Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 446 tentang Bab Pembangunan Masjid

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan kesederhanaan Masjid Nabawi pada masa Rasulullah ﷺ yang dibangun dari tanah liat, pelepah kurma, dan batang pohon kurma. Para sahabat seperti Abu Bakar tidak mengubahnya, Umar memperluas dengan bahan yang sama, dan Utsman memperindahnya dengan batu dan kayu jati. Ini mengajarkan bahwa membangun masjid diperbolehkan asalkan tidak berlebihan dan tetap menjaga kesederhanaan serta niat ibadah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. At-Taubah [9]: 18

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Artinya: "Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk."

Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Shalat, Bab Pembangunan Masjid, no. 446, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.

Kaitan dengan Ulama:

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitab al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa membangun masjid dengan hiasan berlebihan hukumnya makruh, karena menyelisihi kesederhanaan Masjid Nabawi pada masa Nabi ﷺ. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa juga menegaskan bahwa yang terbaik adalah mengikuti kesederhanaan masjid pada masa Nabi ﷺ dan para sahabat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan gambaran sejarah pembangunan Masjid Nabawi dari masa ke masa:

  1. Pada masa Rasulullah ﷺ: Masjid dibangun dengan sangat sederhana. Dindingnya dari bata tanah liat (لبن), atapnya dari pelepah kurma (جريد), dan tiangnya dari batang pohon kurma (خشب النخل). Ini menunjukkan bahwa masjid pada awalnya bukanlah bangunan megah, melainkan tempat ibadah yang fungsional dan sederhana.
  2. Pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq: Beliau tidak menambah atau mengubah apa pun. Ini menunjukkan sikap wara' (hati-hati) dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ secara ketat. Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Bakar berkata: "Aku tidak ingin mengubah apa yang telah dilakukan Rasulullah ﷺ."
  3. Pada masa Umar bin al-Khattab: Beliau memperluas masjid karena jumlah jamaah bertambah, namun tetap mempertahankan bahan bangunan yang sama: tanah liat, pelepah kurma, dan kayu. Beliau hanya mengganti tiang-tiang yang sudah lapuk dengan kayu baru. Ini menunjukkan bahwa perluasan masjid diperbolehkan untuk kebutuhan, tetapi tetap dalam kesederhanaan.
  4. Pada masa Utsman bin Affan: Beliau melakukan renovasi besar-besaran. Dindingnya dibangun dari batu berukir dan kapur (القصة), tiangnya dari batu berukir, dan atapnya dari kayu jati (الساج). Perubahan ini dilakukan karena masjid sudah mulai rusak dan jumlah jamaah semakin banyak. Namun, sebagian ulama seperti Imam an-Nawawi mencatat bahwa ada sebagian sahabat yang tidak menyetujui hiasan berlebihan ini, meskipun Utsman melakukannya dengan niat baik.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa perbedaan ini menunjukkan fleksibilitas dalam pembangunan masjid. Yang terpenting adalah niat ikhlas dan tidak berlebihan (israf). Beliau berkata dalam Majmu' al-Fatawa (22/130): "Yang disunnahkan adalah membangun masjid dengan sederhana, tidak berlebihan dalam hiasan, karena itu lebih mendekati kekhusyukan dan lebih jauh dari riya'."

Imam asy-Syafi'i rahimahullah dalam al-Umm juga menyebutkan bahwa masjid sebaiknya dibangun dengan bahan yang kokoh namun tidak berlebihan dalam hiasan. Beliau merujuk pada praktik para sahabat yang tetap sederhana meskipun mampu membangun lebih megah.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa ketika Masjid Nabawi direnovasi pada masa Utsman, beliau menangis. Ketika ditanya, beliau menjawab: "Aku melihat Rasulullah ﷺ bersabda: 'Akan datang suatu kaum yang membangun masjid-masjid dengan megah dan berbangga-bangga dengannya, padahal mereka jarang memakmurkannya.'" (HR. Abu Dawud, no. 449, dishahihkan oleh al-Albani)

Kisah ini mengingatkan kita bahwa keindahan masjid bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah memakmurkan masjid dengan shalat, dzikir, dan ilmu. Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: "Dulu orang-orang (sahabat) ketika membangun masjid, mereka hanya ingin tempat berteduh dari panas dan hujan. Sekarang kalian membangunnya seperti istana."

Kesimpulan Praktis

  1. Membangun masjid diperbolehkan dan dianjurkan, namun hendaknya tidak berlebihan dalam hiasan dan kemegahan.
  2. Prioritaskan fungsi masjid sebagai tempat ibadah yang nyaman, bukan sebagai ajang pamer keindahan.
  3. Ikutilah kesederhanaan Masjid Nabawi pada masa Nabi ﷺ dan para sahabat.
  4. Perluasan masjid diperbolehkan jika diperlukan untuk menampung jamaah, tetapi tetap dalam batas kewajaran.
  5. Niatkan pembangunan masjid semata-mata karena Allah, bukan untuk kebanggaan duniawi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.