Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan sikap seorang Muslim terhadap berita atau cerita yang datang dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Kita tidak diperintahkan untuk membenarkan semua yang mereka sampaikan, juga tidak boleh mendustakannya secara mutlak. Sikap yang benar adalah beriman kepada Allah dan kitab-kitab-Nya yang asli, serta mengucapkan ayat yang diajarkan Nabi ﷺ, yaitu QS. Al-Baqarah [2]: 136. Ini adalah bentuk kehati-hatian dan menjaga kemurnian akidah Islam.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar, telah mengabarkan kepada kami Ali bin al-Mubarak, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Dahulu Ahli Kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan menafsirkannya dengan bahasa Arab kepada orang-orang Islam." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian membenarkan Ahli Kitab dan jangan pula mendustakan mereka, dan katakanlah: 'Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami' (QS. Al-Baqarah [2]: 136)." (HR. Al-Bukhari, no. 4485)
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
QS. Al-Baqarah [2]: 136
قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Artinya: "Katakanlah (hai orang-orang mukmin): 'Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.'"
Penjelasan Ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari (13/285) menjelaskan bahwa larangan dalam hadits ini bersifat umum, yaitu tidak boleh membenarkan atau mendustakan berita Ahli Kitab secara mutlak. Hal ini karena berita mereka tercampur antara yang benar dan yang palsu. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin (4/324) menegaskan bahwa larangan ini khusus untuk berita-berita yang tidak ada dalilnya dalam syariat kita, bukan untuk berita yang sudah jelas kebenaran atau kebatilannya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memberikan pedoman penting dalam bermuamalah dengan informasi dari luar Islam, khususnya dari Ahli Kitab. Berikut penjelasan rincinya:
- Latar Belakang Hadits: Pada masa Nabi ﷺ, ada sebagian sahabat yang mendengarkan penjelasan Taurat dari orang Yahudi yang diterjemahkan ke bahasa Arab. Hal ini bisa menimbulkan kebingungan atau keraguan di hati sebagian orang, karena ada cerita-cerita yang mungkin tidak sesuai dengan ajaran Islam.
- Makna Larangan: Larangan "Jangan membenarkan" berarti kita tidak boleh serta-merta mempercayai semua yang mereka sampaikan, karena kitab mereka telah mengalami perubahan (tahrif). Larangan "Jangan mendustakan" berarti kita juga tidak boleh langsung menolak semua yang mereka sampaikan, karena mungkin saja ada sisa-sisa kebenaran dari kitab asli yang belum berubah. Sikap ini diajarkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama salaf lainnya sebagai bentuk kehati-hatian (ihtiyath).
- Sikap yang Dianjurkan: Nabi ﷺ mengajarkan untuk mengucapkan ayat QS. Al-Baqarah [2]: 136. Ayat ini mengandung makna bahwa kita beriman kepada Allah dan semua kitab yang diturunkan-Nya dalam bentuk aslinya. Kita tidak perlu sibuk menyelidiki kebenaran berita mereka yang tidak ada hubungannya dengan akidah dan syariat kita. Fokus kita adalah pada Al-Qur'an dan Sunnah yang sudah jelas dan terpelihara.
- Pendapat Ulama: Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (16/215) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya mendengar berita dari Ahli Kitab, tetapi tidak boleh membenarkan atau mendustakannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Fatawa (13/365) menambahkan bahwa jika ada berita dari Ahli Kitab yang sesuai dengan syariat kita, maka kita menerimanya karena syariat, bukan karena berita mereka. Jika bertentangan, kita tolak. Jika diam (tidak ada dalil), maka kita diam dan tidak membenarkan atau mendustakan.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Pada suatu hari, Nabi ﷺ keluar dari rumahnya dan masuk ke masjid. Di dalamnya ada dua kelompok: satu kelompok membaca Al-Qur'an dan berdoa kepada Allah, dan satu kelompok lagi sedang belajar dan mengajar. Maka beliau bersabda: 'Keduanya sama-sama baik. Mereka ini membaca Al-Qur'an dan berdoa kepada Allah, jika Allah menghendaki, Dia akan memberi mereka dan jika tidak, Dia akan menahan. Dan mereka ini sedang belajar dan mengajar. Sesungguhnya aku diutus sebagai seorang pengajar.'" (HR. Ibnu Majah, no. 229, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).
Kisah ini menunjukkan bahwa kesibukan utama seorang Muslim adalah mempelajari dan mengajarkan Al-Qur'an dan Sunnah, bukan menyibukkan diri dengan cerita-cerita dari Ahli Kitab yang belum tentu benar. Para sahabat seperti Abu Hurairah dan Abdullah bin Amr sangat berhati-hati dalam menerima berita dari Ahli Kitab, sebagaimana diajarkan oleh Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Jangan Mudah Percaya: Jangan langsung percaya pada cerita atau informasi dari non-Muslim, terutama yang berkaitan dengan agama, sejarah, atau kisah para nabi, tanpa dasar yang jelas dari Al-Qur'an dan Sunnah.
- Jangan Mudah Menolak: Jangan juga langsung menolak mentah-mentah, karena mungkin ada benarnya. Lebih baik diam dan tidak membahasnya.
- Fokus pada Al-Qur'an dan Sunnah: Jadikan Al-Qur'an dan hadits shahih sebagai sumber utama ilmu dan petunjuk hidup. Inilah yang terpelihara dan dijamin kebenarannya.
- Ucapkan Ayat Tersebut: Jika dihadapkan pada situasi seperti ini, ucapkanlah QS. Al-Baqarah [2]: 136 sebagai bentuk keimanan dan pengakuan bahwa hanya apa yang diturunkan Allah kepada kita yang menjadi pedoman.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.