Penjelasan Hadits Bukhari No. 4528 tentang Boleh mendatangi istri dari arah mana saja

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan sebab turunnya ayat QS. Al-Baqarah [2]: 223. Orang Yahudi menyebarkan keyakinan batil bahwa mendatangi istri dari arah belakang akan melahirkan anak juling. Allah membantahnya dengan menegaskan bahwa istri adalah "ladang" bagi suami, sehingga suami bebas mendatangi istrinya dari arah mana pun, selama tetap pada tempat yang benar (kemaluan). Yang dilarang adalah mendatangi istri pada dubur, karena itu bukan "ladang" (tempat bercocok tanam/keturunan).

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Baqarah [2]: 223

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ ۚ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

"Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu dari mana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal saleh) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa kamu akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang mukmin."

Hadits terkait:

  • Hadits Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, diriwayatkan Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, no. 4528. Sanad: Abu Nu'aim (Al-Fadhl bin Dukain) ← Sufyan (ats-Tsauri) ← Muhammad bin al-Munkadir ← Jabir bin Abdullah.
  • Hadits serupa juga diriwayatkan Muslim dari Jabir, dan dari Ummu Salamah serta Ibnu Abbas, dengan redaksi yang saling menguatkan.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini sebagai dalil bantahan terhadap keyakinan Yahudi, dan menegaskan bahwa "an-nā shī'tum" (dari mana saja) bermakna arah datangnya, bukan tempat (lubang) yang dituju.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa kebebasan ini hanya berlaku pada satu tempat (farj/kemaluan), bukan pada dubur.
  • Ibn Katsir dalam Tafsir-nya menyebutkan bahwa ayat ini turun sebagai jawaban atas tuduhan Yahudi, dan menukil penafsiran Mujahid serta Qatadah bahwa maknanya adalah "dari arah depan atau belakang, selama pada kemaluan."

Penjelasan Rinci

Latar belakang turunnya ayat (asbabun nuzul):

Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu mengisahkan bahwa orang-orang Yahudi di Madinah menyebarkan anggapan bahwa jika seorang suami mendatangi istrinya dari arah belakang (yakni posisi istri membelakangi atau suami mendatanginya dari sisi belakang, namun tetap pada kemaluan), maka anak yang lahir akan juling. Anggapan ini adalah bagian dari distorsi ajaran Yahudi dan takhayul yang mereka sebarkan. Maka Allah menurunkan ayat 223 Surah Al-Baqarah sebagai bantahan.

Makna "an-nā shī'tum":

Para ulama dari daftar yang disebutkan memiliki penjelasan yang jelas:

  • Mujahid bin Jabr (tabi'in, ahli tafsir) menafsirkan "an-nā shī'tum" sebagai "dari arah mana saja, baik dari depan maupun dari belakang, selama pada kemaluan."
  • Qatadah bin Di'amah as-Sadusi menafsirkan serupa: kebebasan itu adalah pada posisi/arah, bukan pada tempat.
  • Ibn Katsir merangkum: ayat ini menunjukkan bolehnya mendatangi istri dari arah mana pun, tetapi tidak boleh pada dubur, karena dubur bukan tempat "harats" (ladang/bercocok tanam).
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil ijma' (kesepakatan) sahabat dan ulama bahwa mendatangi istri pada dubur adalah haram, dan ayat ini tidak bisa dijadikan dalil untuk membolehkannya.

Bantahan terhadap keyakinan Yahudi:

Ayat ini secara tegas membatalkan takhayul Yahudi. Allah menyebut istri sebagai "harats" (ladang), dan ladang itu adalah tempat menanam benih (keturunan). Maka yang menjadi patokan adalah tempatnya (kemaluan), bukan arah datangnya. Dengan demikian, anggapan bahwa anak akan juling karena arah tertentu adalah batil.

Adab dan hikmah:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ayat ini mengandung adab dalam hubungan suami-istri: hendaknya dilakukan dengan kasih sayang, dan suami diperintahkan "wa qaddimū li anfusikum" (kerjakan amal saleh untuk dirimu), yang oleh sebagian ulama ditafsirkan sebagai isyarat agar hubungan intim disertai niat baik, doa, dan kelembutan.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menekankan bahwa hubungan intim dalam Islam bukan sekadar syahwat, tetapi sarana memperoleh keturunan saleh dan menjaga kehormatan.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

Sebagian ulama seperti Atha' bin Abi Rabah dan Tawus bin Kaysan menafsirkan "an-nā shī'tum" secara lebih luas sebagai kebebasan posisi, namun tetap dengan kesepakatan bahwa tempatnya adalah kemaluan. Tidak ada perbedaan di antara ulama daftar bahwa dubur adalah haram. Yang paling kuat adalah pendapat jumhur: kebebasan arah, bukan kebebasan tempat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, istri Nabi ﷺ, pernah menyampaikan bahwa kaum wanita Anshar merasa keberatan dengan ayat ini pada awalnya, karena mereka menganggapnya bertentangan dengan adab mereka. Namun Nabi ﷺ menjelaskan bahwa ayat ini justru menghapus takhayul dan memberikan kemudahan, bukan untuk membuka pintu maksiat. (Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan Ibn Katsir dalam Tafsir-nya secara makna.)

Hikmahnya: Islam datang untuk membebaskan manusia dari takhayul dan khurafat, serta menetapkan batas yang jelas antara yang halal dan yang haram. Kebebasan dalam hal yang halal bukan berarti kebebasan tanpa aturan.

Kesimpulan Praktis

  1. Ayat ini membatalkan takhayul Yahudi bahwa arah tertentu dalam hubungan intim menyebabkan anak juling.
  2. Kebebasan yang diberikan adalah pada arah/posisi, bukan pada tempat. Tempat yang halal hanyalah kemaluan (farj).
  3. Mendatangi istri pada dubur adalah haram berdasarkan ijma' yang dinukil Ibnu Hajar dan penegasan Imam an-Nawawi.
  4. Hendaknya hubungan intim disertai adab: doa, kelembutan, dan niat memperoleh keturunan saleh, sebagaimana diisyaratkan dalam lanjutan ayat "wa qaddimū li anfusikum."
  5. Jauhi takhayul dan khurafat yang tidak berdasar Al-Qur'an dan Sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?