa."

Hadits Terkait:

Hadits yang Anda sebutkan adalah Shahih Al-Bukhari no. 4695, dari `Aisyah radhiyallahu 'anha. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Kitab Tafsir.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Al-Bukhari memuat hadits ini dalam kitabnya sebagai penafsiran atas ayat tersebut.
  • Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menukil riwayat ini dan menjelaskan bahwa penafsiran `Aisyah ini adalah yang paling tepat, karena para rasul tidak mungkin berprasangka buruk kepada Allah.
  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) membahas panjang lebar tentang perbedaan qira'at (bacaan) pada kata "kudzibu" dan "kadzdzabu" serta menguatkan penafsiran `Aisyah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu contoh terbaik bagaimana para sahabat, khususnya `Aisyah radhiyallahu 'anha, sangat berhati-hati dalam memahami Al-Qur'an dan tidak menafsirkannya secara serampangan.

1. Latar Belakang Pertanyaan:

`Urwah bin Az-Zubair (keponakan `Aisyah) bertanya tentang ayat ini. Ada dua kemungkinan bacaan pada kata "kudzibu":

  • Qira'ah Pertama (Kudzibu - dengan tasydid pada dzal): Artinya "mereka (para rasul) didustakan" oleh kaumnya.
  • Qira'ah Kedua (Kudzibu - tanpa tasydid): Artinya "mereka (para rasul) berdusta" atau "mereka dikhianati" (oleh Allah, dalam hal janji pertolongan). Ini adalah pemahaman yang keliru dan tidak mungkin.

2. Penjelasan `Aisyah:

`Aisyah dengan tegas menjelaskan bahwa makna yang benar adalah "mereka (para rasul) didustakan" oleh kaum mereka. Beliau menegaskan bahwa para rasul tidak pernah berprasangka buruk kepada Allah, bahwa Allah akan mengingkari janji-Nya untuk memberikan pertolongan.

3. Makna Ayat yang Sebenarnya:

Menurut `Aisyah, ayat ini berbicara tentang kondisi yang sangat sulit yang dialami para rasul dan pengikut mereka. Ujian dan cobaan berlangsung sangat lama, sehingga:

  • Para rasul merasa putus asa terhadap kaumnya yang mendustakan mereka (bukan putus asa kepada rahmat Allah).
  • Para pengikut rasul mulai berpikir bahwa rasul mereka telah berdusta (karena pertolongan yang dijanjikan tidak kunjung tiba).

Pada saat itulah, ketika ujian mencapai puncaknya dan kesabaran diuji seberat-beratnya, pertolongan Allah datang. Ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah seringkali datang di saat-saat yang paling sulit, sebagai ujian terakhir bagi kesabaran hamba-Nya.

4. Pandangan Ulama Lain:

  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa penafsiran `Aisyah ini adalah yang benar dan didukung oleh banyak ulama tafsir. Beliau juga menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang bacaan (qira'at) kata tersebut, namun makna yang sesuai dengan kesucian para nabi adalah "mereka didustakan".
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa para nabi `alaihimus salam` ma'shum (terjaga) dari dosa besar dan dari berprasangka buruk kepada Allah. Beliau juga mengutip perkataan para ulama bahwa ayat ini adalah kabar gembira bagi para pengikut kebenaran bahwa pertolongan akan datang setelah kesulitan yang panjang.

Story Telling

Ada kisah yang sangat terkenal tentang kesabaran Nabi Ya'qub `alaihis salam` yang bisa kita renungkan. Ketika putra-putranya datang membawa kabar bahwa Yusuf telah dimakan serigala, beliau tidak berputus asa dari rahmat Allah. Beliau hanya bersabar dan berkata, "Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku." (QS. Yusuf [12]: 86).

Kemudian, setelah puluhan tahun menunggu, ketika ujian mencapai puncaknya dan beliau hampir kehilangan harapan untuk bertemu Yusuf, akhirnya kabar gembira datang. Putra-putranya datang membawa baju gamis Yusuf yang diletakkan di wajahnya, dan seketika itu juga penglihatan beliau kembali pulih.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa kesabaran Nabi Ya'qub yang luar biasa panjang akhirnya berbuah manis. Pertolongan Allah datang di saat yang paling tidak terduga, sebagai balasan atas kesabaran dan keyakinannya yang tidak pernah goyah kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan pernah berprasangka buruk kepada Allah. Keyakinan kita haruslah bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya yang sabar, dan pertolongan-Nya pasti datang.
  2. Bersabarlah dalam menghadapi ujian. Ujian yang panjang adalah bagian dari sunnatullah untuk menguji keimanan dan kesabaran kita.
  3. Yakinlah bahwa pertolongan Allah dekat. Jangan pernah putus asa dari rahmat Allah, karena pertolongan-Nya seringkali datang di saat-saat yang paling sulit.
  4. Teladani kesabaran para nabi dan pengikutnya. Mereka adalah contoh terbaik dalam menghadapi cobaan dan tetap istiqamah di jalan Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.