Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan doa Nabi ﷺ agar kaum Quraisy yang menolak Islam ditimpa musim kemarau dan kelaparan selama tujuh tahun seperti yang dialami Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Doa ini dikabulkan Allah, dan dari peristiwa inilah turun ayat tentang "ad-Dukhan" (asap) dalam QS. Fathir [44]: 10. Hadits ini juga menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "asap" dalam ayat tersebut adalah musim kelaparan yang menimpa Quraisy, bukan asap yang akan muncul pada hari kiamat. Ini adalah salah satu bukti kebenaran kenabian Muhammad ﷺ dan mukjizat Al-Qur'an.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an:
QS. Ad-Dukhan [44]: 10
فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ
"Maka tunggulah (wahai Muhammad) pada hari ketika langit akan mengeluarkan asap yang jelas terlihat."
QS. Ad-Dukhan [44]: 15
إِنَّا كَاشِفُو الْعَذَابِ قَلِيلًا ۚ إِنَّكُمْ عَائِدُونَ
"Sesungguhnya (kalau) Kami akan mengangkat azab itu sedikit saja, sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar)."
2. Hadits:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab tentang firman Allah: "Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda dirinya dan menutup pintu-pintu seraya berkata: 'Marilah ke sini.'" (QS. Yusuf [12]: 23). Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.
3. Kaitan dengan Ulama:
- Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu dalil bahwa yang dimaksud dengan "ad-Dukhan" (asap) dalam QS. Ad-Dukhan adalah musim kelaparan yang menimpa kaum Quraisy, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud.
- Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) membahas hadits ini secara panjang lebar dan menyebutkan perbedaan pendapat ulama tentang makna "ad-Dukhan", namun beliau menegaskan bahwa pendapat yang kuat adalah sebagaimana yang dipahami oleh Ibnu Mas'ud dan para sahabat lainnya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:
1. Konteks Historis:
Ketika dakwah Islam di Makkah berjalan lambat dan kaum Quraisy terus menolak kebenaran, Nabi ﷺ berdoa kepada Allah agar mereka ditimpa musim kelaparan seperti yang dialami Nabi Yusuf 'alaihissalam. Ini menunjukkan bahwa doa adalah senjata orang beriman, dan Nabi ﷺ menggunakan cara ini ketika cara-cara dakwah lainnya belum membuahkan hasil.
2. Makna "Tujuh Tahun seperti Tujuh Tahun Yusuf":
Yang dimaksud adalah tujuh tahun musim kemarau dan paceklik yang dahsyat, sebagaimana yang dialami Mesir pada masa Nabi Yusuf ketika ia menafsirkan mimpi raja. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat memahami kisah Nabi Yusuf dan menjadikannya sebagai rujukan dalam doanya.
3. Makna "Asap" (ad-Dukhan):
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu menjelaskan bahwa ketika kelaparan melanda, orang-orang Quraisy sangat menderita hingga mereka melihat sesuatu seperti asap di antara mereka dan langit karena sangat lemahnya penglihatan akibat kelaparan yang berkepanjangan. Ini adalah penafsiran sahabat yang paling otoritatif karena beliau menyaksikan langsung peristiwa tersebut.
4. Perbedaan Pendapat Ulama tentang "ad-Dukhan":
Para ulama berbeda pendapat tentang makna "ad-Dukhan" dalam QS. Ad-Dukhan:
- Pendapat pertama (dari Ibnu Mas'ud, Abu Hurairah, dan lainnya): yang dimaksud adalah musim kelaparan yang menimpa Quraisy di masa Nabi ﷺ. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh hadits ini.
- Pendapat kedua (dari Ibnu Abbas dan lainnya): yang dimaksud adalah asap yang akan muncul pada hari kiamat sebagai salah satu tanda besar kiamat.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa kedua pendapat ini bisa dikompromikan: ayat tersebut turun tentang musim kelaparan, namun juga bisa menjadi isyarat tentang tanda kiamat. Namun pendapat yang paling kuat menurut konteks hadits ini adalah pendapat pertama.
5. Pelajaran tentang Kekuasaan Allah:
Hadits ini menunjukkan bahwa Allah mengabulkan doa Nabi-Nya. Kaum Quraisy yang sombong dan menolak kebenaran akhirnya merasakan azab berupa kelaparan yang sangat dahsyat hingga mereka memakan tulang dan kulit binatang.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika kelaparan melanda kaum Quraisy, mereka sangat menderita. Abu Sufyan datang menghadap Nabi ﷺ dan berkata: "Wahai Muhammad, engkau datang membawa perintah agar kami menyambung silaturahmi, dan kaummu telah binasa. Maka berdoalah kepada Allah untuk mereka." Maka Nabi ﷺ berdoa, dan Allah mengangkat azab tersebut. Namun sebagaimana firman Allah: "Sesungguhnya kamu akan kembali (kepada kekafiran)" — mereka kembali kepada kekafiran setelah azab diangkat, hingga akhirnya mereka ditimpa kekalahan di perang Badar.
Kisah ini menunjukkan betapa kerasnya hati manusia yang tidak mau mengambil pelajaran. Meskipun telah merasakan azab, mereka tetap kembali kepada kekafiran. Ini berbeda dengan orang-orang beriman yang selalu mengambil pelajaran dari setiap kejadian.
Kesimpulan Praktis
- Doa adalah senjata orang mukmin — Nabi ﷺ berdoa ketika dakwahnya menghadapi hambatan, dan kita pun hendaknya bersungguh-sungguh dalam berdoa.
- Al-Qur'an adalah mukjizat — Peristiwa yang disebutkan dalam Al-Qur'an benar-benar terjadi, dan ini menjadi bukti kebenaran wahyu.
- Ambil pelajaran dari sejarah — Kisah ini mengajarkan bahwa kezaliman dan penolakan terhadap kebenaran akan berujung pada kehancuran.
- Jangan kembali kepada kemaksiatan setelah diberi kelonggaran — Sebagaimana Quraisy yang kembali kafir setelah azab diangkat, kita pun harus istiqamah setelah Allah memberi kita kesempatan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.