Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan peristiwa menjelang wafatnya Nabi ﷺ, ketika beliau ingin menuliskan sesuatu agar umat tidak tersesat. Sebagian sahabat memahami bahwa itu adalah perintah, sebagian lain berpendapat bahwa sakit beliau sudah berat dan Al-Qur'an sudah cukup. Perbedaan pendapat ini membuat suasana menjadi ribut, sehingga Nabi ﷺ menyuruh mereka keluar. Ibnu Abbas رضي الله عنهما sangat menyesalkan peristiwa itu. Para ulama Ahlus Sunnah memahami hadits ini sebagai pelajaran tentang adab, bahaya perselisihan di hadapan Nabi ﷺ, dan keyakinan bahwa Al-Qur'an serta Sunnah sudah cukup sebagai petunjuk.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. An-Nisa' [4]: 59
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Terjemahan: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih baik akibatnya."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Perang, Bab Penyakit dan Kematian Nabi ﷺ, nomor 4432, dari jalur Ibnu Abbas رضي الله عنهما melalui Al-Zuhri dan Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah.
Hadits ini juga memiliki riwayat serupa dalam Shahih Muslim dari jalur yang sama, dengan tambahan redaksi yang menjelaskan perselisihan sahabat.
Kaitan dengan ulama:
- Al-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri) adalah perawi utama hadits ini, seorang tabi'in yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan panjang lebar peristiwa ini, termasuk adab-adab yang terkandung di dalamnya.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan makna perselisihan sahabat dalam peristiwa ini.
- Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan peristiwa ini dalam bab akhir kehidupan Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
Konteks peristiwa:
Peristiwa ini terjadi pada hari-hari terakhir kehidupan Nabi ﷺ, ketika beliau sedang sakit keras yang akhirnya menyebabkan wafatnya. Di rumah beliau saat itu berkumpul beberapa sahabat. Nabi ﷺ ingin menuliskan sesuatu yang beliau sebut akan menjaga umat dari kesesatan setelahnya.
Makna "aku akan menuliskan untuk kalian sesuatu":
Para ulama berbeda pendapat tentang apa yang ingin ditulis Nabi ﷺ:
- Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan beberapa pendapat: sebagian ulama mengatakan beliau ingin menuliskan tentang kepemimpinan (khilafah), sebagian mengatakan tentang pokok-pokok aqidah, dan sebagian lain mengatakan tentang wasiat umum. Namun Ibnu Hajar menegaskan bahwa yang jelas, Nabi ﷺ ingin menuliskan sesuatu yang mengandung petunjuk dan penjagaan dari kesesatan.
- Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa perintah Nabi ﷺ di sini bukanlah perintah wajib yang harus dilaksanakan, melainkan bentuk kasih sayang beliau kepada umatnya. Ini dipahami dari kenyataan bahwa beliau tidak marah secara keras, melainkan hanya menyuruh mereka berdiri/keluar.
Ucapan sebagian sahabat: "Rasulullah sedang sakit parah dan kalian memiliki Al-Qur'an":
- Ibnu Hajar menjelaskan bahwa yang mengucapkan ini adalah sebagian sahabat, dan sebagian riwayat menyebutkan bahwa yang mengucapkan adalah Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه. Namun Ibnu Hajar menegaskan bahwa ini adalah ijtihad beliau, bukan penentangan terhadap Nabi ﷺ.
- Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ucapan ini muncul dari pemahaman bahwa Al-Qur'an sudah sempurna dan mencukupi. Ini adalah ijtihad yang muncul dari kecintaan kepada Al-Qur'an, bukan dari sikap meremehkan Nabi ﷺ.
Perselisihan dan keributan:
- Al-Zuhri meriwayatkan bahwa suasana menjadi ribut dan berselisih. Ini menunjukkan bahwa perselisihan di hadapan Nabi ﷺ adalah hal yang tidak pantas, terlebih lagi dalam kondisi beliau sedang sakit berat.
- Ibnu Hajar menyebutkan bahwa keributan ini membuat Nabi ﷺ tidak jadi menulis, dan beliau menyuruh mereka keluar. Ini adalah bentuk hukuman ringan atas perselisihan mereka.
Penyesalan Ibnu Abbas:
- Ibnu Abbas رضي الله عنهما, yang meriwayatkan hadits ini, sangat menyesalkan peristiwa tersebut. Beliau menyebutnya sebagai "bencana besar" (الرزية كل الرزية) karena perselisihan dan keributan mereka menghalangi Nabi ﷺ untuk menuliskan sesuatu yang bisa menjaga umat dari kesesatan.
- Ibnu Hajar menjelaskan bahwa penyesalan Ibnu Abbas ini menunjukkan betapa besar beliau menghormati keinginan Nabi ﷺ dan betapa beliau menyadari bahwa perselisihan itu adalah kesalahan.
Pemahaman Ahlus Sunnah:
- Ibnu Taymiyyah dalam Minhajus Sunnah menjelaskan bahwa hadits ini tidak boleh dijadikan dalil untuk mencela para sahabat. Para sahabat adalah manusia yang bisa berijtihad, dan ijtihad mereka dalam peristiwa ini tidak mengurangi kedudukan mereka.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak menulis wasiat itu bukan karena beliau tidak mampu, tetapi karena Allah telah menetapkan bahwa Al-Qur'an dan Sunnah yang sudah ada adalah cukup sebagai petunjuk.
- Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran tentang pentingnya adab dalam majelis ilmu, terutama di hadapan Nabi ﷺ dan ulama.
Kesimpulan dari perbedaan pendapat:
Jumhur ulama Ahlus Sunnah berpendapat bahwa:
- Nabi ﷺ ingin menulis sesuatu yang bermanfaat, tetapi bukan wahyu baru.
- Ucapan sebagian sahabat adalah ijtihad, bukan penentangan.
- Al-Qur'an dan Sunnah sudah cukup sebagai petunjuk.
- Perselisihan di hadapan Nabi ﷺ adalah kesalahan adab yang tidak boleh ditiru.
Story Telling
Kisah Ibnu Abbas dan penyesalannya:
Ibnu Abbas رضي الله عنهما, sepupu Nabi ﷺ dan salah satu ulama terbesar di kalangan sahabat, selalu meriwayatkan peristiwa ini dengan penuh penyesalan. Beliau berkata:
"الرزية كل الرزية ما حال بين رسول الله ﷺ وبين أن يكتب لهم ذلك الكتاب لاختلافهم ولغطهم"
"Bencana yang sebenar-benarnya bencana adalah apa yang menghalangi Rasulullah ﷺ untuk menuliskan kitab itu bagi mereka, karena perselisihan dan keributan mereka."
Al-Zuhri, yang meriwayatkan hadits ini dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah, dari Ibnu Abbas, adalah salah satu tabi'in yang paling teliti dalam meriwayatkan hadits. Beliau dikenal sebagai penghimpun hadits-hadits Nabi ﷺ dan sangat berhati-hati dalam menyampaikan riwayat.
Hikmah dari kisah ini:
- Perselisihan dan keributan bisa menghalangi kebaikan yang besar.
- Adab di hadapan Nabi ﷺ dan ulama harus dijaga.
- Ijtihad sahabat tetap dihormati meskipun tidak selalu tepat.
- Al-Qur'an dan Sunnah adalah cukup sebagai petunjuk hidup.
Kesimpulan Praktis
- Jaga adab dalam majelis ilmu — terutama di hadapan guru dan ulama. Perselisihan yang tidak perlu bisa menghalangi kebaikan.
- Hormati ijtihad para sahabat — mereka adalah manusia pilihan yang bisa berijtihad, dan kita tidak boleh mencela mereka.
- Yakinlah bahwa Al-Qur'an dan Sunnah sudah cukup — keduanya adalah petunjuk yang sempurna untuk kehidupan.
- Hindari keributan dan perselisihan — terutama dalam masalah yang tidak perlu diperselisihkan.
- Ambil pelajaran dari penyesalan Ibnu Abbas — betapa besar penyesalan karena kehilangan kesempatan mendapatkan kebaikan.
- Berpegang pada pemahaman Ahlus Sunnah — yang menghormati sahabat, mengagungkan Nabi ﷺ, dan menjadikan Al-Qur'an serta Sunnah sebagai pedoman.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.