Penjelasan Hadits Bukhari No. 4482 tentang Allah Mahasuci dari memiliki istri atau anak

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan dua bentuk kezaliman besar manusia terhadap Allah: (1) mengingkari kemampuan Allah menghidupkan kembali manusia setelah mati, dan (2) menisbatkan Allah memiliki anak atau istri. Allah menyebut keduanya sebagai "pendustaan" dan "celaan" terhadap-Nya, padahal Allah Mahasuci dari segala kekurangan. Hadits ini menegaskan kesempurnaan tauhid dan kebesaran Allah yang tidak butuh kepada apa pun.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an terkait:

Firman Allah dalam surah Al-Baqarah:

وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۚ بَل لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ كُلٌّ لَّهُ قَانِتُونَ

"Dan mereka berkata, 'Allah mempunyai anak.' Mahasuci Dia. Bahkan milik-Nyalah apa yang ada di langit dan di bumi. Semua tunduk kepada-Nya." (QS. Al-Baqarah [2]: 116)

Dan firman Allah:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُن لَّهُ صَاحِبَةٌ ۖ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

"Dia pencipta langit dan bumi. Bagaimana mungkin Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri? Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-An'am [6]: 101)

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi ﷺ. Hadits ini termasuk hadits qudsi (firman Allah yang disampaikan Nabi ﷺ).

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan dua bentuk kekufuran: mengingkari kebangkitan (ba'ts) dan menisbatkan anak kepada Allah.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa ayat 116 Al-Baqarah turun berkaitan dengan klaim orang Yahudi (Uzair anak Allah), Nasrani (Isa anak Allah), dan musyrikin Arab (malaikat anak Allah).
  • Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa "pendustaan" di sini adalah mengingkari kekuasaan Allah untuk mengembalikan manusia seperti semula.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsat al-Lahfan menyebut hadits ini sebagai dalil agung tentang kesempurnaan Allah dan buruknya syirik.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung dua poin utama yang disebut Allah sebagai kezaliman manusia terhadap-Nya:

Pertama: Pendustaan terhadap kemampuan Allah menghidupkan kembali manusia.

Allah berfirman: "فَزَعَمَ أَنِّي لاَ أَقْدِرُ أَنْ أُعِيدَهُ كَمَا كَانَ" — "Dia mengklaim bahwa Aku tidak mampu mengembalikannya seperti semula." Ini merujuk kepada orang yang mengingkari hari kebangkitan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Qiyamah [75]: 3-4:

أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَلَّن نَّجْمَعَ عِظَامَهُ ۞ بَلَىٰ قَادِرِينَ عَلَىٰ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُ

"Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? (Bahkan) Kami mampu menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna."

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pengingkaran ini adalah bentuk pendustaan terhadap kekuasaan Allah, padahal Allah yang menciptakan pertama kali pasti mampu mengulanginya. Ibn Taymiyyah menegaskan bahwa ini termasuk kekufuran yang paling besar karena mendustakan salah satu rukun iman.

Kedua: Celaan dengan menisbatkan anak kepada Allah.

Allah berfirman: "وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّاىَ فَقَوْلُهُ لِي وَلَدٌ" — "Adapun celaannya kepada-Ku adalah ucapannya bahwa Aku memiliki anak." Ini mencakup klaim Yahudi bahwa Uzair anak Allah, Nasrani bahwa Isa anak Allah, dan musyrikin bahwa malaikat adalah anak-anak perempuan Allah.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa menisbatkan anak kepada Allah adalah celaan karena mengandung konsekuensi bahwa Allah butuh kepada istri dan keturunan, sedangkan Allah Mahakaya dan tidak butuh kepada apa pun. Ibn Qayyim menambahkan bahwa ini juga mengandung tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk), yang merupakan akar kesyirikan.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Allah berbicara dengan kalimat yang didengar Nabi ﷺ, dan bahwa "pendustaan" serta "celaan" di sini adalah bentuk kufur yang paling berat.

Perbedaan pendapat ulama daftar:

Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama yang tercantum mengenai makna hadits ini. Semuanya sepakat bahwa:

  1. Mengingkari kebangkitan adalah kekufuran.
  2. Menisbatkan anak kepada Allah adalah kekufuran dan celaan terhadap Allah.
  3. Allah Mahasuci dari segala kekurangan.

Yang paling kuat: Pendapat jumhur ulama Ahlus Sunnah bahwa kedua perkara ini adalah dosa terbesar karena menyentuh langsung kehormatan Allah dan rukun iman.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, perawi hadits ini, adalah seorang sahabat yang sangat mendalam ilmunya. Nabi ﷺ pernah mendoakannya: "Ya Allah, berilah dia pemahaman dalam agama dan ajarkanlah dia takwil (tafsir)." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Suatu ketika, seorang laki-laki datang kepada Al-Hasan al-Bashri dan bertanya tentang orang yang mengingkari kebangkitan. Al-Hasan al-Bashri menjawab: "Orang itu telah mendustakan Allah dalam firman-Nya. Allah berfirman bahwa Dia mampu mengembalikan manusia, tetapi orang itu mengatakan Allah tidak mampu. Ini adalah pendustaan yang nyata."

Fudail bin 'Iyadh pernah berkata: "Barangsiapa mencintai Allah, maka dia akan mencintai apa yang Allah cintai. Dan barangsiapa mengagungkan Allah, maka dia akan menjauhkan dari menisbatkan kepada Allah apa yang tidak layak bagi-Nya, seperti anak atau istri."

Hikmahnya: Hadits ini mengajarkan kita untuk selalu menjaga tauhid dan tidak merendahkan keagungan Allah dengan keyakinan atau ucapan yang menyerupai makhluk.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi mengingkari kebangkitan. Yakinlah bahwa Allah Mahakuasa menghidupkan kembali manusia setelah mati, sebagaimana Dia menciptakan pertama kali.
  2. Jauhi menisbatkan anak atau istri kepada Allah. Ini adalah celaan terhadap Allah dan termasuk kekufuran.
  3. Pelajari tauhid dengan benar. Pahami nama dan sifat Allah sesuai dalil Al-Qur'an dan sunnah, tanpa menyerupakan dengan makhluk.
  4. Bertaubat jika pernah terlintas keraguan. Allah Maha Pengampun bagi hamba yang kembali kepada-Nya.
  5. Sampaikan kebenaran dengan lembut. Sebagaimana Nabi ﷺ menyampaikan hadits ini dengan jelas namun penuh adab.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?