Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengisahkan bagaimana Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, meskipun sangat marah karena dihina oleh ‘Uyainah bin Hishn, langsung menahan amarahnya ketika diingatkan dengan firman Allah dalam QS. Al-A’raf [7]: 199. Ayat tersebut memerintahkan Nabi ﷺ (dan umatnya) untuk mengambil sikap pemaaf, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan berpaling dari orang-orang jahil. Kisah ini menunjukkan adab luhur seorang pemimpin yang tunduk kepada Al-Qur’an dan menjadi teladan dalam mengendalikan amarah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur’an:
Allah Ta’ala berfirman:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
(QS. Al-A’raf [7]: 199)
Terjemahan: “Jadilah engkau pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”
Hadits:
Hadits riwayat Shahih Al-Bukhari (no. 4642) dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Kisah ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Kitab Tafsir, Bab tafsir surat Al-A’raf ayat 199.
Kaitan dengan Ulama:
- Az-Zuhri (Muhammad bin Muslim bin Syihab) adalah perawi hadits ini dari ‘Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah.
- Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sahabat yang dikenal sebagai turjumanul Qur’an (penerjemah Al-Qur’an), meriwayatkan kejadian ini.
- Imam Al-Bukhari memuatnya dalam kitab shahihnya sebagai dalil tentang keutamaan memaafkan dan menahan amarah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memberikan pelajaran agung tentang akhlak Islam, khususnya dalam menghadapi orang yang berbuat jahil (bodoh dalam adab). Berikut penjelasan dari para ulama dalam daftar rujukan:
- Makna Ayat (QS. Al-A’raf [7]: 199)
- “Khudzil ‘afwa” (خذ العفو): Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa maknanya adalah “Ambillah sikap pemaaf dari akhlak manusia, janganlah engkau mencari-cari kesalahan mereka, dan maafkanlah orang yang berbuat zalim kepadamu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/537).
- “Wa’mur bil ‘urfi” (وأمر بالعرف): Al-‘urfi adalah segala sesuatu yang dikenal baik dalam syariat dan akal sehat. Ini mencakup perintah kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
- “Wa a’ridh ‘anil jahilin” (وأعرض عن الجاهلين): Yakni janganlah engkau membalas kebodohan mereka dengan kebodohan serupa, tetapi berpalinglah dengan lemah lembut dan jangan memperpanjang pertengkaran.
- Sikap Umar radhiyallahu ‘anhu
- Umar adalah seorang khalifah yang tegas dan pemberani. Ketika ‘Uyainah berkata kasar, beliau sangat marah dan hampir memukulnya. Namun, ketika Al-Hurr membacakan ayat ini, Umar langsung berhenti dan tidak melampaui batas. Ini menunjukkan bahwa Umar adalah “waqqafan ‘inda kitabillah” (orang yang sangat berpegang teguh pada Kitabullah). Beliau tidak mendahulukan hawa nafsu meskipun beliau memiliki kekuasaan.
- Pelajaran dari Kisah Ini
- Menahan amarah adalah akhlak mulia. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih baik bagi seorang mukmin selain menahan amarah karena Allah.” (Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam Al-Amru bil Ma’ruf).
- Tunduk kepada Al-Qur’an adalah ciri iman. Umar radhiyallahu ‘anhu tidak merasa rendah diri ketika dinasihati oleh orang yang lebih muda (Al-Hurr). Sebaliknya, beliau menerima nasihat itu dengan lapang dada.
- Orang jahil tidak boleh dibalas dengan kebodohan serupa. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, “Jika seorang jahil berkata kepadamu, maka jawablah dengan diam atau dengan kebaikan, karena membalas kebodohan hanya akan menambah keburukan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah).
Story Telling
Kisah Umar dan ‘Uyainah bin Hishn
Suatu hari, ‘Uyainah bin Hishn, seorang tokoh Badui yang terkenal keras kepala, datang ke Madinah. Ia menumpang di rumah keponakannya, Al-Hurr bin Qais, yang merupakan salah satu sahabat dekat Umar. ‘Uyainah meminta Al-Hurr untuk mengantarnya menghadap Umar.
Setelah diizinkan masuk, ‘Uyainah langsung berkata dengan nada menantang, “Wahai putra Al-Khattab! Demi Allah, engkau tidak memberi kami pemberian yang banyak dan tidak memutuskan perkara dengan adil!” Umar sangat marah. Beliau hampir saja memukul ‘Uyainah dengan tangannya sendiri.
Namun, Al-Hurr segera berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Ingatlah firman Allah kepada Nabi-Nya: ‘Jadilah engkau pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.’ Dan sesungguhnya ‘Uyainah ini termasuk orang-orang yang bodoh.”
Mendengar itu, Umar langsung diam. Beliau tidak melanjutkan amarahnya. Bahkan, beliau tersenyum dan memaafkan ‘Uyainah. Kisah ini menjadi pelajaran bahwa seorang pemimpin yang benar adalah yang tunduk kepada Al-Qur’an, bukan kepada hawa nafsu.
Kesimpulan Praktis
- Jadilah pemaaf – Jangan mudah membalas keburukan dengan keburukan.
- Perintahkan kebaikan – Ajaklah orang lain kepada akhlak yang baik dan syariat yang benar.
- Berpaling dari orang jahil – Jangan terpancing emosi oleh ucapan atau tindakan bodoh; cukup nasihati dengan baik atau diam.
- Tunduk kepada Al-Qur’an – Jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam setiap situasi, terutama saat marah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.