Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang sahabat Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu yang ketika turun ayat QS. Ali 'Imran [3]: 92 tentang anjuran berinfak dari harta yang paling dicintai, beliau langsung bersedekah dengan kebun kurma terbaiknya yang bernama Bairuha'. Nabi ﷺ memuji perbuatannya dan menyarankan agar kebun tersebut diberikan kepada kerabat terdekatnya, karena sedekah kepada kerabat memiliki dua pahala sekaligus: pahala sedekah dan pahala silaturahmi.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Ali 'Imran [3]: 92
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah mengetahuinya."
Hadits:
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, Bab tentang firman Allah "Lan tanalul birra..." (QS. Ali 'Imran: 92), dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Al-Bukhari memuat hadits ini dalam kitab tafsirnya untuk menjelaskan sebab turunnya ayat tersebut.
- Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan hadits ini sebagai asbabun nuzul (sebab turun) ayat QS. Ali 'Imran: 92, dan menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sedekahnya Abu Thalhah.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keutamaan berinfak dari harta yang paling dicintai, karena hal itu adalah bukti kejujuran iman dan kecintaan kepada Allah di atas kecintaan kepada harta.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Keutamaan Abu Thalhah dan Kedermawanannya
Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling banyak memiliki kebun kurma di Madinah. Ketika ayat tentang infak dari harta yang dicintai turun, beliau tidak menunda-nunda. Beliau langsung bangkit dan menemui Rasulullah ﷺ untuk menyedekahkan harta yang paling ia cintai, yaitu kebun Bairuha'.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sikap Abu Thalhah ini menunjukkan pemahaman yang mendalam terhadap Al-Qur'an. Begitu mendengar ayat tersebut, beliau langsung mengamalkannya tanpa ragu. Ini adalah contoh bagaimana para sahabat menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup yang langsung mereka respon dengan amal.
2. Makna "Bairuha'" dan Kedudukannya
Bairuha' adalah kebun kurma yang sangat istimewa. Letaknya persis di depan Masjid Nabawi, dan Rasulullah ﷺ sering memasukinya untuk minum airnya yang segar. Ini menunjukkan bahwa kebun tersebut benar-benar kebun terbaik dan paling dicintai oleh Abu Thalhah.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ketika seseorang bersedekah dengan harta yang paling dicintainya, ini menunjukkan tingkatan iman yang tinggi. Sedekah dengan harta yang biasa-biasa saja atau yang sudah tidak disukai bukanlah bukti kecintaan yang tulus kepada Allah.
3. Respon Nabi ﷺ: "Bakh! Dzalika malun raayih"
Nabi ﷺ bersabda: "Bakh! Itu adalah harta yang menguntungkan (raayih/raabih)." Kata "bakh" adalah ungkapan pujian dan kekaguman dalam bahasa Arab. Sedangkan kata "raayih" atau "raabih" berarti "yang menguntungkan" atau "yang memberikan keuntungan besar."
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memuji sedekah Abu Thalhah ini dengan pujian yang berlipat ganda, diucapkan dua kali, untuk menunjukkan betapa besar nilai amal tersebut di sisi Allah.
4. Nasihat Nabi: Sedekah kepada Kerabat
Yang menarik, Nabi ﷺ tidak memerintahkan Abu Thalhah untuk memberikan kebun itu kepada kaum muslimin yang membutuhkan secara umum, tetapi menyarankan agar diberikan kepada kerabat terdekatnya. Ini menunjukkan bahwa sedekah kepada kerabat yang membutuhkan lebih utama daripada sedekah kepada orang lain, karena ia menggabungkan dua kebaikan: sedekah dan silaturahmi.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa sedekah kepada kerabat memiliki keutamaan ganda. Beliau mengutip hadits Nabi ﷺ: "Sedekah kepada orang miskin hanyalah sedekah, tetapi sedekah kepada kerabat adalah dua hal: sedekah dan silaturahmi." (HR. At-Tirmidzi, dan dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)
5. Ketaatan Abu Thalhah
Abu Thalhah langsung menerima saran Nabi ﷺ dan membagikan kebun tersebut kepada kerabat dan sepupunya. Beliau tidak merasa keberatan atau menyesal, justru dengan senang hati melaksanakan petunjuk Nabi ﷺ.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa sikap Abu Thalhah ini menunjukkan adab yang tinggi: ketika seorang muslim memiliki harta yang ingin disedekahkan, sebaiknya ia berkonsultasi dengan orang yang lebih berilmu atau lebih bijak untuk menentukan prioritas penyalurannya, agar sedekahnya tepat sasaran dan lebih bermanfaat.
Story Telling
Dikisahkan bahwa setelah Abu Thalhah membagikan kebun Bairuha' kepada kerabatnya, ada di antara kerabatnya yang menerima bagian tersebut. Di antara mereka adalah Ubay bin Ka'ab dan Hassan bin Tsabit radhiyallahu 'anhuma. Keduanya adalah kerabat Abu Thalhah.
Yang menarik, Hassan bin Tsabit adalah seorang penyair yang sering membela Nabi ﷺ dengan syair-syairnya. Sedangkan Ubay bin Ka'ab adalah seorang ulama besar di kalangan sahabat yang sangat paham Al-Qur'an.
Ini menunjukkan bahwa sedekah Abu Thalhah tidak hanya bermanfaat bagi kerabatnya secara duniawi, tetapi juga menjadi bagian dari keberkahan yang terus mengalir. Kebun yang dulunya sering dikunjungi Nabi ﷺ untuk minum airnya, kini menjadi milik kerabat-kerabat yang juga memiliki kedudukan mulia di sisi Allah.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa sedekah kepada kerabat lebih utama, dan bahwa Abu Thalhah mendapatkan pujian dari Nabi ﷺ karena telah bersedekah dengan harta yang paling dicintainya.
Kesimpulan Praktis
- Segera beramal ketika mengetahui perintah Allah — Jangan menunda-nunda kebaikan. Abu Thalhah langsung bersedekah begitu mendengar ayat tersebut.
- Berinfak dari harta yang paling dicintai — Ini adalah bukti kejujuran iman. Semakin besar pengorbanan kita, semakin besar pula pahala yang kita harapkan.
- Utamakan sedekah kepada kerabat yang membutuhkan — Sedekah kepada kerabat memiliki dua pahala: sedekah dan silaturahmi.
- Konsultasikan penyaluran sedekah kepada orang yang lebih berilmu — Abu Thalhah bertanya kepada Nabi ﷺ, dan kita pun sebaiknya bertanya kepada ulama yang terpercaya.
- Jangan menunda kebaikan karena alasan "nanti" — Abu Thalhah tidak berkata "nanti saya pikirkan," tetapi langsung bertindak.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.