Penjelasan Hadits Bukhari No. 4573 tentang Larangan menikahi yatim demi harta tanpa keadilan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan sebab turunnya (asbabun nuzul) sebagian dari QS. An-Nisa' [4]: 3 tentang keadilan terhadap anak yatim. Intinya, seorang wali menikahi anak yatim perempuan yang berada dalam perwaliannya, tetapi niatnya tidak baik—ia hanya menginginkan harta dan kebun kurma (candq) milik si yatim, bukan karena cinta atau keinginan menjaga kehormatannya. Ayat ini turun untuk mengingatkan para wali agar berlaku adil, dan jika tidak mampu, maka menikahi perempuan lain yang halal. Ini adalah pelajaran besar tentang menjaga amanah dan tidak menzalimi anak yatim.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

(QS. An-Nisa' [4]: 3)

Terjemahan: "Dan jika kamu takut tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan-(perempuan) lain yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu takut tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim."

Hadits:

Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab firman Allah: "Dan jika kamu takut tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim..." (HR. Al-Bukhari no. 4573), dari sahabat 'Aisyah radhiyallahu 'anha.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Al-Bukhari (w. 256 H) memuat hadits ini dalam kitab tafsirnya sebagai penjelasan asbabun nuzul ayat tersebut.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk riwayat-riwayat lain yang memperkuat pemahaman tentang sebab turunnya ayat ini.
  • Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim juga menyebutkan riwayat ini dan menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan kekhawatiran para wali yang tidak mampu berlaku adil terhadap anak yatim perempuan yang berada di bawah perwaliannya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu riwayat tentang asbabun nuzul QS. An-Nisa' [4]: 3. Mari kita pahami konteksnya:

1. Latar Belakang Kisah

Dalam riwayat yang lebih lengkap (disebutkan oleh Imam Al-Bukhari dalam beberapa tempat dan juga oleh Imam Muslim), diceritakan bahwa 'Urwah bin Az-Zubair bertanya kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha tentang firman Allah: "Dan jika kamu takut tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim..." Maka 'Aisyah menjelaskan:

> "Wahai anak saudaraku, ayat ini turun berkenaan dengan seorang anak yatim perempuan yang berada di bawah asuhan seorang wali. Anak yatim itu memiliki harta dan kecantikan. Sang wali tidak menikahinya karena cinta, tetapi karena ingin menguasai harta dan kebun kurma (candq) miliknya. Ia memperlakukannya dengan tidak adil, tidak memberinya mahar yang layak, dan tidak memperlakukannya sebagaimana mestinya. Maka Allah menurunkan ayat ini: 'Jika kamu takut tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim, maka nikahilah perempuan-perempuan lain yang kamu senangi...' Artinya, jika seorang wali khawatir tidak bisa berbuat adil kepada anak yatim perempuan yang di bawah perwaliannya, maka janganlah ia menikahinya. Nikahilah perempuan lain yang halal baginya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Penjelasan Ulama tentang Makna Ayat

  • Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini mengandung dua pelajaran besar: pertama, larangan menzalimi anak yatim dalam hal harta dan pernikahan; kedua, izin berpoligami hingga empat istri dengan syarat mampu berlaku adil. Jika tidak mampu, maka cukup satu istri.
  • Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (w. 1376 H) dalam Tafsir-nya menjelaskan: "Ayat ini memperingatkan para wali agar tidak tamak terhadap harta anak yatim. Jika mereka khawatir tidak bisa berbuat adil kepada anak yatim perempuan yang ingin mereka nikahi—karena biasanya motifnya adalah harta, bukan menjaga kehormatan—maka hendaknya mereka menikahi perempuan lain yang halal. Dan jika mereka khawatir tidak bisa berbuat adil di antara istri-istri, maka cukuplah satu istri."
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil perkataan para ulama bahwa ayat ini turun karena kebiasaan sebagian wali di masa jahiliyah yang menikahi anak yatim perempuan di bawah asuhannya, lalu menzaliminya dengan tidak memberi mahar yang layak dan tidak memperlakukannya dengan baik. Maka Allah melarang perbuatan tersebut.

3. Pelajaran Penting dari Hadits Ini

  • Menjaga amanah: Anak yatim adalah amanah besar. Wali tidak boleh memanfaatkan posisinya untuk kepentingan pribadi, apalagi menzalimi harta dan kehormatannya.
  • Keadilan adalah syarat utama: Dalam pernikahan, keadilan adalah tiang utama. Jika tidak mampu, maka menahan diri lebih baik.
  • Niat yang benar: Menikahi seseorang karena harta, bukan karena agama dan akhlak, adalah perbuatan tercela. Nabi ﷺ bersabda: "Wanita dinikahi karena empat hal: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama, niscaya kamu beruntung." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
  • Ayat ini juga menjadi dasar bolehnya poligami dengan syarat adil, sebagaimana dipahami oleh para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in.

Story Telling

Ada kisah yang sangat menyentuh tentang keadilan seorang wali terhadap anak yatim. Diriwayatkan bahwa Sa'id bin al-Musayyib—salah seorang ulama tabi'in yang paling utama—sangat berhati-hati dalam urusan anak yatim. Beliau berkata: "Aku tidak pernah memegang harta anak yatim kecuali seperti aku memegang hartaku sendiri, bahkan lebih hati-hati lagi." Beliau juga dikenal sebagai orang yang sangat takut kepada Allah dalam urusan amanah.

Kisah lain, Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seorang wali yang menikahi anak yatim di bawah asuhannya. Beliau menjawab: "Hendaknya ia bertakwa kepada Allah dalam urusan anak yatim itu. Jika ia khawatir tidak bisa berbuat adil, maka jangan menikahinya." Ini menunjukkan bahwa para ulama sangat memahami pesan ayat ini dan menerapkannya dalam fatwa mereka.

Hikmah dari kisah-kisah ini: kehati-hatian dalam urusan anak yatim adalah tanda keimanan. Allah menjanjikan kedekatan dengan Nabi ﷺ di surga bagi orang yang mengurus anak yatim dengan baik. Nabi ﷺ bersabda: "Aku dan orang yang mengurus anak yatim akan berada di surga seperti ini," sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya yang berdekatan. (HR. Al-Bukhari)

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan menzalimi anak yatim, baik dalam harta maupun pernikahan. Ini adalah perintah langsung dari Allah.
  2. Jika ingin menikahi anak yatim di bawah perwalian, pastikan niatnya ikhlas karena Allah, bukan karena hartanya, dan pastikan mampu berlaku adil.
  3. Poligami itu boleh, tetapi dengan syarat keadilan yang ketat. Jika tidak mampu, maka satu istri lebih selamat.
  4. Jadikan keadilan sebagai prinsip hidup, terutama dalam keluarga dan harta.
  5. Perbanyak amal kebaikan kepada anak yatim, karena itu adalah amalan yang sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?