Penjelasan Hadits Bukhari No. 4653 tentang Keringanan Allah saat Muslim lemah dalam perang

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Allah ﷻ pada awalnya mewajibkan kaum Muslimin untuk tidak lari dari medan perang meski satu Muslim harus menghadapi sepuluh musuh. Ketika hal itu terasa sangat berat, Allah meringankan beban mereka menjadi satu Muslim menghadapi dua musuh. Ibnu Abbas رضي الله عنهما menyimpulkan bahwa ketika Allah meringankan jumlah musuh, kesabaran yang dibutuhkan pun berkurang sebanding dengan keringanan tersebut — menunjukkan bahwa pertolongan dan kewajiban selalu seimbang dengan kemampuan yang Allah berikan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Anfal [8]: 65

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِن يَكُن مِّنكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِن يَكُن مِّنكُم مِّائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِّنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَفْقَهُونَ

"Wahai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kalian, mereka akan mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar di antara kalian, mereka akan mengalahkan seribu orang kafir, karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti."

Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Anfal [8]: 66

الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا ۚ فَإِن يَكُن مِّنكُم مِّائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِن يَكُن مِّنكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

"Sekarang Allah telah meringankan beban kalian dan Dia mengetahui bahwa pada kalian ada kelemahan. Maka jika ada seratus orang yang sabar di antara kalian, mereka akan mengalahkan dua ratus orang musuh; dan jika ada seribu orang yang sabar di antara kalian, mereka akan mengalahkan dua ribu orang kafir dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar."

Hadits terkait — Shahih Al-Bukhari no. 4653

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, beliau berkata: "Ketika ayat 'Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kalian, mereka akan mengalahkan dua ratus orang' diturunkan, hal itu terasa berat bagi kaum Muslimin ketika diwajibkan bahwa seorang Muslim tidak boleh lari dari sepuluh musuh. Maka datanglah keringanan, Allah berfirman: 'Sekarang Allah telah meringankan beban kalian dan Dia mengetahui bahwa pada kalian ada kelemahan…'" — Ibnu Abbas lalu berkata: "Ketika Allah meringankan jumlah (musuh) bagi mereka, kesabaran mereka pun berkurang sebanding dengan keringanan yang diberikan."

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, dan jalur periwayatannya melalui Abdullah bin Al-Mubarak — salah satu ulama yang termasuk dalam daftar rujukan.

Penjelasan Rinci

Konteks turunnya ayat. Peristiwa ini terjadi dalam konteks Perang Badar dan persiapan jihad setelahnya. Pada awalnya, Allah ﷻ menetapkan standar yang sangat tinggi: satu Muslim yang sabar harus mampu menghadapi sepuluh musuh. Ini adalah bentuk tarbiyah (pendidikan) iman yang mengajarkan tawakal penuh kepada Allah dan kesabaran tingkat tinggi.

Makna "syāqqa dzālika 'alal muslimīn" (terasa berat bagi kaum Muslimin). Ibnu Abbas رضي الله عنهما — yang dikenal sebagai Tarjumānul Qur'ān (juru bicara Al-Qur'an) dan didoakan Nabi ﷺ agar Allah mengajarinya tafsir — menjelaskan bahwa para sahabat merasa berat bukan karena lemah iman, tetapi karena fitrah manusia yang Allah sendiri sebutkan dalam ayat keringanan: "wa 'alima anna fīkum dha'fā" (dan Dia mengetahui bahwa pada kalian ada kelemahan). Ini menunjukkan bahwa Allah Maha Mengetahui batas kemampuan hamba-Nya.

Prinsip keringanan (takhfīf) dalam syariat. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat 66 adalah bentuk rukhshah (keringanan) dari Allah setelah 'azīmah (kewajiban berat) pada ayat 65. Ini menunjukkan kaidah penting: syariat Islam dibangun di atas prinsip "lā yukallifullāhu nafsan illā wus'ahā" — Allah tidak membebani seseorang melampaui kemampuannya (QS. Al-Baqarah [2]: 286).

Perkataan Ibnu Abbas: "naqasha mina ash-shabri bi qadri mā khuffifa 'anhum". Ini adalah kalimat yang sangat dalam. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bārī menjelaskan bahwa maknanya: ketika Allah mengurangi jumlah musuh yang harus dihadapi (dari sepuluh menjadi dua), maka kadar kesabaran yang dituntut pun berkurang secara proporsional. Artinya, kewajiban syariat selalu seimbang dengan kemampuan yang Allah berikan. Ini bukan celaan, melainkan penjelasan hikmah ilahi.

Pandangan ulama tentang hukum melarikan diri dari perang. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zādul Ma'ād menjelaskan bahwa hukum tidak boleh lari dari medan perang tetap berlaku, tetapi batasannya disesuaikan: seorang Muslim wajib bertahan jika jumlah musuh tidak lebih dari dua kali lipat. Jika lebih dari itu, ada keringanan untuk mundur secara strategis (bukan lari karena takut semata).

Kaitan dengan tawakal dan sebab. Ibnul Qayyim menekankan bahwa ayat ini mengajarkan keseimbangan antara tawakal (berserah kepada Allah) dan akhdzul asbāb (mengambil sebab). Jumlah bukanlah penentu kemenangan — Allah-lah yang menentukan. Namun Allah menetapkan standar tertentu sebagai ujian kesabaran.

Story Telling

Dikisahkan bahwa ketika ayat 65 Surah Al-Anfal turun, para sahabat Nabi ﷺ merasakan beratnya tanggung jawab tersebut. Bayangkan: seorang Muslim harus berdiri teguh menghadapi sepuluh musuh tanpa boleh mundur. Ini adalah standar yang sangat tinggi.

Ibnu Abbas — sepupu Nabi ﷺ yang masih muda saat itu — meriwayatkan bagaimana atmosfer di kalangan sahabat berubah. Mereka bukan menolak perintah Allah, tetapi merasakan betapa besar beban itu. Lalu turunlah ayat 66 yang meringankan: cukup satu Muslim menghadapi dua musuh.

Yang menarik, Ibnu Abbas tidak menyebutkan ini sebagai "kelemahan iman", melainkan sebagai hikmah Allah yang mengetahui kelemahan manusia. Beliau berkata dengan jujur: "Ketika Allah meringankan jumlah musuh, kesabaran mereka pun berkurang sebanding dengan keringanan itu."

Ini mengajarkan kita adab yang luar biasa: Ibnu Abbas tidak menghakimi para sahabat yang merasa berat, tetapi memahami bahwa Allah sendiri yang menyebutkan adanya dha'f (kelemahan) pada manusia. Ini adalah bentuk rahmat Allah, bukan celaan.

Kesimpulan Praktis

  1. Syariat Islam selalu seimbang dengan kemampuan manusia. Allah tidak membebani hamba-Nya melampaui batas kemampuan mereka. Ini memberi kita ketenangan dalam beragama.
  2. Kesabaran adalah kunci kemenangan. Baik dalam perang maupun dalam kehidupan sehari-hari, kesabaran (shabr) adalah senjata utama seorang mukmin. Allah berfirman: "Wallāhu ma'a ash-shābirīn" (dan Allah beserta orang-orang yang sabar).
  3. Jangan meremehkan keringanan dari Allah. Ketika Allah memberi rukhshah (keringanan), terimalah dengan syukur. Namun jangan jadikan keringanan sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban.
  4. Seimbangkan tawakal dan usaha. Jumlah bukan penentu, tetapi Allah menetapkan standar tertentu sebagai ujian. Kita berusaha maksimal, lalu bertawakal kepada Allah.
  5. Bersikap lembut dalam menilai orang lain. Sebagaimana Ibnu Abbas tidak menghakimi para sahabat yang merasa berat, kita pun hendaknya memahami bahwa setiap orang memiliki kapasitas berbeda.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?