Bab Pembangunan Masjid
Shahih
haddatsana aliyyu ibnu abdi allahi, qala haddatsana yaqubu ibnu ibrahima ibni sadin, qala haddatsani abi, an shalihi ibni kaysana, qala haddatsana nafiun, anna abda allahi, akhbarahu anna almasjida kana ala ahdi rasuli allahi mabniyyan biallabini, wasaqfuhu aljaridu, waumuduhu khasyabu annakhli, falam yazid fihi abu bakrin syayan, wazada fihi umaru wabanahu ala ibunyanihi fi ahdi rasuli allahi biallabini waaljaridi, waaada umudahu khasyaban, tsumma ghayyarahu utsmanu, fazada fihi ziyadahan katsirahan, wabana jidarahu bialhijarahi almanqusyahi waalqasshahi, wajaala umudahu min hijarahin manqusyahin, wasaqafahu biassaji.
Dari Abdullah bin Umar: Pada masa Rasulullah ﷺ, masjid dibangun dari tanah liat, atapnya dari daun pohon kurma dan tiangnya dari batang pohon kurma. Abu Bakar tidak mengubahnya. Umar memperluasnya dengan pola yang sama seperti pada masa Rasulullah ﷺ dengan menggunakan tanah liat, daun pohon kurma dan mengganti tiangnya menjadi tiang kayu. Utsman mengubahnya dengan memperluasnya secara besar-besaran dan membangun dindingnya dengan batu yang terukir dan kapur serta menjadikan tiangnya dari batu yang terukir dan atapnya dari kayu jati.