Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Kitab Tafsir, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Intinya, Ibnu Mas'ud menjelaskan beberapa lafaz dalam Al-Qur'an — seperti haita laka, mats-wahu, alfaya, alfau, alfaina, dan bal 'ajibta — sesuai bacaan yang beliau terima langsung dari Nabi ﷺ. Hadits ini menunjukkan pentingnya mengikuti bacaan Al-Qur'an sebagaimana diajarkan (talaqqi), bukan berdasarkan akal atau perkiraan sendiri.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat yang menjadi pokok bahasan bab:
وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ
"Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya, dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: 'Marilah ke sini (haita laka).'"
(QS. Yusuf [12]: 23)
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Tafsir, no. 4692, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu — salah satu sahabat yang paling kuat bacaan Al-Qur'annya dan pernah dipuji langsung oleh Nabi ﷺ.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kaidah penting: bacaan Al-Qur'an itu bersifat taufiqiyyah (mengikuti ajaran Nabi ﷺ), bukan ijtihadiyyah.
- Imam Al-Bukhari sengaja meletakkan hadits ini dalam Kitab Tafsir untuk menegaskan bahwa memahami lafaz Al-Qur'an harus merujuk kepada riwayat sahabat, bukan sekadar perkiraan bahasa.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya juga menukil penjelasan Ibnu Mas'ud tentang makna haita laka sebagai seruan ajakan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini singkat, tetapi mengandung pelajaran besar. Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu menyebutkan beberapa lafaz Al-Qur'an dan menjelaskan maknanya:
- هَيْتَ لَكَ — beliau membaca sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ. Para ulama seperti Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar menjelaskan maknanya: "Marilah, aku siap untukmu" — yaitu ajakan Zulaikha kepada Yusuf 'alaihissalam.
- مَثْوَاهُ — maknanya muqamuhu (tempat tinggalnya). Ini disebutkan dalam konteks kisah Yusuf.
- أَلْفَيَا — maknanya wajada (keduanya menemukan). Berkaitan dengan kisah dua orang di surat Al-Kahfi.
- أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ — "mereka mendapati bapak-bapak mereka" (QS. Ash-Shaffat [37]: 69).
- أَلْفَيْنَا — "kami mendapati" (QS. Ash-Shaffat [37]: 69).
- بَلْ عَجِبْتَ وَيَسْخَرُونَ — Ibnu Mas'ud membacanya dengan dhamir mukhathab (عَجِبْتَ - "kamu heran"), bukan 'ajibtu ("aku heran"). Ini bacaan yang beliau terima dari Nabi ﷺ.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyimpulkan: hadits ini menjadi dalil bahwa lafaz-lafaz Al-Qur'an harus diambil dari riwayat, bukan dari logika bahasa semata. Karena itu para ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Sufyan ats-Tsauri, dan Abdullah bin al-Mubarak sangat ketat dalam menerima bacaan Al-Qur'an — harus melalui sanad yang sahih sampai kepada Nabi ﷺ.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menegaskan prinsip serupa: Al-Qur'an adalah wahyu, maka cara membacanya pun wahyu.
Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama daftar dalam hal prinsip ini. Yang berbeda hanya pada cabang bacaan (qira'at), dan itu pun tetap berdasarkan riwayat mutawatir.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling dicintai Nabi ﷺ dalam hal bacaan Al-Qur'an. Nabi ﷺ pernah bersabda: "Barangsiapa ingin membaca Al-Qur'an sebagaimana ia diturunkan, hendaklah ia membacanya seperti bacaan Ibnu Ummi Abd (Ibnu Mas'ud)." (disebutkan dalam kitab-kitab musnad dan dikutip oleh Ibnu Katsir serta Adz-Dzahabi).
Karena itu, ketika Ibnu Mas'ud berkata: "Kami membacanya sebagaimana kami diajarkan" — beliau sedang menegaskan bahwa bacaan itu bukan hasil ijtihad pribadi, melainkan warisan langsung dari Nabi ﷺ. Inilah teladan salaf: mereka menerima Al-Qur'an dengan talaqqi, menghafal, memahami, lalu mengamalkan.
Fudail bin 'Iyadh pernah berkata: "Al-Qur'an diturunkan untuk diamalkan, tetapi manusia menjadikan membacanya sebagai pekerjaan." — maksudnya, jangan hanya sibuk pada lafaz tanpa mengamalkan isinya.
Kesimpulan Praktis
- Belajar Al-Qur'an harus melalui guru yang sanadnya bersambung — bukan hanya dari buku atau terjemahan.
- Hormati bacaan yang telah diajarkan Nabi ﷺ — jangan mengubah atau "memperbaiki" bacaan berdasarkan perkiraan bahasa.
- Pahami makna lafaz yang sulit dengan merujuk kepada tafsir para ulama seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan As-Sa'di.
- Amalkan isi Al-Qur'an, bukan hanya membacanya — sebagaimana nasihat Fudail bin 'Iyadh dan Al-Hasan al-Bashri.
- Tawadhu dalam ilmu — akui bahwa kita menerima ilmu dari para ulama, bukan dari akal sendiri.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.